Pulang dari kafe itu, jalanan Cisarua masih basah oleh hujan. Lampu-lampu villa memantulkan cahaya kuning hangat di permukaan aspal yang menghitam, sementara kabut turun perlahan seperti selimut tipis yang menjaga rahasia malam. Udara pegunungan menusuk hidung, membawa aroma tanah basah dan cemara muda. Di kejauhan, suara aliran sungai terdengar halus, seperti doa yang dibacakan alam.
Ronaldo duduk di samping Prabu, memegang setir dengan santai. Mobil bergerak turun perlahan melewati tikungan yang dikelilingi rumput liar dan warung-warung kecil yang mulai menutup pintunya.
“Bang…” suara Ronaldo pecah di antara desah AC, “Hidayat cemburu. Dia takut Indriani Abang goda.”
Prabu menoleh sekilas. “Hubungan apa Hidayat dengan Indriani?”

“Dua tahun, Bang,” jawab Ronaldo. “Dua tahun dia ngejar Indriani. Tapi yang didapet cuma PHP.”
“Artinya Hidayat memang nggak ada hubungan apa-apa dong,” sahut Prabu ringan.
“Ya, nggak ada.” Ronaldo tertawa kecil. “Cuma dia masih punya obsesi menaklukkan Indriani. Seperti proyek pribadi yang belum kelar-kelar.”
Prabu terdiam. Di balik kaca depan, lampu kota Bogor mulai terlihat seperti gugusan bintang yang tercecer. Indriani kembali melintas dalam pikirannya—senyumnya, tatapan matanya, caranya tertawa, caranya bicara dengan logika bisnis yang rapi, caranya membawa diri seperti perempuan yang paham dunia tapi tetap memilih bersikap lembut.
Dalam hati, Prabu berdebar oleh rasa yang belum ia kenali sepenuhnya.
“Oh begitu…” Prabu menarik napas, lalu tersenyum tipis. “Kalau begitu bilang saja ke Hidayat, kita berlomba. Siapa yang dapat harus dihormati.”
Ia tertawa saat mengucapkannya. Tapi tawa itu hanya kedok. Di baliknya, tekad Prabu mengeras seperti baja yang ditempa.
Menurut Newton, gaya yang bekerja akan menghasilkan percepatan. Dan malam itu, gaya yang bekerja di hati Prabu adalah rasa penasaran—perpaduan antara ketertarikan, kekaguman, dan misteri yang dipancarkan Indriani.
Ronaldo tertegun melihat keseriusan yang tersirat di balik candaan itu. Ia menggeleng pelan.
Prabu menatap pemandangan yang bergulir di kaca mobil. “Kadang yang terlihat paling sulit justru paling layak diperjuangkan,” ucapnya pelan.
Ia teringat ucapan Karl Popper: “Hidup adalah serangkaian percobaan. Mereka yang takut gagal takkan menemukan apa pun.”
Dalam hal perempuan, Prabu sebelumnya tidak pernah mengejar. Dalam poligami pun, ia selalu mengikuti petunjuk ulama bahwa inti dari pernikahan kedua bukan ketergesaan, melainkan kejelasan niat, kesiapan, dan adab. Qiṣṭ, keadilan—itu kata yang terus diulang oleh para ahli fiqih.
Namun Indriani menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ia bukan sekadar perempuan cantik. Ia teka-teki. Ia ruang asing yang seolah mengundang untuk dipahami. Ada kilau ketegasan, tapi diselimuti kelembutan. Ada kemandirian, tapi tetap menyimpan misteri.
“Lagi pula…” Prabu tersenyum sambil menatap jalanan gelap di depan, “aku ingin tahu apakah jagoan PHP itu benar-benar sebaik yang orang bilang.”
Ronaldo tertawa. “Hati-hati Bang. Kadang yang kita kejar justru yang paling bisa menjatuhkan.”
Prabu menatap kabut yang menutup separuh lembah, lalu berbisik lebih kepada dirinya sendiri: “Ada kalanya seseorang tidak jatuh karena terpeleset… tapi karena terpikat.”
Dan di hati kecilnya, ia tahu: perburuan yang sebenarnya… baru saja dimulai. (Bersambung ke Bagian – 9)
Baca juga: Senja Temaram di Cipayung — Bagian 7: Isma


