Oleh Miftah H Yusufpati
SIANG itu matahari Jakarta menggantung rendah, menyorotkan garis-garis cahaya ke gedung-gedung kaca di sepanjang Kuningan. Prabu baru saja menuntaskan sebuah laporan ketika ponselnya bergetar. Hidayat mengirim pesan singkat: “Bro, siap jalan? Kita ke Cisarua dulu, lanjut Cianjur.”
Prabu menutup laptop, mengambil tas, dan turun ke parkiran gedung. Mobilnya sudah panas seperti baru keluar dari tungku, namun begitulah ritme kota: tak pernah memberi jeda. Begitu Prabu datang, Hidayat langsung masuk ke kabin depan sambil mengatur napas. Ponselnya terus berbunyi, panggilan demi panggilan ia jawab setengah berbisik.
“Sudah, gas. Ntar dijelasin di jalan,” katanya sambil memasang sabuk.

Prabu menatap sahabat lamanya itu. Ada helai-helai rambut putih di pelipisnya yang dulu tidak ada. “Aku bukan memilih nafsu, Yat. Aku memilih solusi. Ulama bilang, ‘al-hajah tanzilu manzilat ad-dharurah’. Kebutuhan kuat kadang turun derajatnya seperti darurat. Dan aku… sedang berada pada kebutuhan itu.”
Hidayat mengangguk. “Kau selalu membawa dalil. Dari dulu kau begitu.”
Prabu tersenyum hambar. “Karena itu satu-satunya pelita agar aku tidak tersesat.”
Ia mengingat ucapan Francis Bacon: “Knowledge is power.”
Namun kekuatan pengetahuan sering berhadapan dengan kelemahan hati manusia.
Mobil membelah Jakarta, memasuki tol dalam kota yang berkelok seperti sungai logam, lalu meluncur ke Jagorawi. Pepohonan pinus mulai terlihat ketika mereka mendekati Ciawi. Kontras dengan beton-beton megah yang baru saja mereka tinggalkan.
Namun begitu keluar gerbang Ciawi, Hidayat tiba-tiba menunjuk ke kanan.
“Belok sini, kita ke Cikreteg dulu.”
“Lah, bukan ke Cisarua dulu tadi katanya?”
“Nanti. Kita mampir ke sini dulu.”
Cikreteg, dalam ingatan banyak orang Bogor, selalu tampak seperti sebuah wilayah yang menolak sepenuhnya menjadi kota, namun juga enggan disebut desa sepenuhnya. Secara administratif, ia memang bagian dari Kabupaten Bogor, sekaligus jalur perlintasan utama menuju Sukabumi. Karena itu, siapa pun yang menempuh jalan Ciawi–Sukabumi hampir pasti akan berpapasan dengan truk-truk besar bertuliskan Aqua, yang setiap harinya hilir-mudik mengambil air dari Ciherang. Truk-truk itu seperti denyut nadi industri yang memotong kehidupan kampung—mungkin bising, namun sudah dianggap sebagai bagian dari ritme sehari-hari.
Bagi yang belum paham di mana sesungguhnya Cikreteg berada, Hidayat selalu menggunakan patokan paling mudah: “Tahu Rancamaya? Itu, perumahan elite di pinggir Bogor? Nah, Rancamaya itu ya Cikreteg.”
Prabu sempat terperanjat ketika pertama kali mendengarnya. Membayangkan gap janggal antara rumah-rumah mewah berlapis pagar tinggi dengan perkampungan yang ia kunjungi hari itu.
Mengapa namanya berbeda? Hidayat hanya tertawa kecil. Katanya, para pemasar perumahan pasti paham bahwa nama Cikreteg kurang menjual untuk brosur yang penuh janji gaya hidup premium. Maka dipakailah nama Rancamaya. Padahal hakikat geografisnya, sama saja: kaki bukit yang sejuk, lembah yang subur, dan kampung-kampung sunyi yang tetap menyimpan denyut kehidupan yang sederhana.
Cikreteg dapat dicapai dalam sekitar satu jam dari pusat Kota Bogor. Tentu saja jika jalan tidak disumbat kemacetan yang menjadi “kebudayaan” baru kota itu.
Dekat dengan Gunung Salak dan Pangrango, Cikreteg seakan diteduhi oleh dua raksasa yang membuat udara selalu terasa bersih—sebuah kemewahan yang tak dapat dibeli warga dari perumahan mahal.
Singkatnya, Cikreteg tetaplah kampung. Kampung yang begitu kampungnya hingga kadang Google pun tak memiliki catatan lengkap tentangnya. Peta digital sering salah menunjukkan arah, seolah-olah dunia modern pun masih kesulitan memahami jalan-jalan kecil yang berliku di sini, tempat rumah-rumah panggung berdiri rapat dan suara serangga malam menjadi pengiring setia perjalanan.
Lebih dari itu, Cikreteg, begitu kata orang-orang, seperti menyimpan keunikan tersendiri yang tak mudah ditemukan di tempat lain. Orang luar sering membicarakannya dengan nada setengah heran, setengah kagum: sebuah kampung yang konon menjadi tujuan para ustaz dari berbagai daerah untuk mencari istri muda.


