Senja Temaram di Cipayung — Bagian 8: Misteri

Must Read

Sore menjelang magrib ketika Prabu sampai di Cisarua. Udara di Puncak Bogor menyimpan aroma pinus dan hujan yang belum reda. Gerimis jatuh seperti doa-doa kecil dari langit. Lampu-lampu vila menembus kabut, seolah bintang yang turun lebih dekat dengan bumi.

Cisarua selalu mengingatkannya pada perpaduan alam dan kesendirian. Seperti kata Ernest Hemingway: “Hujan adalah pelipur yang baik bagi hati yang lelah.”

Kafe Kopi Lao masih sepi. Ia datang lebih awal, hati sedikit berdebar, meski sejak dulu ia tak mudah dibuat gugup oleh perempuan. Ia menunaikan salat magrib di musala kafe itu. Usai salat, berniat membuka laptop, tapi dibatalkan. Kondisi tidak mendukung, pikirnya.

Beberapa menit kemudian, tiga sosok memasuki kafe. Wangi parfum lembut bergerak bersama langkah mereka.

Milad 117 H Muhammadiyah

Indriani hadir dengan penampilan yang seketika membuat Prabu lupa bernapas. Ia mengenakan jaket pink lembut yang membuat kulitnya tampak semakin terang, topi serasi yang membingkai sebagian dahinya, dan celana denim yang memberi kesan sederhana namun tetap memikat. Posturnya tegap—seperti seseorang yang telah lama berdamai dengan dirinya sendiri. Dadanya tampak penuh dan proporsional, bukan untuk mencuri perhatian, melainkan karena cara ia membawa diri; mantap, lembut, dan berwibawa.

Rambutnya tergerai, jatuh bebas mengikuti irama angin pegunungan. Indah tanpa perlu diatur. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Prabu melihat Indriani.

Perempuan itu cantiknya tidak berisik. Cantik yang hadir begitu saja tanpa meminta dipuji. Kulitnya putih cerah, seolah sejak kecil telah menyerap kesejukan udara Puncak. Sebuah tahi lalat kecil di bawah mata kirinya menjadi penanda yang membuat wajah itu mudah diingat. Bekas jerawat tipis di pipinya adalah jejak kejujuran—menunjukkan bahwa ia lebih sering bertarung dengan pikirannya sendiri ketimbang bersembunyi di balik kosmetik.

Senyumnya menawan, senyum yang jujur dan matang; senyum perempuan yang sadar bahwa hidup tak selalu ramah, namun tetap memilih menghadapinya dengan terang. Matanya bening dan tegar, kadang menampakkan kedalaman yang dimiliki orang-orang yang pernah runtuh, lalu bangkit dengan kekuatan lebih tenang.

Indriani tertawa cerah saat menyapa Prabu, tawa yang memecah dingin malam. Di sebelahnya, Nita menunduk malu, sementara lelaki yang mengantar mereka hanya mengangguk singkat tanpa banyak kata. Dalam hati, Prabu tahu bahwa malam itu hidupnya sedang membuka babak baru—sebuah bab yang kelak berpusat pada perempuan bernama Indriani.

Prabu memesan wedang jahe, sementara Indriani, Nita, dan lelaki itu memesan jus. Suasana kafe terasa hangat di tengah hujan yang merintik. Perkenalan berlangsung sederhana, namun setiap kali Prabu berbicara kepada Indriani, matanya selalu kembali tertarik pada tatapan perempuan itu, seperti ada arus halus yang mengalir melampaui batas-batas sopan. Indriani tampak tenang. Entah memang tak terpengaruh, atau ia pandai menyembunyikan getarannya sendiri.

Tak lama kemudian, Nita pamit lebih dulu. Prabu menyelipkan beberapa lembar uang sebagai pengganti ojek. Tinggallah mereka bertiga.

Seorang perempuan lain datang—Irma, kolega bisnis Indriani. Dari cara ia berbicara dan memaparkan ide, Prabu dapat menangkap bahwa Irma adalah perempuan berpendidikan. Mereka tenggelam dalam diskusi tentang bisnis, sementara Prabu menyimak tanpa ingin memotong. Ia selalu mengagumi perempuan mandiri, perempuan yang mampu mencari penghidupan dengan kecerdikan, bukan yang sepenuhnya menggantungkan diri pada nafkah suami.

Sebagai laki-laki yang memahami konsep pernikahan dari rujukan ulama, Prabu tahu bahwa rumah tangga sejati adalah kerja sama, bukan sekadar tempat menumpang hidup. Dalam benaknya terlintas ucapan Paulo Coelho: “Cinta bukanlah menetap pada seseorang. Cinta adalah bekerja sama untuk tumbuh bersama.”

Entah mengapa, malam itu, kalimat itu terasa sangat cocok menggambarkan perempuan yang duduk di hadapannya.

Malam merayap pelan. Hujan belum sepenuhnya pergi. Udara Cisarua makin dingin, tetapi hati Prabu anehnya kian hangat. Ia merasakan sesuatu yang lama tidak ia jumpai—kekaguman yang bertunas dari kecerdasan dan karakter, bukan sekadar kecantikan wajah.

Sesekali mata mereka bertemu. Indriani tetap cuek. Atau berpura-pura tidak tahu bahwa ia sedang menjadi pusat perhatian.

Prabu—yang telah mengalami pahit getir rumah tangga—mengerti satu hal: Terkadang takdir mempertemukan seseorang bukan sebagai jawaban atas doa… melainkan ujian bagi hati dan prinsip. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah Indriani adalah pintu yang Allah kirimkan… atau jebakan yang dibungkus senyum manis?

Jawabannya masih terkunci rapat di balik mata perempuan itu. Namun Prabu sudah tidak punya pilihan selain melangkah mendekat. Karena beberapa hati… jika sudah terpaut sedikit saja, tak akan pernah mudah untuk melepaskan kembali.

***

Wamentrans Viva Yoga Minta Isu ‘PBB Laut’ Diklarifikasi

JAKARTAMU.COM | Sejumlah nelayan yang tergabung dalam Koperasi Nelayan Bersama Aspila Lamongan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi saat...

More Articles Like This