Hari-hari Nenden, setelah menikah, berjalan seolah tak berubah—namun justru di situlah perubahan paling sunyi bekerja. Pasar Tanah Abang dan Cibubur menjadi dua poros hidupnya. Pagi yang sibuk, siang yang tergesa, malam yang menuntut kesabaran. Andrinov pun menjalani ritme yang sama: lima belas hari di Jakarta, lima belas hari di Malaysia. Waktu mereka disusun oleh jadwal penerbangan, pergerakan barang, dan arus uang—sebuah kehidupan yang, menurut sosiologi ekonomi, disebut mobile livelihood: mata pencaharian yang menuntut kehadiran di banyak tempat, tetapi jarang memberi ruang untuk benar-benar tinggal.
Tak terasa, waktu berlari. Nabila berusia lima tahun. Tahun 2013 datang dengan satu tonggak kecil yang besar maknanya: Taman Kanak-kanak. Pagi hari, Nenden mengantar putrinya ke sekolah. Ia merapikan rambut Nabila, menyematkan pita, menunduk agar mata mereka sejajar. “Belajar yang rajin,” katanya. Nabila mengangguk, lalu berlari kecil menuju halaman sekolah—sebuah gerak yang selalu membuat Nenden terdiam sesaat. Di momen-momen seperti itu, ia teringat ucapan Khalil Gibran: “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.”
Siang hari, pembantu Andrinov menjemput Nabila. Nenden harus berangkat ke Tanah Abang. Di blok A, denyut pasar berdetak tanpa henti. Bau kain baru, suara tawar-menawar, langkah kaki yang saling berkejaran. Di sinilah Nenden belajar—tentang harga, tentang kualitas, tentang jaringan. Ia mencatat, bertanya, mengamati. Dalam teori learning by doing, pengetahuan lahir bukan dari kelas, melainkan dari pengalaman yang diulang. Nenden menyimpan satu tekad: suatu hari ia akan memiliki toko sendiri. Bukan sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai pernyataan kemandirian.
Aneh—atau barangkali bukan—selama menikah, Nenden tak sekalipun dipertemukan dengan saudara-saudara Andrinov. Setiap kali bertanya, jawaban itu datang seperti mantra yang diulang: “Mereka di kampung. Di Padang dan Sawahlunto.” Namun Nenden mengenal banyak kerabat Andrinov dalam lingkaran bisnis. Ia berurusan dengan mereka di Jakarta, bahkan di Malaysia. Mereka profesional, ramah, efisien. Tidak ada konflik. Mereka tidak tahu bahwa Nenden adalah istri kedua Andrinov. Ketidaktahuan itu bekerja seperti tirai tipis—menjaga ketenangan, sekaligus menyimpan potensi badai.

Suatu siang, Nenden menangkap sesuatu yang berbeda. Wajah Andrinov kusam, seolah-olah pigmen keceriaannya terserap oleh beban yang tak kasat mata. Bahunya merosot, tampak jauh lebih berat dari biasanya, seolah memikul beban gravitasi yang tak proporsional. Nenden tak bertanya. Dalam psikologi relasi, terdapat konsep emotional attunement—sebuah kemampuan subliminal untuk membaca frekuensi emosi pasangan tanpa perlu aksara. Nenden memilikinya, dan ia memilih untuk menunggu hingga momentum yang tepat tiba.
Barulah dalam perjalanan pulang dari Tanah Abang, di antara deru mesin kendaraan yang beradu dan cahaya sore yang memantul keperakan di kaca spion, Nenden memberanikan diri memecah keheningan.
“Ada masalah serius, Bang?”
Andrinov mematung, pandangannya lurus menyapu aspal jalanan. Ia diam cukup lama—sebuah keheningan yang menegangkan, seolah-olah ia sedang menimbang berat jenis kata-kata yang akan ia lepaskan.
“Abang ketahuan istri pertama,” katanya lirih, hampir berupa bisikan yang tertelan bising kota.
Nenden terkejut, namun ia tidak runtuh. Secara kognitif, ia telah menyiapkan skema mental untuk kemungkinan terburuk sejak awal. Dalam khazanah fikih, para ulama sering mengingatkan bahwa kesiapan mental (isti’dad) adalah bagian integral dari ikhtiar manusia menghadapi takdir.
Ia bertanya dengan suara yang tetap terjaga ritmenya, “Bagaimana selanjutnya?”
“Abang harus memilih,” jawab Andrinov dengan napas yang berat. “Dia… atau Nenden.”
Nenden menelan napas, seolah menghirup seluruh kecemasan yang ada di kabin mobil itu. “Abang pilih siapa?”
