Senja Temaram di Cipayung — Bagian 13: Peringatan Bertubi-tubi

Must Read

Kabut pagi di Megamendung turun seperti benang-benang putih yang tersangkut di pucuk teh. Udara masih basah, dan jalan setapak menuju pasar Cipayung tampak lengang. Indriani berjalan cepat, menggenggam ponselnya erat. Malam tadi ia tidur hanya dua jam. Kata-kata Prabu masih berputar dalam kepalanya, menjadi penyangga sekaligus pengingat bahwa ia harus mencari kebenaran.

Indriani berjalan keluar rumah. Embun yang menempel di jaketnya belum sempat mengering ketika ponselnya bergetar. Satu pesan WhatsApp muncul—nama yang tidak ingin lagi ia lihat: mantan suaminya.

“Ndri, kamu hati-hati. Aku dengar kamu dekat sama Prabu. Dia orang berbahaya. Jangan sampai kamu kenapa-kenapa. Jangan ulangi kesalahan masa lalu.”

Indriani berhenti melangkah. Tubuhnya sedikit menegang. Ia membaca ulang kalimat itu dengan teliti.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ada ironi di sana: lelaki yang pernah menghancurkan hidupnya dengan sabu, kekerasan, dan pengkhianatan kini memberi nasihat moral.

Hatinya bukan takut—melainkan jengkel. Namun ia tidak ingin membalas dengan emosi. Ia mengetik pelan: “Terima kasih sudah mengingatkan. Aku tahu menjaga diri.
Kamu fokus sembuhkan hidup kamu. Semoga sehat.”

Tidak ada amarah. Tidak ada keluhan. Jawaban itu bukan untuk menyenangkan siapa pun, melainkan tanda bahwa luka lama sudah tidak punya kuasa atas dirinya.

Beberapa langkah kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini—nama Rina, teman dekat semasa jualan di pasar Cisarua.

Rina orang baik, tidak punya motif seperti Yuni. Indriani membuka pesannya tanpa curiga. “Ndri… maaf, aku cuma mau bilang. Hati-hati ya. Aku dengar Prabu itu baru cerai seminggu. Ada masalah juga sama mantan istrinya. Cuma takut kamu kecewa lagi.”

Pesan itu lebih lembut, tidak menuduh, tetapi tetap berakar pada kabar yang seragam seperti bisikan yang disebar satu sumber.

Indriani menarik napas panjang. Ia menempelkan ponsel di dada sebelum membalas. “Makasih banyak, Rin. Kamu bilang begini karena sayang sama aku. Tapi kali ini… aku mau cari tahu sendiri. Aku nggak mau diatur ketakutan lagi.”

Rina membalas cepat: “Aku percaya kamu bisa jaga diri. Semoga kamu bahagia ya, Ndri.”

Indriani tersenyum kecil. Inilah beda peringatan dari hati murni dan dari hati busuk—rasanya berbeda di dada.

Belum lima menit, ponselnya bergetar untuk ketiga kalinya. Nama yang muncul: Papah Riko—tetangga lamanya di Pondok Gede, semacam bapak kedua yang dulu menolong saat rumah tangganya retak.

Pesannya panjang, seperti petuah. “Ndri, Papah dengar kamu dekat dengan seorang lelaki yang usianya jauh lebih tua. Papah hanya ingatkan, jangan cepat percaya laki-laki yang baru selesai rumah tangga. Banyak itu yang manis di luar tapi kosong di dalam.”

Kali ini, Indriani tercenung. Awan di atas bergerak perlahan, seolah mengikuti ritme hatinya. Ia membalas dengan hati-hati, penuh hormat: “Pa, terima kasih banyak sudah ingatkan. Tapi justru untuk pertama kali dalam hidup, aku merasa ditemani, bukan dimanfaatkan. Aku akan tetap hati-hati. Tapi aku juga harus belajar percaya orang lagi.”

Pesan itu terkirim.

Dan di detik itu, Indriani menyadari sesuatu: Peringatan yang ia terima berasal dari mulut yang berbeda, tetapi memakai kata-kata yang sama. Terstruktur. Seragam. Seperti seseorang sedang mengatur narasi, mengarahkan ketakutannya, membangun bayang-bayang buruk yang sama.

Jantungnya terasa ditarik. “Apa semua ini… ulah Hidayat?” bisiknya lirih.

