Senja Temaram di Cipayung — Bagian 13: Peringatan Bertubi-tubi

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

KABUT sore merambat turun dari punggung Gunung Salak, menyusup ke celah-celah pohon damar di sekitar Ciheuleut. Hidayat duduk di atas motor bebek kesayangannya, memandang jalan yang basah setelah hujan rintik. Ada sisa tenaga yang masih ingin ia gerakkan—bukan tenaga fisik, tetapi tenaga dari luka yang berubah menjadi ambisi gelap. Tekadnya satu: menggagalkan kedekatan Prabu dan Indriani, apa pun caranya. Dalam pikirannya, cinta tidak lagi penting; yang penting adalah memastikan bahwa Prabu gagal.

Ia membuka ponsel, mengetik pesan cepat kepada Yuni. “Hubungi mantan suami Indriani yang pecandu itu. Bilang padanya, Indriani dalam bahaya. Dia sekarang dekat sama Prabu—laki-laki yang baru diceraikan istrinya. Sampaikan bahwa Prabu punya niat jahat.” Jari Hidayat bergerak cepat di layar yang retak halus. “Bilang juga, Indriani bisa dipolisikan sewaktu-waktu.”

Yuni tidak bertanya kenapa. Ia hanya membalas, “Baik, Yat,” seolah ia sendiri mendapatkan kenikmatan dari kekacauan yang sedang mereka ciptakan.

Milad 117 H Muhammadiyah

Hidayat memanfaatkan celah yang ia tahu benar-benar ada: rencana hukum Prabu terhadap Caca dan Ima—rangkaian persoalan yang memang nyata, meski arah niatnya telah berubah sejak Prabu mengenal Indriani. Prabu, yang masih terluka oleh sindikat kawin siri itu, pernah menunjuk pengacara—Joko Sulistiono—untuk mengurus permintaan pengembalian mahar. Ia bahkan telah mengirim somasi lengkap dengan rincian langkah hukum jika mahar itu tidak dikembalikan. Namun belakangan, sejak bertemu Indriani, niat itu meredup. Ia tak lagi terpikir untuk menyeret siapa pun ke ranah hukum. Baginya, masa lalu adalah masa lalu, dan ia ingin menutup pintunya perlahan, tanpa menambah luka.

Tetapi Hidayat hanya mengambil satu bagian dari cerita itu. Bagian yang gelap, yang bisa ia pilin menjadi ancaman. Ia tahu satu hal paling mematikan dalam hubungan manusia: bukan fitnah, tetapi setengah kebenaran yang dibungkus niat buruk.

Yang membuat Hidayat semakin percaya diri adalah satu pengakuan yang Caca ucapkan kepada dirinya dan Ronaldo ketika mereka mengonfirmasi masalah itu. Caca mengatakan dengan nada ketus: “Ngapain lanjut pernikahan kalau dia aja nggak bisa bangun.”

Kata-kata itu diucapkan dengan ketidaksabaran dan kemarahan seorang perempuan yang merasa lelaki itu tidak mampu memenuhi apa yang seharusnya menjadi fitrah hubungan suami istri. Caca tidak tahu bahwa ucapannya akan menjadi bahan bakar paling beracun bagi hati orang-orang yang mendengarnya.

Dalam buku psikologi komunikasi yang pernah dipelajari Prabu, ada sebuah konsep bernama anchoring bias—informasi pertama yang paling emosional sering menjadi jangkar bagi seluruh penilaian setelahnya. Dan itulah yang terjadi pada Hidayat: ia menjadikan ucapan Caca sebagai jangkar, lalu mulai membangun dusta di atasnya.

Malam itu, dengan rasa kemenangan yang dingin, Hidayat mengirim pesan panjang kepada Indriani. “Dia punya rencana buruk ke kamu. Dia itu mau menjebak kamu pakai kasus hukum. Lagian… dia impoten. Kalau nggak percaya, ini nomor Caca. Kamu bisa tanya langsung.”

Indriani yang sedang menata produk untuk live malam itu tiba-tiba berhenti seolah seseorang mencabut aliran darah dari jantungnya. Topi pinknya terlepas, jatuh ke lantai. Pesan itu menatapnya dari layar ponsel, dan kata “impoten” terasa seperti batu besar yang dijatuhkan ke dasar hatinya.

Ia duduk lemas di kursi plastik merah muda yang sudah mulai pudar warnanya. Dunia seakan meredup. “Mas Prabu… impoten?” bisiknya, dan suaranya pecah oleh getaran panik yang tak bisa ia kendalikan. Ia menatap layar itu lama, tak berani membalas, tak berani bertanya, tak berani percaya—namun juga tak mampu menolak rasa takutnya.

Di luar, lampu-lampu toko mulai menyala, memantulkan cahaya kuning di aspal yang lembap. Hiruk pikuk Pasar Cisarua masih terdengar: suara pedagang sayur, teriakan pemuda mengatur motor parkir, dan denting sendok dari warung bakso seberang jalan. Semua berjalan seperti biasa, tetapi bagi Indriani, dunia tiba-tiba kehilangan keseimbangannya.

Ia memegang dada. Napasnya pendek. Dalam benaknya berkecamuk pertanyaan yang tidak ingin ia tanyakan kepada siapa pun. “Bagaimana mungkin aku menikahi seorang lelaki yang… tidak mampu?” Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Sementara itu, teori-teori yang pernah ia dengar dari ceramah agama berbisik dalam pikirannya: bahwa pernikahan menuntut sakinah, mawaddah, dan rahmah. Bagaimana mungkin rahmah hadir jika fitrah dasar saja tak terpenuhi?

Namun suara lain muncul perlahan—suara yang lebih lembut, suara dari hati kecil yang mengenal Prabu sebagai lelaki baik. “Mas Prabu itu sopan. Lemah lembut. Berilmu. Ia tidak seperti laki-laki kebanyakan.”

Ia teringat Prabu yang menjelaskan teori ekonomi mikro dengan sabar, mengutip Ibnu Khaldun, menenangkan hatinya dengan nasihat agama tanpa menggurui. Ia teringat tatapan teduh itu, sikapnya yang selalu menjaga jarak, tidak pernah memeluk, menyentuh, atau bahkan menggoda. “Apakah justru kesopanan itu… tanda kelemahan?” gumamnya lirih, dan ia membenci dirinya karena berpikir demikian.

Ia menggigit bibirnya keras-keras. Air matanya jatuh tanpa suara. “Ya Allah… kenapa hati ini seperti ditarik ke dua arah?”

Guncangan itu nyata. Ia tidak tahu harus percaya siapa. Tidak tahu apakah ia harus bertanya kepada Prabu atau justru menjauh. Ia hanya merasa dikhianati oleh harapan yang baru tumbuh. Dunia seperti berkabut tebal—kabut yang tidak datang dari gunung, melainkan dari hatinya sendiri.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This