Nenden terpana. Ia membaca pesan itu berulang kali. Secara psikologis, Haekal sedang mengalami displaced aggression—pengalihan kemarahan dari subjek penipunya kepada Nenden yang dianggapnya bagian dari pola yang sama. Haekal sedang melakukan stereotyping terhadap dunia perjodohan sebagai sebuah pasar gelap yang transaksional.
Nenden menatap ke luar jendela, ke arah kabut yang mulai menutupi jalanan Cipayung. Tepatkan ucapan Imam Syafi’i: “Apabila orang bodoh atau orang yang sedang emosi berbicara kepadamu, maka janganlah engkau menjawabnya. Karena sekiranya engkau menjawabnya, maka engkau telah menggembirakannya. Dan jika engkau mendiamkannya, maka dia akan mati dalam kesedihannya.”
Nenden sadar, Haekal bukan orang bodoh, tapi ia sedang terluka. Dan dalam ilmu komunikasi, berargumen dengan orang yang sedang berada dalam fase refractory period (periode di mana emosi menutup logika) adalah usaha yang sia-sia.
“Bang Haekal mungkin sedang melihat dunia melalui kacamata yang retak,” gumam Nenden lirih.

Ia tidak membalas. Ia tidak membela diri, meski hatinya sedikit tergores karena niat baiknya dianggap sebagai modus penipuan baru. Dalam falsafah hidupnya, “Ulah adigung ku payung butut”—jangan sombong, tapi jangan pula merasa rendah diri di depan penghinaan. Ia memilih untuk melupakan pesan itu, menganggapnya sebagai debu yang lewat di tengah badai hidupnya yang belum juga usai.
Nenden kembali pada tumpukan kain gamisnya. Ia harus melunasi utang bank yang empat puluh juta itu. Baginya, urusan Haekal adalah insignificant jika dibandingkan dengan beban bunga bank yang terus berdetak seperti bom waktu. Ia tidak tahu bahwa dalam ilmu Serendipity, terkadang perkenalan yang paling buruk adalah awal dari sebuah ikatan yang paling kokoh.
Alam semesta sering kali bekerja dengan cara yang melampaui logika linear manusia. Dalam fisika kuantum, terdapat fenomena entanglement—sebuah keterikatan di mana dua partikel tetap terhubung meski dipisahkan oleh jarak dan prasangka. Begitu pula dengan Haekal. Setelah ledakan sinisme yang sempat membekukan komunikasi, sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel Nenden beberapa hari kemudian, meruntuhkan dinding pembatas yang sempat ia bangun.
“Besok bisa ketemu?” tanya Haekal.
Nenden, yang memiliki sifat dasar panyabaran (penyabar) dan cenderung melakukan emotional filtering terhadap memori buruk, tidak menyimpan dendam atas kata-kata Haekal sebelumnya. Ia langsung menyetujui. Pertemuan itu direncanakan di Café Kopi Lau, sebuah sudut di Cipayung yang menawarkan aroma kopi robusta dan ketenangan lereng bukit, jauh dari hiruk-pikuk transaksional Jakarta.
Sore itu, di meja kayu Kopi Lau, Nenden duduk mendampingi Nita. Haekal datang dengan penampilan yang bersahaja namun memancarkan aura intelektualitas yang kuat. Namun, dalam ilmu psikologi persepsi, terdapat konsep selective attention—seseorang cenderung fokus pada objek yang memberikan resonansi emosional paling kuat.
Alih-alih mendalami karakter Nita, mata Haekal justru terus tergelincir pada sosok Nenden. Pertemuan yang seharusnya menjadi ajang perjodohan bagi Nita, perlahan berubah menjadi medan magnet antara Haekal dan Nenden. Ada frekuensi yang saling bersambut. Nenden merasakan getaran aneh di dadanya—sebuah reaksi oksitosin yang sudah lama tidak ia rasakan—setiap kali mata Haekal beradu dengan miliknya.
Setelah percakapan yang jujur, Haekal dengan jantan mengakui ketidakcocokannya dengan Nita. Namun, ia tidak berhenti di situ. Di hadapan Nenden, ia membuka tirai kejujurannya sedalam mungkin.
“Saya ingin menikah lagi,” ujar Haekal, suaranya tenang namun berwibawa. “Tujuan saya adalah ibadah, dan saya ingin mendapatkan seks yang halal dan sehat. Di Jakarta, saya mampu membeli seks; pilihannya banyak dan murah. Tapi itu tidak halal, tidak sehat secara medis, dan tidak memberikan ketenangan secara spiritual. Selain itu, saya juga mencari cinta.”
Pernyataan Haekal yang lugas—tanpa bungkusan eufemisme yang munafik—justru menjadi daya tarik luar biasa bagi Nenden. Dalam sosiologi agama, kejujuran terhadap motif biologis (seks) yang disandarkan pada koridor syariat adalah bentuk integritas moral. Nenden membaca Haekal sebagai lelaki yang sudah selesai dengan topeng-topeng sosialnya. Imam Al-Ghazali dalam Kimiya-e Saadat mengatakan bahwa pernikahan adalah benteng bagi agama dan ketenangan bagi jiwa.
Nenden terpana. Ia terbiasa menghadapi lelaki seperti Andrinov yang menggunakan narkoba untuk pelarian, atau Hidayat yang menggunakan kekuasaan untuk transaksi. Namun Haekal? Ia menawarkan kejujuran yang telanjang.
“Dia jujur. Dia tidak munafik,” batin Nenden.
Dalam teori interpersonal attraction, rasa suka sering kali muncul karena adanya similarity atau kemiripan nilai. Nenden yang lelah dengan kepalsuan, menemukan “oase” dalam keterusterangan Haekal. Meskipun posisi Haekal saat itu sedang mencari istri kedua, bagi Nenden, kejujuran Haekal tentang hasrat dan tanggung jawabnya terasa jauh lebih suci daripada lelaki yang mengaku setia namun menyimpan busuk di belakang.
Pertemuan di Kopi Lau hari itu berakhir dengan kegagalan bagi Nita, namun menjadi milestone baru bagi Nenden. Madu yang dulu terasa pahit kini mulai menunjukkan sisi lain. Ia mulai bertanya-tanya, mungkinkah lelaki yang sempat ia anggap sewot ini adalah jawaban atas doanya di atas sajadah Megamendung?
Sejak pertemuan di Kopi Lau, frekuensi komunikasi antara Haekal dan Nenden mengalami eskalasi yang signifikan. Dalam teori Media Richness, pesan singkat WhatsApp yang mengalir di antara mereka bukan lagi sekadar pertukaran data, melainkan jembatan bagi dua jiwa yang sedang melakukan scanning emosional. Anehnya, Nenden yang biasanya begitu protektif terhadap ruang pribadinya, kini mulai merasakan anticipatory anxiety—sebuah rasa rindu yang mendebarkan setiap kali notifikasi ponselnya berbunyi.
Puncaknya terjadi ketika Haekal mengirimkan pesan yang memutus semua keraguan:
“Jangan carikan saya istri lagi. Saya ingin menjadikan Nenden istri saya.”


