Senja Temaram di Cipayung – Bagian 2: Senandung Cikreteg

Must Read

Menjelang sore, Ima menyarankan mereka makan di rumah saja. Hidayat pun meminta uang untuk berbelanja. Prabu mengeluarkan 200 ribu. Selain itu, Prabu memberi Dewi 100 ribu. “Untuk ongkos ojek,” bisiknya.

Ima meminta seseorang membeli lauk. Caca dan Dewi ke dapur membantu. Caca sempat membawa secangkir kopi. “Ngopi, Bang,” katanya sambil tersenyum. Tak lama kemudian, suara panci beradu, aroma bawang tumis menyebar pelan, membuat rumah sederhana itu terasa hangat dan hidup.

Sore hari, setelah salat ashar, Prabu dan Hidayat pamit. Sama seperti kepada Dewi, Prabu juga memberikan 100 ribu kepada Caca sebagai pengganti ojek.

Keluar dari rumah itu, Prabu menghela napas panjang. Dalam hatinya ia mengingat kalimat Nietzsche yang ia baca dulu: “Man is defined not by what he owns, but by what he seeks.”

Milad 117 H Muhammadiyah

“Perjodohan itu rezeki,” kata Hidayat sembari tertawa kecil. “Dan rezeki kadang turun lewat pintu yang tak kita duga.”

Prabu menjawab pelan, “Ali bin Abi Thalib bilang, ‘Apa yang ditakdirkan untukmu akan datang kepadamu, meski kau menghindarinya.’ Tapi aku tidak tahu apa yang sedang datang padaku kali ini.”

Dan yang Prabu cari hari itu bukanlah tubuh, bukan pula permainan cinta. Ia mencari ketenangan—dan mungkin, istri muda yang halal. Namun jalan menuju itu, ia sadar, bukan jalan yang lurus. Melainkan jalan yang penuh biaya, rasa canggung, dan perenungan panjang.

***

Sore itu Prabu dan Hidayat menembus jalan yang padat, kembali ke Jakarta. Mereka membatalkan ke Cisarua untuk jumpa Perempuan Cianjur karena hari sudah menjelang malam. 

Pada saat Prabu menyetir, di benaknya, kata-kata Quraish Shihab bergaung: pernikahan adalah fitrah, hukum, dan amanah. Namun ia juga menyadari satu hal: fitrah itu bisa tumbuh atau layu, tergantung bagaimana manusia memegangnya.

Dan dari kampung sederhana ini, tempat pernikahan sering berakhir sebelum sempat bertunas, Prabu tahu ia harus melangkah lebih hati-hati—karena yang hendak ia bangun bukan sekadar rumah tangga kedua, tetapi martabat sebuah hubungan yang ingin dipertahankan melampaui adat, kemiskinan, dan kebiasaan sosial yang sudah terlalu lama dibiarkan berjalan tanpa arah. (bersambung ke Bagian–3)

===

Baca juga: Senja Temaram di Cipayung – Bagian 3: Mahar

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This