Dua Luka dalam Satu Atap (7): Hujan yang Tak Pernah Reda

Must Read

PAGI menyambutku dengan rintik yang sama seperti malam sebelumnya. Rasanya seperti dunia enggan memberi kesempatan bagi matahari untuk bersinar. Tapi barangkali, bukan langit yang enggan cerah melainkan hatiku yang tak kunjung menemukan cahaya.

Di luar, daun-daun basah bergetar diterpa gerimis. Di dalam, hatiku pun bergetar oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah kau jawab.

Kau duduk di meja makan, menyesap kopi yang tak lagi hangat. Matamu masih lekat ke layar ponsel. Barangkali pesan-pesan darinya lebih menggairahkan daripada suaramu sendiri yang bahkan tak pernah kau gunakan untuk menyapaku.

Aku menyendokkan bubur ke mangkukku dengan gerakan lambat. Tak ada percakapan. Bahkan suara sendok pun terasa seperti gangguan di antara kita. Kau meneguk kopi, lalu berdiri tanpa bicara.
“Jangan pulang terlalu malam,” kataku akhirnya, lebih sebagai kebiasaan daripada harapan.
Kau mengangguk sekilas, tanpa menoleh.

Milad 117 H Muhammadiyah

Setelah langkahmu menghilang di balik pintu, aku termenung lama. Ada bagian dari diriku yang masih menunggumu. Tapi ada bagian yang mulai lelah menjadi penjaga pintu untuk seseorang yang tak lagi ingin masuk.

Hujan di luar belum juga reda. Aku duduk di dekat jendela, menyaksikan tetesan air menari turun. Seperti kenangan-kenangan yang tak kunjung selesai.

Aku teringat pada hari pertama kita tinggal di rumah ini. Masih baru, bau cat belum hilang. Kita tertawa saat tirai jendela nyaris roboh karena kau salah pasang paku. Kita bersitegang soal warna cat dinding kau ingin biru gelap, aku lebih suka krem lembut.

Tapi akhirnya kita sepakat, karena saat itu kompromi adalah bagian dari cinta. Sekarang? Sekarang bahkan tak ada lagi yang kita perdebatkan, karena tak ada yang peduli.

Siang itu, aku menerima panggilan dari seorang teman lama. Ia bertanya apakah aku bersedia datang ke reuni kecil di sebuah kafe. Sudah lama aku tak bertemu siapa pun. Sudah lama aku menolak undangan apa pun. Tapi hari itu, aku berkata: “Mungkin aku datang.”

Aku mengenakan blus sederhana. Lipstik tipis. Aku menatap diriku di cermin, mencoba mencari jejak perempuan yang dulu pernah percaya diri. Tapi yang kulihat hanyalah perempuan yang mengering di dalam hujan batinnya sendiri.

Kafe itu ramai. Tawa dan musik bercampur, menciptakan atmosfer hangat yang nyaris kulupakan. Teman-teman menyambutku dengan pelukan. Mereka tertawa, bertanya kabar. Aku menjawab semua dengan senyum kecil, menutupi luka-luka yang tak mungkin kutunjukkan.

Seseorang bertanya, “Suamimu ke mana?”
Aku menoleh pelan, lalu menjawab, “Sedang sibuk.”
Jawaban itu menggantung seperti lampu yang berkedip lemah. Tapi tak ada yang bertanya lebih lanjut. Mungkin mereka bisa merasakan getaran getir di balik kalimat pendek itu.

Saat aku hendak pulang, salah satu teman menyelipkan catatan kecil ke tasku. Di dalamnya tertulis:

“Jika kamu merasa tenggelam, jangan malu untuk berenang ke permukaan. Bahkan cinta pun bisa membuatmu kehabisan napas, jika kau terlalu lama menahan diri.”

Aku membaca catatan itu berulang kali di dalam mobil. Hujan masih turun di luar. Kabin mobil menjadi ruang sunyi, tempat aku memeluk kalimat itu seperti pelampung.

Sampai rumah, kau belum pulang. Aku tak terkejut. Aku hanya mengganti baju, duduk di sudut sofa, dan menatap jam yang bergerak perlahan.

Pukul sembilan malam. Pukul sepuluh. Tak ada suara kunci, tak ada langkah mendekat.

Pukul sebelas lewat dua puluh menit, ponselku bergetar. Bukan dari nomormu. Tapi dari nomor yang sama nomor tanpa nama, yang pernah mengirimkan pesan menusuk beberapa pekan lalu.

Kau masih percaya dia akan pulang ke hatimu?

Aku tak membalas. Tapi pertanyaan itu terus berdentam di kepala. Menggema lebih nyaring dari bunyi hujan di atap.

Kau tiba hampir tengah malam. Wajahmu lelah. Tapi bukan lelah karena rindu. Lelah yang hanya dipunya oleh seseorang yang pulang ke rumah yang tak lagi dianggap rumah.

Aku tak bertanya kau dari mana. Kau pun tak menawarkan cerita. Begitulah kita sekarang dua orang asing yang saling mendengar napas, tapi tak lagi mengenal detaknya.

Di luar, hujan belum juga reda. Ia seperti perasaan yang sudah lama tumpah, tapi tak pernah habis. Dan aku pun duduk memeluk lutut, menatap langit-langit rumah yang perlahan seperti gua: gelap, lembab, dan dingin.

Lalu aku berpikir, barangkali rumah tangga ini seperti hujan yang tak pernah selesai. Ia tak meledak seperti badai, tapi menetes perlahan, setiap hari, sampai akhirnya tembok hati keropos dan runtuh pelan-pelan.

(Bersambung seri ke-8: Luka yang Tak Sempat Kuobati)

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This