Bisnis Nenden sangat terganggu dan nyaris bangkrut ketika pada suatu hari ia mendapatkan telepon dari Muamar. Dia adalah seorang warga negara Malaysia yang kerap melintasi batas kedaulatan untuk berburu keuntungan di belantara tekstil Indonesia. Nenden mengenalnya saat ia masih menjadi bagian dari ekosistem bisnis keluarga Andrinov di Tanah Abang—sebuah labirin perdagangan yang dalam teori Distribusi Global merupakan titik temu ribuan kepentingan.
Muamar, dengan dialek Melayunya yang halus dan penampilannya yang memancarkan aura affluence (kemapanan), sepintas terlihat seperti subjek yang kredibel. Namun, dalam kacamata psikologi forensik, Muamar adalah praktisi grooming finansial yang ulung. Ia tidak menerkam mangsanya seketika; ia memberinya umpan berupa rasa percaya.
Kerja sama itu dimulai dengan nominal yang moderat, sepuluh juta rupiah.
“Oke, berapa keuntungan yang akan saya peroleh?” tanya Nenden suatu sore, terjebak dalam apa yang disebut sebagai optimism bias.

“Dalam satu bulan akan menjadi lima belas juta,” jawab Muamar tenang.
Nenden melepas uangnya. Sebulan kemudian, Muamar mengembalikan tujuh belas juta. Kelebihan dua juta dari janji awal adalah Operant Conditioning—sebuah teknik untuk memperkuat perilaku target melalui imbalan yang melebihi ekspektasi. Nenden, yang secara sosiologis sedang berjuang membangun martabat pasca-cerai, merasa telah menemukan jalan pintas menuju kemandirian ekonomi.
Lalu, angka-angka itu beranak-pinak secara eksponensial. Dari sepuluh menjadi dua puluh lima, hingga akhirnya Muamar melemparkan umpan pamungkas.
“Kalau Tante Nenden taruh seratus juta, nanti bisa jadi seratus lima puluh juta lebih,” goda Muamar.
Nenden seperti terbius. Dalam ilmu saraf, ia sedang berada di bawah kendali hormon dopamin yang meluap, menumpulkan fungsi prefrontal cortex yang bertugas mengambil keputusan rasional. Ia melakukan tindakan nekat yang dalam manajemen risiko disebut sebagai Over-leveraging. Ia menjaminkan BPKB mobil Avanzanya ke bank demi empat puluh juta rupiah. Tak berhenti di situ, fisik mobilnya—yang dokumennya sudah “disekolahkan”—ia gadaikan lagi kepada Haji Kholil senilai tiga puluh lima juta. Ditambah modal putar dari Muamar sebelumnya, genaplah seratus juta rupiah.
Nenden menyerahkan seratus juta itu dengan harapan sebulan lagi ia akan menggenggam seratus lima puluh juta. Ia membayangkan utang-utangnya lunas dan rukonya terbangun. Namun, hukum alam semesta tidak bekerja melalui keajaiban instan yang melanggar logika sunnatullah.
Setelah uang itu berpindah tangan, Muamar raib. Nomor teleponnya menjadi orkestra sunyi yang tak terjangkau. Nenden yang lugu nyaris pingsan saat menyadari bahwa ia baru saja terjebak dalam Skema Ponzi skala kecil. Seratus juta rupiahnya menguap ke udara tipis, meninggalkan ia dengan bunga bank yang mencekik dan mobil yang terancam disita.
Kasus inilah yang membuat Nenden harus menghubungi Andrinov. Petang itu, Megamendung dibalut atmosfer yang mencekam. Langit meluruhkan kelabu, dan kabut turun dengan densitas yang lebih pekat, menelan lereng-lereng bukit hingga menyisakan sunyi yang intimidatif. Di tengah kedinginan yang merayap, Nenden menggenggam ponselnya. Dengan sisa keberanian yang rapuh, ia menghubungi Andrinov. Suaranya datar, pendek, nyaris tanpa modulasi emosi—sebuah tanda klinis dari emotional numbing akibat stres yang berkepanjangan.
“Kita ketemu,” ujarnya singkat.
Di seberang sana, Andrinov menyambut dengan antusiasme yang transparan. Ada kegembiraan yang bagi Nenden terasa ganjil, bahkan patologis: seolah-olah penderitaan yang sedang menjerat Nenden adalah kunci yang membuka pintu harapan bagi ambisi pribadinya.
Saat itu, Nenden berada pada titik nadir eksistensinya. Puluhan juta rupiah lenyap ditelan skema culas tersebut. Itu bukan uang mengendap, melainkan pinjaman bank yang secara matematis akan terus membengkak karena bunga. Dalam teori ekonomi perilaku, kondisi Nenden disebut sebagai Financial Entrapment—sebuah keadaan di mana tekanan utang yang berlapis melumpuhkan fungsi kognitif prefrontal, sehingga seseorang kehilangan kejernihan rasionalitasnya.
Nenden tak memiliki banyak opsi. Ia terpaksa mendatangi Andrinov, satu-satunya penghubung dengan sang pelaku. Pertemuan terjadi di sebuah vila yang terisolasi—sebuah setting yang terlalu sunyi untuk sebuah permohonan tolong yang tulus. Di sana, Nenden menyadari sebuah hukum rimba yang pahit: bahwa bantuan sering kali tidak datang tanpa biaya tambahan.
