Senja Temaram di Cipayung — Bagian 8: Misteri

Must Read

Prabu keluar ke teras rumahnya. Di tangan kirinya, sebungkus roti tawar. Di tangan kanan, secangkir kopi hitam pekat nyaris tanpa gula—kopi yang mengingatkannya pada kata-kata Nietzsche bahwa manusia harus kuat untuk menelan pahit kehidupan, agar mampu memaknai nikmatnya kebahagiaan. Ia menyeruput sedikit, pahitnya seperti kenyataan yang baru saja ia telan.

Pikirannya mengelana. Ia teringat buku “Al-Halal wal Haram” karya Yusuf al-Qaradhawi: poligami bukan solusi tergesa-gesa, melainkan institusi sakral yang mensyaratkan keadilan yang amat tinggi. Ibnu Rusyd pun pernah menulis bahwa keadilan dalam poligami bukan sekadar urusan materi, melainkan keadilan hati yang sulit diukur oleh manusia biasa. Dan Prabu merasa hatinya belum sanggup memikul beban itu.

Namun hasrat manusia tak selalu tunduk pada argumentasi keilmuan.

Freud dalam teori psikoanalisisnya menyebut bahwa keinginan berasal dari ruang bawah sadar yang tidak mengenal logika. Itulah yang Prabu rasakan: akalnya menolak, tapi hatinya masih merindu. Burung-burung pipit di atas kabel listrik bersiul seolah mengolok: “Kau sarjana Ushuluddin, tapi masih kalah oleh gelombang rasa?”

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.

Di sela kegundahannya, pesan-pesan dari Caca kembali berdering. Caca merasa sudah bebas karena mengembalikan sebagian mahar. Prabu paham perbedaan hukum khulu’ dan fasakh, paham bahwa mahar adalah hak perempuan, namun ia juga yakin bahwa pernikahan tidak boleh dipermainkan. Ia mengingat pengajarannya sendiri kepada mahasiswa: fikih itu punya maqashid—tujuan mulia—bukan sekadar teks kaku yang bisa dipelintir untuk kepentingan pribadi.

Tapi kini, ia seperti menelan ludahnya sendiri.

Ia berdiri menengok jalan di depan rumahnya. Sepi. Bulan menggantung seperti noktah putih di langit kelabu. Ia berbisik pelan mengingat ucapan Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam: “Jangan memaksakan sesuatu sebelum waktunya, agar tidak menyesal kehilangan kebaikan saat waktunya tiba.”

Mungkin Isma akan datang pada waktunya. Mungkin tidak.

Prabu menatap langit yang luas, seolah mencari jawaban dalam barisan bintang yang jarang muncul di langit kota. Dalam dirinya bergema gagasan Emile Durkheim: keluarga adalah pilar moral masyarakat. Jika pilar itu goyah karena syahwat keinginan pribadi, maka masyarakat pun terkena imbasnya.

Dan malam di Bekasi yang temaram itu, untuk pertama kalinya Prabu mengakui kekalahannya pada takdir. Ia menutup mata, membiarkan angin malam menyapu perih yang bersarang di dada.

Tidak semua cinta terlahir untuk menjadi pasangan. Sebagian hanya ditakdirkan menjadi doa yang diam-diam dipanjatkan pada langit.

Prabu menarik napas panjang. Ia bersiap menghadapi bab baru: pertarungan harga diri dengan Caca, dan pertarungan hati dengan dirinya sendiri.

Malam semakin dalam. Dan perjalanan Prabu… masih panjang.

***

“Tidak semua cinta dikirim untuk dimiliki. Beberapa hanya menjadi arah, bukan tujuan.”

Prabu mengulang kalimat itu dalam hati usai subuh di teras rumahnya di Bekasi. Udara pagi membawa aroma sungai dan industri yang saling berebut menjadi pemilik napas warga pinggiran kota. Cahaya matahari baru saja mengusap atap seng, dan Prabu memandang langit sembari mendengar kembali sabda Ibnu Athaillah yang sering ia kutip dalam ceramah: “ketika engkau pasrah, di sanalah Tuhan justru paling bekerja untukmu.”

Isma kini hanya menjadi doa yang tak lagi ia genggam erat. Ia melepasnya dengan cara yang paling tenang: tetap mendoakan.

Ketika ia hendak menyesap kopi pahit, ponsel bergetar. Sebuah pesan muncul dari nomor asing:

“Bang, saya Indriani. Temannya Hidayat. Katanya abang niat nikah lagi. Saya ada keponakan, janda anak satu. Usia 24. Sudah lama sendiri, ingin nikah.”

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This