Sore itu, atmosfer di Restoran MM Juice terasa lebih hangat dibandingkan dinginnya udara Megamendung yang biasanya menusuk. Di balik meja yang tertata rapi, Haekal dan Nenden duduk berhadapan. Jika pertemuan di Kopi Lau adalah pembuka tabir, maka pertemuan di MM Juice ini adalah peletakan batu pertama bagi sebuah bangunan komitmen yang baru.
Haekal, dengan ketenangan seorang pria yang telah kenyang mengecap asam garam kehidupan, menyampaikan niatnya tanpa retorika yang berlebihan. Ia tidak menawarkan bulan atau bintang; ia menawarkan sebuah akad, perlindungan, dan jalan menuju rida Tuhan melalui poligami yang bermartabat.
Nenden menatap Haekal. Di dalam hatinya, berkecamuk rasa haru yang luar biasa. Namun, sebagai wanita yang memegang teguh kaidah kesucian pasca-ketergelinciran di vila waktu itu, ia mengajukan syarat yang sarat akan makna spiritual dan hukum.
“Bang, Nenden menerima lamaran Abang. Tapi Nenden minta waktu dua bulan. Kita tunggu sampai tiga kali haid, ya, Bang,” ujar Nenden dengan nada yang mantap namun lembut.

Dalam perspektif Fikih Munakahat, permintaan Nenden adalah bentuk istibra’ yang sempurna—sebuah upaya memastikan kebersihan rahim sekaligus masa penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Meskipun secara hukum masa iddah dengan Andrinov sudah lama habis, Nenden ingin memasuki pernikahan baru dengan Haekal dalam kondisi “nol” secara biologis dan spiritual. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada residu masa lalu, sekecil apa pun, yang terbawa ke dalam mahligai barunya.
“Ya, itu waktu yang cukup untuk kita saling mengenal lebih dalam,” balas Haekal bijak. Ia menghargai prinsip Nenden sebagai bentuk integritas diri yang tinggi.
Hari-hari berikutnya di Cipayung dilalui Nenden dengan warna yang berbeda. Hubungan mereka kian intim secara emosional, sebuah tautan chemistry yang dalam psikologi disebut sebagai companionate love—cinta yang dibangun di atas keintiman dan komitmen. Namun, Nenden memilih untuk menyimpan rapat-rapat rahasia ini dari Iis, mamanya.
Nenden sadar, dalam struktur sosiologi keluarga Sunda, figur ibu seperti Iis memiliki insting protektif yang tajam. Setelah dua kali melihat putrinya hancur, Iis pasti akan menghujani Nenden dengan ribuan pertanyaan skeptis. Apalagi Haekal datang dengan status “ingin beristri kedua”—sebuah label yang sering kali distigmatisasi secara negatif oleh masyarakat awam.
“Nanti saja, jika waktunya sudah tepat,” batin Nenden. Ia menikmati getaran rindu yang tumbuh diam-diam, sebuah kontras yang tajam jika dibandingkan dengan pengalamannya bersama Daniel maupun Andrinov.
“Bang Haekal itu seperti bumi dan langit jika dibandingkan dengan mereka,” bisik Nenden pada bayangannya di cermin. Jika Daniel adalah masa muda yang ceroboh, dan Andrinov adalah badai beracun yang menghancurkan, maka Haekal adalah tanah yang kokoh tempatnya berakar—seorang lelaki yang tidak gagah secara fisik, namun memiliki haibah (wibawa) karena kejujurannya.
Meski bersembunyi dari sang ibu, Nenden tidak lagi merasa perlu bersembunyi dari dunia luar. Kepada sahabat-sahabat karibnya di lingkungan bisnis dan kolega di Cipayung, ia mulai memperkenalkan Haekal dengan binar mata yang tidak bisa berbohong.
“Ini calon suami Nenden,” ujarnya dengan nada bangga yang autentik.
Bagi Nenden, memperkenalkan Haekal bukan sekadar pamer pasangan, melainkan sebuah pernyataan kedaulatan diri. Ia ingin dunia tahu bahwa ia telah menemukan pelabuhan yang benar. Ia tidak lagi peduli pada gosip Hidayat atau sindiran Ronaldo. Ia merasa terlindungi oleh kejujuran Haekal yang berani mengakui niatnya untuk poligami secara terbuka daripada berselingkuh secara sembunyi-sembunyi.
Sikap Nenden ini mencerminkan falsafah Sunda, “Nanjeur di buana, teuneung ludeung dina bener”—berdiri tegak di dunia, berani karena berada di jalan kebenaran. Ia sedang menjemput “madu” barunya, yang ia yakini tidak akan lagi terasa pahit, karena prosesnya diawali dengan kejujuran yang pahit di awal.
Dua bulan yang ia minta adalah masa transisi menuju fajar yang baru. Setiap hari yang dilewati adalah satu langkah menjauh dari bayang-bayang Megamendung, menuju sebuah masa depan yang ia harap diberkati oleh doa-doa yang tulus.
***


