Senja Temaram di Cipayung — Bagian 16: Sebuah Nama

Must Read

Ruang tamu itu perlahan tenggelam dalam cahaya sore yang memudar. Bayangan kisi-kisi jendela menari di dinding seperti garis-garis yang membelah waktu menjadi dua: masa lalu yang tenang, dan masa depan yang belum siap dihadapi. Prabu duduk dengan tangan menggenggam lututnya, tubuh membungkuk sedikit—postur seorang lelaki yang sedang menimbang bukan hanya kata-kata, tetapi kejujuran yang bisa mengubah arah hidup.

Wina tidak memaksa, tidak tergesa. Ia duduk dengan sikap yang jarang: pasrah, tetapi tidak kalah. Ia memahami bahwa kebenaran, sering kali, bukan lahir dari tanya keras, tetapi dari diam yang memberi ruang bagi seorang lelaki untuk bernapas.

“Mas…” Wina memecah sunyi, nadanya lembut namun tegas. “Kalau memang ada seseorang… Mas nggak perlu nyembunyiin dari saya.”

Prabu tidak menjawab. Ia menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan ke meja kayu yang selama ini menjadi saksi makan malam mereka, cekcok kecil, obrolan tentang murid-murid Wina, dan ratusan hari biasa yang kini terasa rapuh.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia ingin jujur. Tapi ada ketakutan lain yang membentang di antara mereka—ketakutan bahwa sebuah nama bisa menjadi cambuk yang mematikan kedamaian rumah ini.

“Dik…” ujarnya pelan, hampir berbisik, “aku… tidak sedang mengejar siapa-siapa.”

Wina tersenyum samar, senyum seorang istri yang telah hidup cukup lama bersama suaminya untuk tahu kapan kata-kata menyembunyikan sesuatu.

“Mas,” katanya, “saya tidak bilang Mas mengejar. Tapi saya lihat… Mas berubah. Dan perubahan itu biasanya karena seseorang.”

Prabu menarik napas panjang. Ia tidak ingin berbohong. Tapi ia juga tidak siap mengguncang tembok rumah yang baru semalam terasa hangat kembali.

Nama itu berputar di kepalanya—Indriani.

Nama yang muncul bukan karena keinginan liar, bukan karena kekosongan rumah, bukan karena petualangan. Nama itu muncul karena luka yang sama yang Prabu lihat pada dirinya: kesepian, fitnah, ketidakadilan, dan keinginan untuk dipercaya sebagai manusia utuh.

Namun, mengucapkan nama itu di hadapan Wina adalah seperti menyalakan api di ruangan yang dipenuhi minyak.

“Dik… aku takut kalau aku jujur… malah menyakiti Adik,” Prabu akhirnya berkata, dengan suara berat.

Wina menatapnya dengan mata yang lelah tapi tetap hangat. “Justru karena Mas takut menyakiti saya… berarti Mas memang sedang menjaga sesuatu.”

Prabu menunduk. Sunyi kembali jatuh, kali ini lebih dalam.

“Mas…” Wina melanjutkan, “saya tidak menuntut nama itu sekarang. Tapi kalau nanti Mas siap, saya ingin Mas yang cerita duluan. Bukan saya yang dengar dari orang lain, bukan dari telepon, bukan dari gosip. Dari Mas.”

Ada jeda. Jeda panjang yang nyaris seperti doa.

“Karena kalau saya tahu dari orang lain… saya mungkin tidak akan sanggup menerimanya.”

Prabu menatap istrinya lama. Dalam tatapan itu ada dua dunia: dunia yang sudah dibangun bersama selama tiga dekade, dan dunia lain yang mulai muncul seperti cahaya redup di balik kabut.

“Aku janji, Dik,” katanya akhirnya, dengan suara rendah dan jujur. “Kalau ada… seseorang… aku akan bilang sebelum semuanya jadi besar.”

Wina mengangguk pelan. “Terima kasih, Mas.”

Tapi dalam hatinya, Wina tahu: sebuah nama sudah ada di sana. Ia belum diucapkan, belum diserahkan padanya, tapi ia ada. Diam-diam dijaga. Diam-diam menekan pintu batin Prabu.

***

Malam itu, ketika Wina sudah tidur, Prabu duduk sendirian di ruang tamu. Ia menatap layar ponsel tanpa benar-benar melihat. Foto profil Indriani di kontaknya tampak kecil, namun mampu memenuhi seluruh pikirannya.

Ia memejamkan mata dan mengusap wajahnya. “Ya Allah… jaga aku dari keputusan yang merusak. Tapi kalau Engkau bukakan jalan… tunjukkan dengan cara yang paling jujur.”

Lalu, tanpa sadar, ia berbisik nama itu dalam hati.

Indriani.

Sebuah nama yang tidak ia cari, namun hadir sendiri di antara retakan-retakan yang tidak pernah ia sadari selama tiga puluh lima tahun.

Nama yang ia jaga diam-diam.
Nama yang ia takuti untuk ucapkan.
Nama yang mungkin, Tuhan sendiri sedang persiapkan untuk menguji kemurnian hatinya.

Azan subuh dari masjid merambat lembut, seperti suara yang ditarik dari langit paling dalam. Suara itu menembus celah-celah rumah, mengalir ke dalam kamar Prabu dan Wina yang masih remang. Cahaya biru dini hari mencium dinding, menciptakan nuansa sendu yang tidak bisa disembunyikan oleh ketenangan buatan.

Prabu membuka mata perlahan. Meski tubuhnya letih, pikirannya segar—segarnya orang yang malamnya tidak benar-benar tidur. Suara azan selalu menjadi pengingat paling jernih baginya, seperti yang pernah ia tulis dalam catatan kecilnya: “Ketika dunia menjadi bising, subuh adalah peringatan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan.”

Ia duduk pelan, takut mengganggu Wina, tetapi Wina justru bergerak kecil, menandakan ia sudah terjaga sejak tadi. Ada jeda aneh sebelum akhirnya ia berucap, “Mas… nggak tidur?”

“Tidur,” jawab Prabu pelan. “Cuma nggak nyenyak.”

Jawaban itu sederhana, tetapi keduanya tahu arti sebenarnya jauh lebih rumit dari yang terucap.

Mereka salat subuh berjamaah dalam keheningan. Namun doa yang mengalir di kepala keduanya berjalan di dua jalur berbeda.

Prabu berdoa agar diberi kejernihan niat, kekuatan menjaga amanah, dan hati yang tidak condong kecuali pada kebaikan. Sementara Wina berdoa agar suaminya kembali utuh berada di rumah ini—bukan sekadar jasadnya, tetapi seluruh jiwa yang dulu pernah ia miliki.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This