Setelah akad yang berlangsung sederhana itu, hujan turun tipis di Cipayung. Bukan hujan deras seperti hari-hari gelisah sebelumnya, melainkan gerimis halus yang jatuh perlahan, seolah alam pun menahan suaranya agar tidak mengganggu sesuatu yang baru saja dimulai.
Nenden berdiri di teras rumah Iis. Nabila di sofa tertidur lelap, napasnya teratur, seakan tidak merasakan bahwa hidup ibunya baru saja berbelok ke jalur yang sama sekali berbeda. Di balik kelopak mata yang terpejam itu, Nenden merasa ada amanah yang semakin berat—bukan hanya sebagai ibu, tetapi kini juga sebagai istri.
“Jaga diri baik-baik,” ucap Iis pelan, sambil menepuk pundak Nenden.
Perempuan tua itu tidak menangis. Air matanya telah terlalu sering jatuh dalam hidup, hingga kini ia memilih menyimpannya di dada.
“Iya, Ma,” jawab Nenden.
Ia tahu, restu ibunya bukan restu yang riuh, melainkan restu yang lahir dari penerimaan terhadap takdir yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun tidak pula ia tolak.

Dalam Islam, pernikahan disebut mitsaqan ghalizha—perjanjian yang kuat. Ibnu Katsir menulis bahwa ikatan itu bukan hanya antara dua manusia, melainkan juga antara manusia dan Tuhannya. Nenden merasakan itu hari ini: kebahagiaan yang tidak sepenuhnya ringan, karena dibarengi kesadaran akan tanggung jawab yang membesar.
Tiga hari setelah pernikahan, Nenden dan Andrinov bebulan madu di tak jauh, ke Puncak. Nenden meninggalkan Nabila, dititipkan Iis. Itu pun setelah mamanya itu meminta.
“Biar kamu istirahat dulu. Jadi istri itu juga butuh jeda,” kata Iis, sambil menepuk bahu putrinya.
Vila tempat mereka menginap berdiri di lereng yang menghadap hamparan hijau kebun teh. Udara dingin menyusup sampai ke tulang, tapi matahari Puncak tetap setia muncul di sela kabut. Kolam renang kecil berkilau di pagi hari, memantulkan langit yang seolah selalu lebih dekat di daerah pegunungan.
Hari-hari itu berjalan tanpa banyak kata besar. Tidak ada euforia berlebihan. Tidak ada janji-janji yang melangit. Mereka sarapan bersama, berjalan pelan di halaman vila, berbincang tentang hal-hal sederhana—tentang Tanah Abang, tentang harga kain yang naik turun mengikuti kurs dolar, tentang Nabila, dan tentang kelelahan hidup yang tidak selalu bisa diucapkan.
Dalam psikologi pernikahan, John Gottman menyebut bahwa fondasi hubungan jangka panjang bukanlah romantisme sesaat, melainkan trust dan respect yang dibangun dari interaksi sehari-hari. Nenden tidak berharap surga di dunia. Ia hanya berharap ketenangan yang tidak palsu.
Pada malam ketiga, selepas salat Isya, Nenden duduk lama di balkon vila. Angin membawa aroma tanah basah. Andrinov menghampiri dan duduk di sampingnya, tanpa berkata apa-apa.
“Bang,” kata Nenden akhirnya, “Nenden bukan perempuan sempurna.”
“Aku tahu,” jawab Andrinov.
“Dan Abang juga bukan laki-laki tanpa masa lalu.”
“Aku juga tahu.”
Percakapan itu berhenti di sana. Tidak perlu diteruskan. Ada hal-hal yang cukup dipahami tanpa harus dirinci.
Setelah tiga hari, mereka kembali ke Jakarta. Nenden menjemput Nabila di Cipayung sebelum menuju Cibubur. Begitu melihat ibunya, Nabila langsung berlari kecil dan memeluk kakinya erat-erat.
“Mama ke mana?” tanyanya polos.
Nenden berjongkok dan mencium rambut anak itu. “Mama pergi sebentar.”
Di dalam mobil menuju Cibubur, Nenden duduk di kursi co-pilot sedangkan Nabila di belakang. Rumah Andrinov di sana cukup luas, dengan halaman depan yang ditumbuhi pohon kamboja. Ada seorang pembantu rumah tangga dan seorang tukang kebun yang sudah lama bekerja di situ. Mereka menyambut Nenden dengan sopan, sedikit canggung—seperti semua orang yang sedang belajar menerima kehadiran baru.
Rumah kontrakan di Tanah Abang tetap dipertahankan. Bagi Andrinov, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal sementara, melainkan bagian dari strategi ekonomi. Dalam teori ekonomi mikro, efisiensi logistik sering kali lebih penting daripada kenyamanan personal. Rumah itu menjadi gudang, tempat menyimpan stok kain dan pakaian sebelum didistribusikan ke toko.
Hari-hari Nenden kini terbagi rapi. Pagi bersama Nabila, siang mengurus rumah, sore sesekali ke Tanah Abang jika Andrinov sedang di Jakarta. Ia tidak lagi hanya menjadi penerima keputusan, melainkan perlahan belajar membaca peta hidupnya sendiri.
Ia teringat ucapan Ali bin Abi Thalib: “Janganlah engkau menjadi budak bagi orang lain, padahal Allah telah menciptakanmu merdeka.”
Nenden tahu, pernikahan ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan bab baru yang menuntut kecerdasan, kesabaran, dan iman. Madu itu ada—manisnya nyata. Tapi pahitnya pun tak pernah benar-benar hilang.
Dan mungkin, di situlah hidup menemukan kejujurannya.
***


