Senja Temaram di Cipayung — Bagian 13: Peringatan Bertubi-tubi

Must Read

Di luar ruko, kabut Cipayung mulai turun ringan, menutup langit dalam abu-abu muda. Seolah alam pun memahami kegundahan Indriani, dan ikut merendahkan suaranya.

Hingga akhirnya Indriani hanya mampu berbisik pada dirinya sendiri, dengan suara yang patah dan hampir tidak terdengar, “Apa benar Mas Prabu… tidak akan bisa membangun rumah tangga denganku?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat daripada kabut, lebih gelap daripada malam yang akan datang.

Kabut malam merayap turun di Cipayung seperti napas bumi yang letih. Dari balik jendela kamarnya yang menghadap bukit, Indriani menatap lampu-lampu vila yang tampak temaram di kejauhan, seperti bintang-bintang yang jatuh terlalu dekat dengan tanah. Suasana itu biasanya memberi ketenangan, tetapi malam ini tidak. Dadanya terasa sesak, pikirannya gaduh, dan seakan ada dua tangan yang saling tarik-menarik di dalam hatinya.

Milad 117 H Muhammadiyah

Kata itu—impoten—masih bergema di kepalanya seperti gema di dinding gua yang tak mau berhenti memantulkan suara. Ia ingin menghapusnya, tetapi ia malah berputar-putar pada bayangan buruk: pernikahan hampa, malam pertama yang kosong, masa depan yang suram. Ketakutan itu terasa begitu nyata, seperti bayangan hitam yang berbisik tepat di telinganya.

Akhirnya, Indriani bertekad mengonfermasi langsung kepada Prabu terkait masalah kehidupan seksnya itu.

***

Kabut petang turun lagi di Megamendung seperti selimut tipis yang menyerap suara-suara jauh. Di Tebet, Prabu tengah asyik dengan kopi sorenya dan laptop ketika ponselnya bergetar. Satu pesan dari Indriani muncul di layar, dengan jeda mengetik yang panjang—pertanda ada sesuatu yang mengganjal. Prabu membaca isi pesannya pelan, lalu menutup mata sejenak.

“Mas… ini benar? Ada yang bilang Mas… impoten? Saya harus tahu dari Mas, bukan dari orang lain.”

Kata itu—impoten—seakan tidak hanya menampar kelelakiannya, tetapi juga merobek ruang batin yang selama ini ia jaga rapat-rapat. Prabu duduk diam di dalam mobil, membiarkan suara hujan mengetuk kap kendaraan seperti ketukan jari Tuhan yang sedang menguji kesabaran manusia.

Ia tidak segera membalas. Bukan karena marah, tetapi karena rasa sayang yang membuatnya takut menyakiti Indriani dengan jawaban tergesa. Dalam psikologi interpersonal, ada istilah affective filtering: ketika emosi kuat, kemampuan menyusun respons yang jernih terkena kabut. Dan kabut itu kini menyelimuti pikirannya.

Ia menatap bayangannya sendiri di kaca depan. Seorang lelaki yang baru saja keluar dari pernikahan penuh tipu daya, lelaki yang sedang mencari keteduhan, bukan medan perang baru. Ia menghela nafas. “Ya Allah… ujian jenis apa lagi ini?”

Di sela sunyi itulah ia teringat ucapan Imam al-Ghazali: “Setiap fitnah bermula dari lidah yang bergerak lebih cepat daripada akal.” Betapa benarnya. Lidah orang lain kini sedang mengancam bukan hanya harga dirinya, tetapi benih hubungan yang sedang tumbuh di antara dirinya dan Indriani.

Ia membalas perlahan, memilih diksi yang paling lembut sekaligus paling jujur.

“Dik, jangan percaya pada kabar yang membuat hatimu rusak sebelum kamu memeriksanya dengan pikiran jernih. Apa yang terjadi pada malam itu bukan aib, tapi luka. Luka dari pernikahan yang dipaksakan, penuh kebohongan. Itu bukan ketidakmampuan, tetapi ketidaktenangan. Dan ketenangan itu hanya milik hubungan yang jujur.”

Setelah mengirim pesan itu, ia bersandar. Ada getir kecil yang mengalir, tetapi ada pula kelegaan. Ia seperti menunaikan sebagian beban moral. Namun, ia tahu bahwa fitnah tidak pernah berhenti hanya dengan membantah. Fitnah bekerja seperti teori contagion dalam sosiologi—penyakit sosial yang menular lebih cepat daripada kebenaran, karena kebenaran membutuhkan akal, sedangkan fitnah hanya membutuhkan dendam.

Ia menatap langit yang mulai gelap. Dalam benaknya ia teringat konsep muru’ah—martabat lelaki dalam pandangan ulama. Muru’ah bukan sekadar kemampuan fisik, tetapi kemampuan menjaga integritas. Dan pada malam itu, martabatnya diuji bukan oleh tindakan, melainkan oleh gosip. “Jika aku marah, aku kalah,” gumamnya. “Jika aku membalas, aku serupa dengan mereka.”

Pikirannya melayang ke pelajaran para ulama tentang poligami, topik yang selama ini ia pelajari bukan karena nafsu, tetapi karena rasa ingin tahu: mengapa syariat memberi ruang pada sesuatu yang begitu kompleks? Ia teringat pendapat Profesor Muhammad Abu Zahrah bahwa poligami adalah tanggung jawab moral, bukan hak yang bisa dipakai sembarangan. Bahkan ulama besar seperti Ibn Asyur menulis bahwa tujuan poligami antara lain adalah menghindari kedzaliman, bukan menciptakan kerusakan.

Dan kini, ia justru difitnah sebagai lelaki yang berniat mencelakai wanita yang ia sayangi. Betapa ironis: ia dituduh hendak berbuat jahat oleh orang yang memelihara dendam.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Yuni. Panjang, penuh tuduhan, nada yang sama dengan Hidayat.

“Mas Prabu, tolong jauhi Indriani. Kamu itu bahaya. Kamu lapor sana-sini. Kamu juga nggak bisa memuaskan istri. Caca bilang begitu.”

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This