Andrinov menoleh, matanya mencari kepastian di wajah Nenden yang tenang bak pualam. “Apakah Nenden mencintaiku?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, tidak mencari jawaban retoris yang cepat. Dalam pandangan eksistensialisme, cinta adalah komitmen yang terus-menerus didefinisikan ulang melalui tindakan. “Apa yang Abang rasakan selama ini?” balas Nenden, mengembalikan cermin refleksi itu kepada suaminya.
Andrinov mengangguk pelan, seolah baru saja menyelesaikan sebuah silogisme rumit di kepalanya. “Abang pilih Nenden. Tapi risikonya—Abang dikeluarkan dari daftar keluarga besar.”
Nenden terdiam sejenak, mencoba mencerna konsekuensi sosiologis dari kalimat itu. “Maksudnya?”
“Mereka tidak lagi mengakui Abang sebagai saudara, sebagai anak. Ayah dan Bunda mencoret nama Abang dari silsilah. Mereka memilih pihak istri tua Abang.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, serupa batu-batu kerikil yang dilemparkan ke dalam telaga tenang; riaknya meluas, menyentuh tepian kesadaran Nenden. Ia memejamkan mata sesaat, teringat pada untaian nasihat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: “Hati akan terus diuji hingga ia memilih—kepada siapa ia bergantung.” Pilihan Andrinov telah diucapkan, tetapi konsekuensinya baru saja membuka pintu menuju labirin ujian yang baru.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, Nenden menunaikan salat. Ia duduk bersimpuh cukup lama setelah salam, melakukan audit batin. Ia bukan perempuan naif yang buta akan risiko. Poligami, dalam perspektif agama, bukanlah perkara ringan yang bisa diselesaikan hanya dengan sentimen romantis. Para ulama—mulai dari Al-Ghazali yang menekankan manajemen kalbu hingga Yusuf al-Qaradawi yang menyoroti aspek keadilan sosial—selalu menekankan bahwa keadilan adalah syarat yang nyaris mustahil ditakar tanpa kejujuran radikal dan tanggung jawab yang kokoh. Nenden bertanya pada dirinya sendiri: keadilan macam apa yang sedang ia masuki? Ataukah ini justru awal dari ketidakadilan yang sistematis?
Hari-hari berikutnya berjalan dengan kehati-hatian yang presisi. Nenden tetap menjalankan rutinitasnya; mengantar Nabila ke sekolah, mengelola stok kain di Tanah Abang, dan menjaga harmoni rumah tangga. Namun kini, setiap langkahnya disertai kesadaran baru. Dalam struktur ekonomi keluarga, guncangan sosial—seperti pemutusan relasi keluarga besar atau social exclusion—seringkali berdampak pada stabilitas jangka panjang. Jaringan kekeluargaan bukan sekadar koneksi emosional; ia adalah jaring pengaman (social safety net) yang krusial. Nenden memahami realitas itu. Ia tidak panik, namun ia mulai membangun benteng kemandirian.
Ia berbicara pada Andrinov dengan ketenangan seorang filosof yang telah selesai dengan dunianya. “Abang sudah memilih. Sekarang, Abang juga harus bertanggung jawab. Bukan hanya pada Nenden secara lahiriah, tapi pada masa depan Nabila, dan yang paling penting, pada integritas diri Abang sendiri di hadapan Allah.”
Andrinov mengangguk. Ia menyadari bahwa pilihan yang diambilnya bukanlah garis finis, melainkan garis start menuju jalan yang jauh lebih sempit dan mendaki.
Di antara hiruk-pikuk Pasar Tanah Abang yang bising dan ketenangan semu rumah mereka di Cibubur, Nenden belajar satu hal yang tak pernah diajarkan secara tekstual di sekolah mana pun: bahwa cinta, iman, dan ekonomi seringkali bertaut dalam satu simpul yang sama. Hidup jarang sekali menyajikan pilihan-pilihan yang bersih dan tanpa noda. Kebaikan seringkali datang beriringan dengan ujian yang mengupas lapisan-lapisan kesabaran. Menjaga diri dan martabat di tengah dunia yang terus menawar harga diri adalah bentuk jihad yang nyata.
Nenden melangkah maju, bukan karena ia tidak memiliki ketakutan, melainkan karena ia memiliki “cahaya” yang terus ia rawat di dalam dadanya. Madu itu memang terasa manis di permukaan, namun menyimpan rasa pahit yang getir di ujungnya. Kali ini, ia menelannya dengan kesadaran penuh—sebuah penerimaan yang bermartabat atas pahitnya madu kehidupan. (Bersambung ke Bagian 14)