Andrinov menginginkan imbalan yang melampaui materi. Dalam kondisi terdesak, Nenden kalah bukan oleh argumen, melainkan oleh situasi. Ia menyerahkan dirinya bukan karena cinta yang bersemi kembali, melainkan karena rasa tidak berdaya yang absolut. Dalam psikologi trauma, tindakan ini dikategorikan sebagai Coerced Consent yaitu persetujuan yang lahir dari ketiadaan pilihan, sebuah tindakan defensif untuk bertahan hidup di tengah kepungan masalah.
Usai peristiwa itu, Andrinov berujar dengan nada otoritatif, seolah-olah ia adalah mufti bagi hidup Nenden:
“Karena kita sudah berhubungan lagi, berarti kita rujuk.”
Nenden terdiam. Tidak mengiyakan, tidak pula membantah secara lisan. Ia hanya menangis dalam kesunyian yang perih. Di dalam batinnya, terjadi pergulatan hebat antara rasa jijik, marah, dan benci yang mengkristal menjadi satu. Ia merasa dijebak melalui Tafsir Hegemonik atas nama agama.
Dalam diskursus fikih Islam, rujuk memang dianggap sah melalui hubungan suami istri selama masa iddah (jika memang masih dalam masa itu), sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Namun, para pemikir besar seperti Imam Malik dan ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa ruh dari rujuk adalah Niat Ishlah—sebuah kehendak tulus untuk melakukan perbaikan demi kemaslahatan bersama, bukan sebagai instrumen eksploitasi di saat pihak lain lemah.
Nenden tahu, tidak ada ishlah di sana. Yang terjadi adalah sebuah transaksi gelap yang dibungkus dengan narasi doktrinal.
Kabar pertemuan itu menyebar di kalangan kolega dengan kecepatan gosip yang destruktif. Publik, yang sering kali menderita fundamental attribution error, hanya melihat permukaan: “Oh, mereka kembali lagi.” Nenden memilih untuk membisu. Dalam filsafat eksistensial, diam bukanlah tanda kekalahan; itu adalah sebuah Strategi Defensif untuk menjaga sisa-sisa kewarasan. Benarlah ucapan Friedrich Nietzsche bahwa orang sering kali enggan mendengar kebenaran karena mereka tidak ingin ilusi mereka hancur.
Agar jiwanya tidak runtuh oleh rasa bersalah yang berlapis, Nenden memilih memaknai kejadian itu sebagai sesuatu yang halal secara formalitas—sebuah bentuk self-healing untuk meredam kegoncangan jiwanya. Namun, setelah itu, ia mengambil keputusan yang rigid: ia memutus total mata rantai tersebut. Ia tidak akan lagi menemui Andrinov dalam kondisi apa pun.
Nenden mempraktikkan apa yang diajarkan oleh Viktor Frankl, penyintas Holocaust dan pendiri logoterapi: “Ketika seseorang tidak bisa lagi mengubah keadaan, ia ditantang untuk mengubah dirinya sendiri.”
Nenden berhenti menjadi pemohon bantuan. Ia bertransformasi menjadi petarung yang mulai belajar berdiri di atas kakinya yang gemetar, merayap perlahan dari dasar jurang utang bank tersebut. Sejak hari itu, kepahitan dalam hidup Nenden bukan lagi berasal dari “madu” yang ditawarkan orang lain, melainkan dari kesadaran pahit bahwa tidak semua yang berlabel agama membawa rahmat jika dilakukan oleh tangan-tangan yang manipulatif.
Namun, justru dari titik nol inilah, Nenden menemukan kembali martabatnya yang sempat tergadai. Ia menyadari bahwa kesucian diri bukan terletak pada apa yang dilakukan orang lain kepadanya di saat ia lemah, melainkan pada keteguhannya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.
Di tengah badai itu, Nenden duduk termenung di Megamendung. Kabut seolah ikut masuk ke dalam dadanya. Ia teringat pepatah Sunda: “Kacai jadi saleuwi, kadarat jadi salebak.” Seharusnya, dalam sebuah hubungan, sepasang suami-istri (atau mantan sekalipun dalam urusan anak) harus seirama menghadapi masalah. Namun Andrinov justru menjadi batu sandungan.
Dalam keputusasaan yang absolut itu, ia menghubungi Andrinov. Ia mengharapkan bantuan, namun yang ia terima adalah belati kata-kata. Andrinov sempat mengatakan, Nenden goblok.
Ucapan itu meruntuhkan sisa-sisa harga dirinya. Filsuf Arthur Schopenhauer berkata: “Banyak orang kehilangan kekayaan karena mereka berharap bisa menggandakannya dengan cepat.” Andrinov tidak melihat mantan istrinya sebagai korban yang butuh pertolongan, melainkan sebagai objek kegagalan yang layak dicemooh.
Andrinov tidak memahami prinsip Maqasid Syariah tentang Hifdzul Maal (menjaga harta), ia hanya tahu cara menyalahkan. Kejadian inilah yang nantinya menjadi titik balik Nenden. Ia menyadari bahwa ia telah meminum “madu” dari tangan Muamar yang ternyata racun, dan kini ia harus menelan “empedu” dari lisan dan kelakuan Andrinov.
Peristiwa seratus juta itulah yang memaksanya kembali masuk ke dalam “perangkap” Andrinov di vila Megamendung demi bantuan penyelesaian utang. Sebuah harga mahal yang harus ia bayar karena sebuah keluguan. Nenden belajar dengan cara yang paling perih, bahwa dalam bisnis maupun cinta, janji yang terlalu manis sering kali memiliki akar yang paling pahit.
***


