Oleh Miftah H. Yusufpati
KABAR tentang “tujuh juta” dan klaim rujuk Andrinov merambat di antara rimbunnya pohon suren Cipayung laksana spora yang terbawa angin pegunungan. Halus, tak kasat mata, namun mampu menumbuhkan jamur prasangka di mana pun ia hinggap. Informasi itu akhirnya mendarat di meja diskusi Hidayat, sang jurnalis yang selama ini menyimpan ambisi di balik perut buncit dan ponselnya.
Di sebuah warung kopi dengan pemandangan lembah yang curam, Hidayat duduk terpaku. Wajahnya yang gempal tampak mendung, lebih gelap dari awan kumulonimbus yang menggantung di puncak Gunung Gede.
“Ternyata, Nenden belum beres urusan cerainya,” ujar Hidayat kepada Ronaldo. Suaranya mengandung getaran kekecewaan yang dalam, sebuah cognitive dissonance antara citra Nenden yang ia puja dengan realitas yang baru saja ia dengar.

Ronaldo, yang selalu memandang hidup dengan kacamata sinisme yang praktis, hanya terkekeh sambil menyulut rokoknya. “Ah, kamu itu hanya di-PHP saja, Dayat. Kok serius begitu? Dari awal juga Nenden itu cuma menganggapmu kolega dagang, bukan pelabuhan hati.”
Namun, bagi Hidayat, ucapan Ronaldo laksana siraman cuka pada luka yang menganga. Dalam psikologi, Hidayat sedang terjebak dalam erotomania ringan, sebuah kondisi di mana seseorang meyakini secara delusif bahwa orang lain mencintainya, hanya karena keramahan sosial yang disalahartikan sebagai sinyal romantic.
Hidayat yang gundah tak mampu membendung rasa penasarannya. Ia mendatangi ruko Nenden. Aroma kain baru dan harum melati dari pengharum ruangan menyambutnya, namun atmosfer di antara mereka terasa ganjil. Dengan retorika yang disusun sedemikian rupa—khas seorang pencari berita—ia mengonfirmasi klaim Andrinov.
“Nen, apa benar yang dikatakan Andrinov? Katanya kalian sudah rujuk sebulan lalu?” tanya Hidayat, matanya menyelidik, mencari celah di balik ketenangan wajah Nenden.
Nenden terdiam. Ia menatap Hidayat dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kelelahan mental dan kalkulasi strategis. Ia teringat kaidah fikih tentang As-Sukut fi Ma’ridhi al-Hajah Bayan (Diam dalam kondisi yang membutuhkan penjelasan adalah sebuah penjelasan). Namun, Nenden memilih diam bukan untuk membenarkan, melainkan untuk melakukan social distancing secara emosional.
Bagi Nenden, jika Hidayat percaya pada fitnah Andrinov, maka itu adalah “berkah dalam musibah.” Dengan menganggap Nenden masih beristri, Hidayat secara moral akan terhenti langkahnya untuk terus mengejarnya. Ia membiarkan Hidayat terjebak dalam misinformasi demi keamanan jiwanya sendiri.
Namun, Nenden melupakan satu hal dalam teori komunikasi: Noise atau gangguan dalam penyampaian pesan sering kali menghasilkan kesimpulan yang lebih berbahaya. Diamnya Nenden oleh Hidayat tidak diterjemahkan sebagai penolakan, melainkan sebagai “kepasrahan seorang wanita yang terjepit.”
Hidayat justru semakin merasa memiliki peran sebagai “pahlawan” yang ingin membebaskan Nenden dari belenggu Andrinov. Ia salah menerjemahkan keramahan Nenden yang selama ini ia terima. Padahal, keramahan Nenden hanyalah pengejawantahan dari falsafah Sunda: “Kudu hade laku lampah, someah hade ka semah.” Maknanya, harus baik dalam berperilaku, ramah dan baik kepada tamu.
Nenden bersikap baik kepada Hidayat karena ia menghargai profesi dan jaringan pria itu untuk bisnisnya. Namun, di mata Hidayat, setiap senyum Nenden adalah investasi perasaan. Ia tidak memahami peringatan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: “Fitnah terbesar bagi laki-laki adalah ketidakmampuannya membedakan antara kebaikan budi pekerti seorang wanita dengan isyarat cinta.”
Maka terjadilah persimpangan niat yang tragis. Nenden ingin Hidayat menjauh dengan membiarkan fitnah itu bekerja, sementara Hidayat justru ingin merapat karena merasa Nenden sedang dalam kesulitan. Di sisi lain, Andrinov terus memoles “bukti transfer tujuh juta” itu sebagai senjata pemungkas.
Logika Game Theory mulai bermain di sini; setiap tokoh melakukan langkah untuk keuntungan masing-masing, namun semuanya menuju pada satu titik ledak: kehancuran reputasi Nenden.
Nenden berdiri di ambang pintu rukonya, menatap punggung Hidayat yang menjauh. Ia berbisik pada angin malam, “Gusti, naha madu teh bet pait kieu?” (Tuhan, mengapa madu ini terasa begitu pahit?). Ia sadar, kejujurannya kepada Haekal nantinya adalah satu-satunya jalan keluar dari labirin tafsir yang menyesakkan ini. Sebab, hanya pada Haekal-lah, ia berani menanggalkan semua topeng dan menceritakan bahwa tujuh juta itu adalah jerat, dan diamnya adalah benteng.
***


