Senja Temaram di Cipayung — Bagian 16: Sebuah Nama

Must Read

Rumah Prabu terasa lebih lapang setelah percakapan subuh tadi, tetapi lapang itu seperti ruang yang baru disapu—masih ada debu kecil yang menempel di sudut-sudutnya.

Wina sibuk menyiapkan makan siang, menata meja dengan ketelitian yang jarang ia lakukan. Ia ingin melakukan sesuatu—apa saja—yang bisa mengembalikan kelembutan lama. Sementara Prabu duduk di ruang tengah, mencoba fokus membaca ulang catatan pekerjaannya. Namun setiap dua atau tiga baris, pikirannya melompat ke arah yang tak ia kehendaki.

Nama itu muncul lagi.

Indriani.

Milad 117 H Muhammadiyah

Tidak dengan suara keras, tidak dengan godaan manis, tetapi dengan kehadiran yang tak bisa dihapus begitu saja.

Ia menutup laptop dan menggosok wajahnya pelan. Suara di kepalanya berkata, ‘Sudah cukup, Prabu. Kamu harus kembali penuh ke rumah ini.’ Tapi suara lain yang lebih lembut, lebih jujur, bertanya, ‘Kalau sudah cukup, mengapa namanya masih berputar dalam pikiranmu?’

Ponselnya bergetar.

Satu pesan.

Dan nama di layar itu seperti menyalakan sesuatu yang sudah sejak tadi dipendam.

Indriani.

Bukan pesan panjang. Hanya satu kalimat. “Mas Prabu… maaf. Boleh bicara sebentar?”

Prabu merasakan dada kirinya menegang. Ada sensasi dingin yang merambat dari tulang selangka ke lengan. Ia meletakkan ponsel itu di meja, menatapnya lama—seolah ia sedang menatap sebuah keputusan yang bisa mengubah arah hidup.

Wina muncul dari dapur. “Mas, makan siang sebentar lagi. Mau teh hangat?”

Prabu tersentak kecil. “Iya, Dik. Boleh.”

Wina tersenyum, dan senyum itu mengandung harapan—harapan yang membuat Prabu semakin merasa bersalah.

Ia tidak membalas pesan itu. Tidak langsung.

Namun nama Indriani tetap menempel di kepala. Bukan sebagai godaan murahan, tetapi sebagai pertanyaan yang belum selesai. Fitnah yang menimpanya, kepanikan semalam, suara getarnya ketika bicara dengan Prabu… semuanya seperti fragmen yang menuntut satu kalimat terakhir, satu penjelasan yang belum sempat mereka buka bersama.

Ketika Wina kembali ke dapur, Prabu kembali menatap pesan itu. Ia berpikir tentang apa yang ia baca di surat lama subuh tadi—tentang kejujuran, tentang merawat cinta, tentang lelaki yang harus jujur pada hatinya. Dan ia menyadari sesuatu yang lebih berat dari dugaan awal: mengabaikan pesan itu bukanlah kejujuran; itu hanya menunda kebenaran.

Dengan hati yang masih bergetar, ia mengetik: “Boleh, Dik. Tapi aku hanya ingin bicara yang baik-baik.”

Indriani membalas hampir seketika, seperti ia memang sudah menunggu. “Iya, Mas… aku juga.”

Prabu menutup mata. Suara langkah Wina terdengar dari dapur, dan ia buru-buru meletakkan ponsel itu menghadap ke bawah.

Hatinya tiba-tiba seperti terbelah.

Satu sisi ingin menyudahi semuanya, memulihkan rumah, dan menghapus kesan bahwa ada ruang lain di hidupnya.

Namun sisi lain… sisi yang tidak berani ia akui sepenuhnya… ingin menyelesaikan apa yang belum selesai antara dirinya dan Indriani. Bukan untuk memulai hubungan gelap, bukan untuk mencari pengganti Wina—tetapi untuk memahami mengapa hati manusia bisa bergetar pada waktu yang paling tidak tepat.

Saat makan siang, Wina duduk di depannya, menatapnya sesekali seperti ingin memastikan Prabu benar-benar hadir. Prabu berusaha tersenyum, berusaha menjadi suami yang ia ingin tetap ia peluk dalam hidup.

Namun kehadiran sebuah nama membuatnya merasa seperti seseorang yang membangun rumah sambil menahan pintu dari angin yang datang dari luar.

Setelah mereka selesai makan, suara notifikasi ponsel pecah lagi.

Satu pesan masuk.

Dan kali ini, tidak ada nama pengirim karena pesannya berasal dari nomor tak dikenal.

“Mas Prabu… hati-hati. Indri itu bukan perempuan biasa. Saya nggak mau Mas nyesel.”

Prabu tertegun.

Jejak itu semakin jelas: seseorang sedang mengawasi, menekan, dan mendorong cerita ini ke arah yang tidak wajar. Dan justru karena itulah, nama Indriani kembali mengemuka, lebih kuat dari sebelumnya. Prabu tahu satu hal: ia tidak bisa menghindari percakapan itu lagi.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This