Oleh Miftah H. Yusufpati
DUA badai kini berputar di kepala Prabu: persoalan yang belum selesai dengan Caca, dan harapan baru bernama Isma. Ia tahu keduanya tak boleh bercampur. Cinta yang belum tuntas sering kali menjadi pintu kegelapan bagi cinta berikutnya. Namun hidup tak selalu sopan. Ia sering menjahit urusan yang paling rumit dalam satu benang waktu yang kusut, dan manusia hanya bisa menariknya pelan-pelan sambil berdoa agar tidak makin serabut.
Di ruang kerjanya yang sesak oleh buku-buku tebal—deretan tafsir, Usul Fikih, psikologi keluarga, sosiologi Durkheim, dan kitab-kitab klasik ulama besar—Prabu memandangi selembar kertas yang ia tempel sendiri di samping layar komputer: “Wa ‘asyiruhunna bil ma’ruf.” Ayat itu selalu menjadi penuntun. Bahwa pernikahan bukan cuma soal cinta yang membuncah, tetapi amanah yang harus dijaga dengan adab, dengan keadilan, dan dengan kebijaksanaan yang tidak mudah dimiliki manusia.
Masalah Caca menegang seperti tarikan urat leher yang mencoba menahan amarah. Mahar delapan juta rupiah yang ia berikan sebagai tanda keseriusan, kini baru kembali dua juta melalui dua kali transfer yang tiba-tiba.

Caca menulis dengan ringan: “Saya sudah bukan istrimu. Saya sudah mengembalikan sebagian mahar.”
Prabu menatap pesan itu cukup lama. Ia tahu ada perbedaan pendapat ulama tentang status mahar pada kasus khulu’ maupun talak. Ada yang mengharuskan pengembalian penuh jika pihak istri yang mengakhiri akad tanpa alasan syar’i. Namun ia juga sadar, hukum bukan pedang yang bisa ia ayunkan sesuka hati. Ada situasi di mana martabat lebih penting daripada pembuktian menang dalam perdebatan. Maka ia memutuskan tidak membalas pesan itu lagi. Beberapa sengketa justru membuat jiwa kian kusam jika masih dipaksakan.
Malam turun pelan di Bekasi. Lampu-lampu jalan seperti barisan bintang yang jatuh ke bumi, menyala redup di antara deru kendaraan yang tak pernah lelah. Di tengah kota yang ramai, kesepian bisa terasa lebih menusuk karena tak punya tempat bersandar.
Nama Isma menghuni benak Prabu tanpa pernah diundang. Ia membuka ponsel, menanyakan kabarnya. Balasan Isma tetap sopan dan ringkas, seperti gadis yang selalu menjaga jarak aman dari dunia.
Setelah beberapa percakapan ringan, Prabu akhirnya memantapkan diri mengetikkan satu hal yang sebenarnya sudah lama hendak ia sampaikan: “Isma, bagaimana tentang rencana kita… untuk menikah?”
Titik tiga di layar ponsel berkedip. Prabu menunggu napasnya sendiri. Tak lama kemudian, pesan Isma muncul:
“Pak… Saya tak ingin buru-buru menikah. Saya harus kerja dulu. Dua adik saya masih sekolah, dan orang tua saya lagi nggak punya penghasilan. Saya belum bisa meninggalkan mereka begitu saja. Saya ingin bantu keluarga saya berdiri dulu, sebelum saya bangun keluarga baru dengan laki-laki siapa pun.”
Prabu mencoba menenangkan Isma. Ia berusaha meruntuhkan ketakutan yang mungkin menghalangi. Ia menawarkan solusi: “Setelah menikah, itu jadi tanggung jawab kita bersama. Aku bisa bantu membuka usaha kecil untuk orang tuamu. Rezeki Allah sering datang setelah ada keberanian.” Ia bahkan mengutip pesan yang pernah ia pelajari dari Ibn Qayyim: “Siapa yang bergerak menuju Allah, maka Allah akan membukakan jalan dari arah yang tak disangka-sangka.”
Namun jawaban Isma berikutnya terasa lebih dingin dari air hujan pertama yang menyentuh kulit setelah musim kemarau panjang. Ia tidak mau menikah siri. Ia masih gadis, ia ingin pernikahan yang sah dan tercatat di KUA. Ia ingin keluarganya menyaksikan walaupun hanya sederhana. Ia tidak ingin menjadi istri dalam sunyi, sementara dunia menganggapnya masih lajang.
Prabu terdiam. Kata-kata Isma begitu benar. Sangat wajar. Justru karena itu terasa menyakitkan. Cinta itu seperti gelas air yang sudah dekat di bibirnya, tetapi sebelum ia sempat menyesap, seseorang menariknya menjauh. Manusiawi untuk kecewa, namun ia harus tetap berlapang dada.
Kepalanya penuh oleh berbagai teori yang pernah ia baca. Durkheim pernah menyebut bahwa keluarga adalah institusi moral tempat masyarakat bergantung. Yusuf al-Qaradhawi menegaskan poligami bukan solusi bagi mereka yang ingin lari dari masalah, melainkan amanah besar untuk menegakkan keadilan yang sangat berat dipikul siapa pun.
Keadilan. Kata yang sering Prabu ucapkan namun makin lama makin terasa jauh dari kemampuannya. Di balik wajah Isma yang lembut, bayangan Wina muncul jelas.
Wina, perempuan yang telah ia nikahi sah secara agama dan negara. Perempuan yang menemaninya menata masa depan. Belum lagi anak-anaknya, cucunya yang masih kecil dan sering memanggil namanya dengan tawa polos. Keluarga Wina yang menaruh harapan kepadanya sebagai pemimpin. Semua itu bukan sesuatu yang bisa dipertaruhkan hanya karena keinginan yang tumbuh cepat.
Prabu bangkit. Membuka jendela. Angin malam menyusup masuk, membawa aroma tanah basah. Kota tampak tenang dan diam di luar sana, tetapi di dalam dirinya badai mengamuk tanpa jeda. Ia marah pada keadaan.
Ia teringat kalimat Albert Camus: “Di tengah musim dingin, aku menemukan dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan.” Kalimat yang seharusnya menguatkan. Namun malam itu, musim dingin jauh lebih nyata, membekap hangat apa pun yang berusaha hidup.
Ia kembali duduk. Menatap lantai kosong yang seperti menyimpan semua jawab yang ia cari, tapi tak memberi satu pun.
Malam itu mengajarkan satu hal: tidak semua cinta bisa dipeluk tanpa meruntuhkan cinta lain. Ada rasa yang harus menunggu musimnya sendiri. Ada pula yang harus dibiarkan luruh, seperti senja yang selalu kalah oleh gelap.
Dalam keheningan yang panjang, Prabu akhirnya sadar: rencana menikahi Isma harus disimpan rapat seperti kitab kuno yang belum saatnya dibuka. Cinta itu padam perlahan seperti lilin ditiup angin—bukan karena ia tak ingin menjaga nyalanya, tetapi karena takdir memerintahkan padam. Tugasnya kini hanya satu: menjaga agar tidak tumbuh penyesalan yang menghitamkan hati. Sebab beberapa cinta tidak diukur dari seberapa keras diperjuangkan, melainkan dari seberapa berani seseorang mengikhlaskan.