Ia berdiri lagi, menatap jalan yang mulai tertutup kabut. Ada keputusan yang tumbuh, perlahan namun pasti.

Indriani sampai di kios sayur milik Bu Sari—tempat berkumpulnya berbagai kabar sebelum matahari naik. Begitu Indriani datang, Yuni sudah ada di sana, duduk sambil menyeruput kopi. Tatapannya canggung melihat Indriani. Terlalu canggung untuk ukuran sahabat. Terlalu gelisah untuk seseorang yang bilang tidak tahu apa-apa.

“Yun, kita ngomong sebentar,” kata Indriani, suaranya datar.

Yuni terkesiap. “Ngomong apa, Ndri? Aku buru-buru mau ke Puncak.”

“Ngomong sebentar.”

Ada tekanan halus di suara Indriani yang tidak bisa ditolak. Yuni mengangguk, mengikutinya ke belakang kios.

Di sana, di antara tumpukan peti sayur dan bau tanah basah, Indriani berdiri di hadapan Yuni seperti perempuan yang bersiap menyingkap tirai panjang yang selama ini ia biarkan menutupi matanya.

“Yun,” katanya, “kamu tahu dari mana kalau Prabu impoten?”

Yuni pucat seketika. “Lho… itu… itu kan katanya Caca.”

“Caca nggak kenal kamu. Kamu nggak punya akses ke dia. Nomornya aja aku yang punya. Dari mana kamu tahu?”

Keheningan turun seperti palu.

Yuni menunduk. “Ya… aku dapat dari Hidayat.”

Indriani merasa lututnya gemetar. Meski ia sudah menduga, mendengarnya langsung tetap membuat jantungnya serasa diremas.

“Terus, Yun,” lanjutnya, suaranya mulai naik, “siapa yang bilang sama mantan suami aku? Siapa yang bilang kalau aku dalam bahaya? Kalau Prabu itu punya niat jahat?”

Yuni tidak menjawab, tetapi air mukanya memberi jawaban yang lebih jelas daripada kata-kata.

Itu bukan sekadar pengkhianatan teman—itu pengkhianatan yang disengaja. “Jadi benar,” desis Indriani. “Hidayat yang nyebarin semua fitnah itu.”

Yuni mencoba meraih tangan Indriani. “Ndri… aku cuma nolong Hidayat. Dia itu sayang banget sama kamu. Dia takut kamu salah pilih. Dia…”

“Salah pilih?!” suara Indriani pecah, bukan marah, tetapi kecewa. “Yun… kamu tahu aku itu perempuan yang pernah hancur. Kamu tahu aku trauma. Terus kamu malah nyemplungin aku ke sumur berita bohong begini?”

Yuni panik. “Ndri, aku cuma… aku pikir …”

“Kamu pikir apa?! Pikir aku patut dipermainkan? Pikir aku pantas ditakut-takutin supaya menjauh dari orang yang baik?”

Indriani jarang marah. Ia biasanya menahan, mengendap, menunda. Tapi pagi itu, semua batasnya runtuh. Setetes air mata turun, bukan karena sedih, melainkan karena kecewa yang menembus sampai ke tulang. “Aku kira kamu temanku,” katanya pelan. “Ternyata kamu cuma jadi corong orang yang iri.”

Yuni tertikam kata-kata itu. “Ndri… maaf…”

“Maaf itu bukan buat aku, Yun,” ujar Indriani sambil menatap tajam. “Maaf itu buat diri kamu sendiri. Karena kamu nggak sadar kalau kamu bantu orang yang mau menghancurkan aku.”

Ia mundur selangkah. Nafasnya berat, tapi matanya kuat.

“Mulai hari ini,” katanya lirih, “aku nggak mau kamu ikut campur hidup aku. Dan tolong bilang sama Hidayat… dia sudah melewati batas.”

Yuni membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar.

Indriani berbalik, melangkah pergi. Kabut menelannya perlahan, seperti gerbang yang menutup antara masa lalu dan masa depannya.

Namun satu hal jelas: Untuk pertama kalinya, Indriani tidak takut lagi. Karena kebenaran, meski pahit, terasa lebih ringan daripada hidup dalam fitnah. Dan di antara kabut yang menyingkir pelan, ia tahu satu langkah berikutnya: menemui Prabu—bukan sebagai perempuan yang ragu, tetapi sebagai perempuan yang akhirnya berani memilih kebenaran. (Bersambung ke Bagian 14)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This