Senja Temaram di Cipayung — Bagian 13: Peringatan Bertubi-tubi

Must Read

Prabu membaca pesan itu tenang, meski dadanya tertarik seperti tali yang diregangkan. Ia sadar sumbernya hanya satu. Hidayat. Seorang lelaki yang merasa kekalahannya dalam percintaan setara dengan kehilangan dunia.

“Astaghfirullah,” bisiknya, perlahan namun mantap. Ia tahu ia tidak boleh terpancing. Dalam hadis, Rasulullah berkata bahwa lelaki kuat bukan yang menang di medan perang, tetapi yang mampu menahan amarah di saat ia punya peluang membalas. Dan kini, ia sedang diuji untuk menjadi lelaki kuat dalam makna yang paling sunyi.

Ia tidak membalas Yuni. Ia hanya menulis satu pesan untuk Indriani setelah merenung beberapa menit.

“Dik… kalau kamu butuh klarifikasi, aku akan datang. Tapi kalau kamu takut, aku tidak akan memaksa. Yang penting kamu tahu, aku tidak pernah berniat jahat kepadamu. Jika aku salah atau mengecewakanmu, aku menerima. Tapi izinkan aku membela diriku dari fitnah.”

Ia menambahkan satu baris terakhir, baris yang ia pilih dengan rasa hormat:

Milad 117 H Muhammadiyah

“Dan soal kelelakian itu… biarkan kamu sendiri yang menilainya nanti, kalau Allah menakdirkan kita halal.”

Setelah menekan tombol kirim, Prabu memejamkan mata. Ada damai aneh yang muncul—damai orang yang menjaga diri dari kehinaan. Namun ia tahu badai belum selesai. Fitnah adalah seperti api kecil yang dibiarkan di padang ilalang; ia bisa membakar hutan hubungan sebelum tumbuh menjadi rumah.

Namun Prabu tidak akan berlari. Tidak akan menyerang balik. Tidak akan memaki.

Ia memilih jalan yang diajarkan para ulama: Menjaga muru’ah lebih tinggi nilainya daripada memenangkan pertengkaran.

Di Cipayung, Indriani bersandar di kursi. Gejolak pada dirinya belum surut. Ia kemudian membaca ulang pesan dari Prabu. Teduh. Tidak emosional. Perkataan lelaki itu… tenang, jernih, tidak reaktif. Tidak ada bantahan kasar, tidak ada balasan marah, tidak ada upaya menjatuhkan orang lain. Ia bahkan berkata:

“Jika kamu takut, aku tidak akan memaksa.”

“Izinkan aku membela diriku dari fitnah.”

Indriani menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Gemetar. Getar yang membuat jantungnya terasa seperti ingin merosot ke perut. Ia merasakan sesuatu yang lebih menyesakkan daripada ketakutan: rasa bersalah.

“Kenapa aku percaya begitu saja?” bisiknya lirih.

Ia tahu Prabu bukan laki-laki sembarangan. Cara bicara Prabu selalu penuh rujukan, selalu tertata. Saat membahas apapun—agama, sejarah, sosial, bahkan masalah keluarga—ia selalu menimbang dari perspektif ilmu. Indriani ingat bagaimana Prabu menjelaskan teori cognitive bias sambil tertawa kecil, atau bagaimana ia mengutip Ibn Qayyim ketika membicarakan niat yang tulus.

Dan sekarang ia sadar… Hidayat tidak pernah berbicara seperti itu. Tidak pernah jernih. Selalu ada nada kepemilikan, nada kekecewaan, nada menuntut. Dua tahun menunggu bukanlah cinta, melainkan obsesi diam yang membeku.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This