Indriani duduk di sisi ranjang. Nafasnya terengah, tapi bukan karena kelelahan fisik. Ia sedang mengalami yang dalam psikologi disebut dissonance—getaran batin ketika kenyataan tidak sesuai dengan ketakutan yang ia ciptakan sendiri.
Ia menunduk, mengusap wajah, lalu berkata pelan, “Aku bodoh… Aku malah menyakiti Mas Prabu.”
Namun setelah perasaan bersalah itu datang, muncul ketakutan baru yang lebih besar.
Jika Prabu adalah lelaki baik… Jika ia tidak seperti tuduhan itu… Jika ia tulus… Maka ada kemungkinan besar dirinya jatuh cinta. Dan itu yang paling ia takuti.

Indriani bukan takut pada Prabu. Ia takut pada dirinya sendiri. Ia takut pada harapan. Takut pada luka kedua bahkan ketiga. Takut pada bahagia yang mungkin tidak bertahan. Takut mencintai orang yang baru saja memperbaiki retakan hatinya.
Ketakutan itu menumpuk, seperti kabut yang makin tebal di Megamendung—padat, dingin, dan menutup pandangan.
Ia berdiri, berjalan gelisah ke sana-sini. Langkahnya pendek, cepat, seperti orang yang kehilangan arah. “Kenapa semuanya jadi begini?” gumamnya.
Ia ingin mematikan ponsel. Ia ingin tidur. Ia ingin melupakan. Ia ingin lari. Lari dari pesan Prabu. Lari dari kenangan kecil yang mulai tumbuh. Lari dari kelembutan yang diam-diam membuat hatinya bergetar.
Ia bahkan sempat berpikir untuk memblokir nomor Prabu. Menutup semua kemungkinan sebelum semuanya telanjur dalam. Ia tahu dirinya—sekali jatuh cinta, ia jatuh habis-habisan. Dan kali ini ia tidak siap.
Satu sisi dirinya berkata: “Jangan dekat dengan Prabu. Kamu akan kalah lagi.”
Sisi lain yang lebih lembut, yang ia ingkari, berbisik: “Tapi tidak semua lelaki seperti mantanmu. Tidak semua lelaki seperti Hidayat.”
Indriani menggigit bibir, dan tiba-tiba air matanya jatuh juga. Bukan karena sedih, tapi karena tidak tahu harus memilih apa.
Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang yang berkabut. Ia tidak tahu apakah di bawah ada lantai yang aman… atau lubang tak berdasar. Ia lelah mengambil keputusan besar. Ia lelah menjadi kuat. Ia lelah menebak-nebak niat orang.
Untuk pertama kalinya sejak seminggu terakhir, ia ingin kabur. Bukan dari Prabu. Bukan dari Hidayat. Tapi dari perasaannya sendiri. Dari hatinya yang terlalu mudah percaya, terlalu mudah tersentuh, terlalu mudah memberi kesempatan kedua pada kehidupan.
Ia mengambil jaket, hendak keluar kamar, menghirup udara malam di teras untuk menenangkan diri. Tapi langkahnya terhenti di depan pintu. Ia bersandar, menutup mata, lalu berbisik pada dirinya sendiri:
“Aku harus tenang… Aku harus tenang… Jangan biarkan perasaan berlari lebih cepat daripada akal.”
Namun diam-diam ia tahu—badai yang ia lawan bukan badai di luar, melainkan badai dalam dadanya sendiri.
Kabut malam makin menebal, seperti kapas kelabu yang menahan seluruh suara dunia. Di teras rumahnya, Indriani duduk berselimut jaket tipis, memeluk lutut, mencoba menenangkan gelombang pikirannya sendiri. Dari kejauhan terdengar suara serangga dan gemericik sungai kecil—suara yang biasanya menentramkan, tetapi malam ini tidak cukup untuk menghentikan getaran hatinya.
Ia baru saja menarik napas panjang ketika ponselnya bergetar.
Nama itu muncul di layar.
Mas Prabu.
Indriani menegang, seolah dunia berhenti bergerak. Sesaat ia ingin membiarkannya berdering. Ia takut mendengar kekecewaan di suara Prabu, takut menghadapi hati yang mungkin ia lukai tanpa sengaja. Tetapi jari telunjuknya bergerak sendiri. Ia menjawab panggilan itu.
“Assalamu’alaikum, Dik Indri.”
Suara Prabu… begitu tenang. Begitu jernih. Nyaris seperti suara seseorang yang sedang membaca ayat Al-Qur’an dalam hati. Tidak ada amarah, tidak ada nada tersinggung, tidak ada vibrasi ego yang terluka.
