Setelah salat, ketika Wina merapikan sajadah, Prabu membuka lemari bawah tempat ia menyimpan dokumen-dokumen lama. Ada sesuatu yang ia cari—ia tidak rencanakan sebelumnya, tetapi langkah itu terasa mengalir begitu saja, seperti naluri yang memanggil.
Beberapa bundel kertas dikeluarkannya dan ditumpuk di meja. Hingga matanya tertahan pada satu amplop kecokelatan yang warnanya sudah memudar: amplop dengan tulisan tangan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya sebelum Wina.
Wina menoleh. “Itu apa, Mas?”
Prabu berhenti sejenak. Ia tidak ingin menambah kekhawatiran istrinya, tetapi ia juga tidak mau berbohong. “Surat lama… dari masa sebelum kita menikah.”

Wina menelan ludah. Ada rasa getir yang langsung merayapi dadanya.
Prabu membuka surat itu perlahan. Tulisan tangan yang rapi, halus, dan penuh jeda—gaya orang yang menulis dengan hati-hati. Isinya adalah nasihat seorang guru spiritual yang dulu pernah membimbing Prabu di masa mudanya. Surat yang sudah ia lupakan, tetapi entah mengapa pagi ini terasa dipanggil kembali.
“Masih inget isinya?” tanya Wina dengan suara pelan.
Prabu menggeleng. “Sudah lupa. Tapi hari ini… entah kenapa, aku merasa surat ini perlu kubaca lagi.”
Ia menarik napas, lalu membacakan satu bagian yang membuat bulu kuduknya meremang:
“Nak Prabu, ingatlah: rumah tangga bukan hanya tentang siapa yang kau cintai, tetapi siapa yang kau rawat cintanya. Sebab cinta yang tidak dirawat akan mencari tempat lain untuk bernapas. Dan seorang lelaki, jika tidak jujur pada hatinya, akan kalah bukan oleh perempuan lain, tetapi oleh dirinya sendiri.”
Wina menutup mulut dengan tangan. Kata-kata itu seperti memantul ke dadanya.
Prabu melanjutkan, suaranya perlahan tenggelam dalam keteduhan pagi:
“Jika kelak engkau diuji antara dua rasa, pilihlah yang lebih membuatmu menjadi insan yang Allah kehendaki—bukan yang membuatmu merasa hebat, bukan yang membuatmu merasa menang, tapi yang membuatmu lebih dekat pada akhlak.”
Surat itu ditutup dengan pesan paling menohok:
“Dan jika engkau menikah, ketahuilah bahwa istrimu bukan hanya amanah; ia adalah cermin hati. Jika wajahmu tampak asing di cerminnya, maka itu bukan salah cermin tetapi salah wajah.”
Keheningan turun. Hening yang panjang, dalam, dan menusuk.
Wina duduk perlahan, kedua tangannya meremas rok tidurnya. “Mas… surat itu… seperti bicara tentang keadaan kita. Tentang… yang terjadi kemarin.”
Prabu menatap Wina. Mata istrinya tampak lelah, tapi dalam lelah itu ia melihat sesuatu yang dulu pernah ia rindukan: kejujuran tanpa lapisan.
“Dik…” Prabu berkata lembut, “aku tidak pernah niat menyakiti kamu. Bahkan memikirkan menikah lagi pun awalnya hanya teori—seperti kajian yang biasa kubaca. Bukan praktik yang benar-benar ingin kulakukan.”
“Tapi Mas berubah,” potong Wina lirih, suaranya pecah.
Prabu terdiam. Ia tidak bisa menyangkal. Bukan karena ia ingin meninggalkan rumah ini, tetapi karena pikirannya sedang berada di persimpangan batin yang rumit. Ia tidak ingin menyembunyikan, tetapi ia juga tidak ingin membuat istrinya terluka.
Wina memandang Prabu dalam-dalam, seperti ingin menemukan sesuatu yang hilang di mata suaminya.
“Mas…” bisiknya, “ada yang masuk ke hati Mas, ya? Ada seseorang… meski Mas nggak ngapa-ngapain… tapi Mas kepikiran.”
Prabu memejamkan mata. Ia tidak menyebut nama. Ia tidak perlu. Karena kejujuran kadang bukan soal apa yang diucapkan, tetapi apa yang diam-diam diakui.
Wina menahan napas, menunggu jawaban yang ia takuti.
Prabu membuka mata pelan, menatapnya dengan kejujuran yang selama ini ia simpan.
“Dik… yang masuk bukan orangnya,” ujarnya pelan. “Yang masuk… adalah rasa yang sudah lama tidak hidup di rumah ini.”
Wina menunduk, bahunya bergetar.
Prabu cepat meraih tangannya. “Aku tidak mau kehilangan kamu. Dan aku tidak mau hatiku condong tidak pada tempatnya. Itu sebabnya… aku harus jujur dulu pada diri sendiri.”
Wina akhirnya menangis—bukan keras, bukan meluap, tetapi tangis yang jatuh pelan seperti embun di ujung daun subuh.
“Mas… aku siap berubah… kalau itu bisa bikin Mas kembali.”
Prabu menarik napas panjang. “Aku pun harus berubah, Dik. Rumah ini… harus kita benahi sama-sama.”
Di luar, langit subuh mulai berubah warna—dari biru gelap menjadi ungu muda, seolah pagi sedang menyalakan kembali harapan yang hampir padam. Dan di tengah keheningan yang lembut itu, Prabu tahu satu hal: jawaban yang ia cari tidak datang dari Indriani, tidak dari godaan poligami, dan tidak dari rasa kosong yang menyerangnya semalam—tetapi dari sebuah surat lama yang mengingatkannya siapa ia sebenarnya.
Namun, sesuatu yang tidak ia sadari juga tumbuh di sudut hatinya: meski ia ingin mempertahankan rumah ini, bayangan Indriani belum sirna. Dan itu bukan perkara sederhana.
***


