Senja Temaram di Cipayung — Bagian 16: Sebuah Nama

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

WINA menghabiskan sarapannya perlahan. Pikirannya bergerak ratusan kali lebih cepat daripada gerak sendoknya. Ada denyut halus di dadanya, semacam gelombang panas dingin yang datang berselang-seling. Ia bukan perempuan yang buta akan tanda-tanda; usia pernikahan 35 tahun mengajarkannya bahwa cinta tidak hilang dalam sehari, tetapi juga tidak memburuk dalam waktu semalam. Yang terjadi pada mereka bukanlah badai, melainkan erosi—pelan, nyaris tak terdengar, tetapi nyata.

Pagi itu, ketika Prabu beranjak dari meja makan dan melangkah menuju ruang kerjanya, Wina duduk lebih lama di kursi, berusaha meredakan degup jantungnya. Ada satu pikiran yang sejak malam tadi kembali mengetuk ingatannya, sebuah kenangan yang tiba-tiba menjadi relevan. Ia teringat percakapan mereka sebelum menikah—percakapan yang saat itu terasa ringan, bahkan cenderung candaan, tetapi kini muncul kembali seperti teks hukum yang menuntut untuk dibaca ulang.

Pada suatu sore bertahun-tahun lalu, saat mereka masih muda dan banyak bercanda, Prabu pernah bertanya, “Kalau aku nanti mau poligami, pendapat kamu apa?”

Pertanyaan itu disampaikan sambil tertawa—bukan karena ia benar-benar berniat, tetapi karena ia menguji kelapangan hati gadis yang kelak menjadi istrinya. Tanpa ragu, Wina menjawab, “Boleh, asal adil.” Ia mengatakannya dengan keyakinan polos seorang perempuan muda yang belum mengenal getirnya pernikahan panjang.

Milad 117 H Muhammadiyah

Bertahun-tahun kemudian, dalam kesempatan lain yang juga tampak sepele, Prabu kembali melontarkan sesuatu yang menggelitik batas-batas ketenangan Wina. “Jangan gendut ya. Perempuan gendut itu nggak cantik. Dan kalau kamu gendut, saya bisa-bisa nikah lagi.”

Ucapannya saat itu hanya gurauan, bahkan Prabu menyampaikannya sambil memijat pundaknya atau mengacak rambutnya. Dan Wina menanggapi dengan tawa kecil yang disusul protes manja. Kalimat itu tidak pernah ia masukkan ke dalam hati. Ia tidak gendut, tidak bisa gendut, bahkan ketika ia mencobanya. Badannya tetap mungil, seakan tubuhnya tidak pernah setuju untuk berisi, sekeras apa pun ia mencoba menambah berat badan demi memenuhi standar cantik yang kadang Prabu lontarkan setengah bercanda.

Kini, seluruh potongan kenangan itu kembali muncul seperti fragmen-fragmen kaca. Bukan menyakitkan, tetapi memaksa ia melihat sesuatu yang selama ini ia sisihkan: Prabu bukan lelaki yang alergi terhadap poligami. Ia pernah menyinggungnya sebelum pernikahan. Ia pernah menyelipkannya dalam gurauan. Ia pernah berusaha mengukur batas toleransi dirinya. Dan Wina, baik sebelum menikah maupun setelah puluhan tahun hidup bersama, selalu menjawab dengan dua hal: cinta dan keyakinan bahwa ia cukup.

Tetapi kini, ketika kata “kurang” terlanjur ia ucapkan kemarin, ia sadar bahwa ia telah menghantam sesuatu yang sensitif. Ia bukan saja menyinggung usaha Prabu sebagai suami, tetapi membuka ruang yang selama ini tertutup rapat—ruang tempat seorang lelaki bertanya pada dirinya sendiri apakah ia dicintai atau sekadar diandalkan. Pertanyaan itu, Wina tahu, lebih berbahaya daripada kecemburuan.

Maka ia mulai melakukan hal yang paling menakutkan bagi seorang istri: memikirkan kemungkinan bahwa suaminya ingin, atau setidaknya membutuhkan, orang lain di sampingnya. Bukan karena ia tidak cukup cantik. Bukan karena ia tidak gendut, atau tidak mampu menambah berat badan meski membayangkan makanan berlemak pun sulit ia lakukan. Tetapi karena mungkin, di usia seperti sekarang, Prabu mencari sesuatu yang bukan lagi tubuh dan kecantikan—melainkan ruang hati yang tenang dan dipahami. Dan itu, betapapun ia berusaha, kadang sulit ia berikan tanpa tercampuri rasa takut kehilangan.

Siang itu, ketika ia melipat baju-baju di kamar sementara Prabu sibuk dengan pekerjaannya di ruang lain, Wina mengambil keputusan perlahan, dengan hati yang serupa kain tipis yang ditarik dari dua arah. Ia memikirkan ulang semua yang pernah Prabu ucapkan, memikirkan logika syariat yang sering Prabu kutip, memikirkan pandangan para ulama yang pernah diceritakan suaminya, tentang bahwa poligami adalah pilihan yang halal dan berlandaskan keadilan—meski berat, meski penuh risiko emosi, meski bukan obat bagi segala masalah. Ia memikirkan dirinya sendiri: ketakutannya, kecemasannya, kecemburuannya, dan cintanya yang kadang meledak menjadi tuntutan.

Dan akhirnya ia melihat sesuatu yang tidak ia duga: bahwa mengizinkan bukan berarti tidak cemburu; mengizinkan berarti memilih kejujuran daripada kehilangan.

Dengan suara hati yang hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri, ia berkata dalam hati: Kalau memang itu yang Mas butuhkan… aku akan izinkan. Tapi tidak tanpa syarat.

Ia menyusun syarat-syarat itu rapi dalam pikirannya. Pertama, perempuan itu tidak boleh tinggal dekat dengan mereka di Bekasi; Wina tidak ingin berbagi udara, langkah, atau jam. Kedua, perempuan itu harus mandiri, bukan perempuan yang hanya menyukai uang Prabu—Wina sudah cukup memberi contoh betapa sulitnya seumur hidup memastikan semua kebutuhan terpenuhi. Dan ketiga, perempuan itu harus tulus, berakhlak mulia, benar-benar mencintai suaminya, bukan sekadar mencari sandaran atau perlindungan.

Syarat-syarat itu muncul bukan dari ego, tetapi dari keinginan menjaga kehormatan rumah yang telah ia bangun bersama Prabu lebih dari tiga dekade.

Ia menghela napas panjang, lalu menatap pintu kamar yang tertutup. Di balik pintu itu, Prabu duduk, mungkin sedang membuka pesan dari perempuan yang namanya kini sering muncul di sela-sela pikirannya—perempuan yang Wina belum tahu siapa, tetapi bisa ia rasakan keberadaannya seperti bayangan yang bergerak di pinggiran cahaya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Wina mengakui sesuatu yang menyesakkan namun jujur: bahwa mencintai Prabu berarti juga memberi kebebasan—meski kebebasan itu menusuk dirinya sendiri.

Ia menunduk, memegang dadanya, lalu berbisik pelan, “Asal adil, Mas… asal adil. Seperti dulu aku bilang.”

Tapi kalimat itu terasa jauh lebih berat sekarang. Lebih nyata. Lebih menggetarkan.

Dan hari itu, tanpa Prabu sadari, Wina sudah berjalan jauh sekali—dari kecemasan menuju keberanian, dari rasa takut menuju sebuah keputusan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

***

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This