Mendengar itu, Indriani langsung menunduk, seolah suara itu mengajarinya untuk malu.
“Wa’alaikumussalam, Mas…” jawabnya sangat pelan, hampir tak terdengar.
Ada jeda, tapi jeda yang lembut, bukan jeda yang menuduh.
“Adik sudah lebih tenang?” tanya Prabu.
Pertanyaan sederhana yang menghantam jantungnya. Dia merasa dilihat, bukan dihakimi.
Merasa dipahami, bukan dipaksa.
“Maaf, Mas… Adik… tadi Adik panik.” Suaranya bergetar. “Adik cuma… takut.”
Prabu menarik napas perlahan. Suaranya terdengar seperti seseorang yang duduk menghadap jendela, menatap langit. “Takut itu manusiawi, Dik. Nabi Ibrahim saja pernah takut ketika melihat malaikat datang membawa berita. Allah bilang, ‘La takhaf’—jangan takut. Karena takut itu tanda hati sedang mencari kebenaran.”
Indriani memejamkan mata. Ada kehangatan yang turun dalam dirinya; bukan karena kata-kata Prabu, melainkan ketenangan lelaki itu yang begitu kontras dengan badai yang ia alami.
“Mas tidak marah?” tanyanya, lirih.
“Untuk apa Mas marah? Rasulullah pernah difitnah lebih buruk daripada ini. Kita ini cuma ditimpa gosip kecil, yang akan hilang kalau dibasuh dengan jernih.”
Kata-kata itu membuat Indriani terdiam lama.
Di tengah gelisah yang hampir membuatnya kabur dari perasaannya sendiri, Prabu datang dengan ketenangan yang tak pernah ia duga. Prabu tidak mempertahankan dirinya dengan teriakan, melainkan dengan logika dan keyakinan.
“Dik,” sambung Prabu, “fitnah itu ibarat asap. Asap bisa membuat mata pedih, tapi tidak pernah bisa memadamkan cahaya. Cahaya hanya padam kalau kita sendiri meniupnya.”
Indriani menggigit bibir. Ada gerak kecil di sudut hatinya—seperti pintu yang mulai terbuka. “Mas… Adik takut salah menilai. Takut jatuh cinta pada orang yang salah.”
Kalimat itu lolos tanpa ia rencanakan. Ia menutup mulutnya cepat, menyesal, tetapi semuanya sudah terjadi.
Prabu tidak terkejut. Tidak juga memuji. Tidak memanfaatkan kelemahannya.
Ia hanya berkata, pelan, seperti seorang ayah menenangkan anaknya yang baru saja bangun dari mimpi buruk:
“Jatuh cinta itu tidak salah, Dik. Yang salah adalah ketika kita membiarkan cinta berjalan tanpa akal dan adab. Mas tidak akan memaksa Adik jatuh ke perasaan yang belum Adik siap. Mas cuma ingin Adik tahu bahwa Mas ada di sini—dengan niat baik, dengan cara yang halal, dengan ilmu yang Mas pahami.”
Air mata Indriani akhirnya jatuh juga. Tidak ia cegah.
“Mas…” suaranya pecah, “terima kasih sudah sabar sama Adik.”
“Mas sabar bukan karena kuat,” jawab Prabu. “Mas sabar karena Mas takut melukai hati yang Mas jaga.”
Kalimat itu… terlalu lembut. Terlalu dalam. Terlalu jujur.
Indriani menutup wajah, bahunya bergetar.
Lalu Prabu melanjutkan, dengan nada yang lebih rendah, hampir menyerupai bisikan:
“Kalau Adik merasa gelisah, jangan kabur dari perasaan Adik. Kaburlah kepada Allah. Karena Dia satu-satunya tempat di mana kita tidak pernah ditolak.”
Keheningan panjang menyusul. Hanya suara daun teh yang bergesekan oleh angin malam.
“Mas…” bisik Indriani, “Adik masih bingung… tapi Adik… tidak ingin menjauh.”
Senandung halus terdengar dari Prabu, seperti senyum yang terbit dari dada. “Alhamdulillah,” katanya, lembut. “Itu saja sudah cukup untuk malam ini.”
Telepon berakhir di sana.
Tetapi kata-kata Prabu tidak berakhir. Mereka tinggal, menghangat di dada Indriani, menenangkan badai yang hampir melahap dirinya. Dan untuk pertama kalinya malam itu… Indriani tidak merasa ingin kabur. Ia hanya ingin diam. Dan memahami apa yang sebenarnya sedang tumbuh di hatinya.
***


