Madu Pahit Nenden — Bagian 17: Fitnah

Must Read

Pernyataan itu mendarat seperti gelombang statis yang membuat jantung Nenden berdegup melampaui ritme normalnya. Secara psikologis, Nenden sedang mengalami Ambi-valensi. Di satu sisi, luka dari dua kegagalan domestik sebelumnya masih meninggalkan jaringan parut yang belum sembuh total—terutama trauma coerced consent akibat manipulasi Andrinov di Megamendung. Namun di sisi lain, Haekal memancarkan vibe yang sama sekali berbeda.

Secara visual, Haekal tidak memiliki physical prowess atau kegagahan yang mencolok. Namun, ia memiliki daya tarik yang dalam psikologi disebut sebagai Sapiosexual Attraction—daya tarik yang muncul dari kedalaman intelektual, kejujuran, dan ketegasan prinsip. “Dia suami yang ideal,” bisik batin Nenden, mencoba meyakinkan dirinya sendiri di tengah badai trauma.

Setelah beberapa jam tenggelam dalam kontemplasi, Nenden memberanikan diri mengetik jawaban singkat yang menjadi kunci pembuka gerbang hatinya: “Abang serius?”

Jawaban itu adalah green light bagi Haekal. Maka, sebuah pertemuan eksklusif pun digelar. Kali ini, bukan lagi tentang perjodohan Nita, melainkan tentang penyatuan dua entitas yang sarat dengan beban masa lalu.

Milad 117 H Muhammadiyah

Di hadapan Haekal, Nenden memutuskan untuk melakukan radical honesty. Ia tidak ingin membangun istana di atas pasir kebohongan. Dengan suara yang terkadang bergetar namun tatapan yang tetap terjaga, ia membentangkan seluruh lembar hitam hidupnya. Ia menceritakan kegagalan pernikahannya dengan Daniel dan Andrinov, keterjepitannya dalam sindikat perjodohan, hingga titik nadir saat ia tergelincir oleh tipu daya Andrinov yang menyakitkan.

Nenden juga dengan tegas mengklarifikasi posisinya terkait Hidayat, menyadari bahwa Haekal—sebagai pria yang memegang teguh code of conduct pertemanan—merasa terbebani oleh bayang-bayang sahabatnya itu.

“Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Bang Hidayat. Hanya teman biasa,” tegas Nenden. Dalam filsafat sosial, Nenden sedang meneguhkan otonomi diri, bahwa ia bukanlah objek yang bisa diklaim oleh siapa pun hanya karena sebuah keramahan.

Haekal mendengarkan dengan saksama. Baginya, masa lalu Nenden bukanlah kotoran yang harus dijauhi, melainkan rangkaian peristiwa yang membentuk struktur kepribadian Nenden yang kokoh saat ini. Ia teringat ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib: “Janganlah engkau melihat siapa yang bicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan.” Haekal menghargai kejujuran Nenden yang “telanjang”. Dalam konteks poligami yang ia tuju, ia mencari seorang pendamping yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Kekhawatirannya tentang Hidayat bukan karena ia ragu pada Nenden, melainkan ia ingin memastikan bahwa langkahnya tidak menabrak prinsip fathul dzari’ah—menutup jalan fitnah.

“Kalau Nenden jujur, Abang pun akan jauh lebih jujur,” sahut Haekal tenang.

Pertemuan itu menjadi sebuah sesi logoterapi bagi keduanya. Nenden merasa bebannya terangkat satu per satu setelah diakui dan diterima oleh Haekal tanpa penghakiman moral yang dangkal. Sebagaimana kata Rumi: “Luka adalah tempat di mana cahaya memasuki dirimu.”  Dan sore itu, melalui luka-luka Nenden yang menganga, cahaya integritas Haekal mulai merasuk, menawarkan sebuah kemungkinan tentang “madu” yang tidak lagi pahit.

Di bawah temaram lampu kafe yang mulai membias, Haekal mengajukan pertanyaan yang menjadi kunci dari segala kerumitan hukum yang melilit Nenden. Sebagai lelaki yang memahami ushul fikih, Haekal tahu bahwa ketidakjelasan status adalah celah bagi kemudaratan.

“Lalu, bagaimana status pernikahan Nenden sekarang?” tanya Haekal dengan nada yang tidak menghakimi, melainkan menuntut kepastian hukum.

Nenden menarik napas panjang, mencoba mengurai simpul mati yang selama ini mencekik kesadarannya. Ia menceritakan kronologi pahit itu: perceraian dengan Andrinov yang sudah terjadi dua tahun silam, jeratan utang bank empat puluh juta akibat penipuan, hingga momen di vila Megamendung di mana Andrinov melakukan eksploitasi seksual dengan dalih “rujuk otomatis”.

“Andrinov menganggap hubungan hari itu sebagai rujuk. Padahal, masa iddah sudah berakhir beribu malam yang lalu. Bagaimana mungkin persetubuhan itu dianggap penyambung pernikahan yang sudah mati?” tutur Nenden dengan mata yang berkaca-kaca.

Secara ilmiah-keagamaan, Haekal menganalisis penuturan Nenden melalui lensa Fikih Munakahat. Dalam pandangan mayoritas ulama, termasuk Imam Syafi’i, rujuk hanya berlaku jika dilakukan di dalam masa iddah (tiga kali suci atau tiga bulan). Jika masa iddah telah terlampaui—apalagi hingga dua tahun—maka statusnya adalah talak ba’in sughra.

Hubungan intim yang terjadi setelah masa iddah habis tidak secara otomatis menjadikan mereka suami-istri kembali. Secara hukum syariat, itu adalah sebuah ketergelinciran (zina) yang membutuhkan taubatan nasuha, bukan sebuah legalitas rujuk. Rujuk bagi pasangan yang sudah habis masa iddah-nya wajib melalui akad nikah baru, dengan wali dan mahar yang baru pula.

“Kapan itu terjadi?” tanya Haekal lagi, memastikan variabel waktu.

“Sebulan yang lalu,” jawab Nenden lirih.

“Kamu sudah datang bulan setelah kejadian itu?”

“Sudah.”

Pertanyaan Haekal bukan tanpa alasan. Secara biologis dan hukum, datangnya haid adalah tanda istibra’—pembersihan atau kepastian bahwa rahim Nenden kosong dari benih mantan suaminya. Secara medis, siklus menstruasi menandakan luruhnya dinding rahim (endometrium), yang secara hukum syariat menggugurkan kekhawatiran akan adanya percampuran nasab (ikhtilatun nasab).

Haekal menatap tajam ke dalam manik mata Nenden. Tatapan itu bukan lagi tatapan seorang pria yang mencari kesenangan, melainkan tatapan seorang pelindung yang ingin menyelamatkan jiwa yang tersesat. Dalam psikologi moral, ini adalah momen Moral Repair—upaya memperbaiki kerusakan karakter melalui komitmen baru.

“Mari kita perbaiki sama-sama diri kita,” ujar Haekal, suaranya berat namun menyejukkan. “Jangan mengulang lagi kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Bekerja dan berusahalah dengan jalan yang halal. Jangan biarkan asap dapurmu mengepul dari api yang haram.”

Kalimat itu menyentuh bagian terdalam dari kesadaran Nenden. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah berucap: “Kelezatan yang diakhiri dengan penyesalan bukanlah kelezatan, melainkan penderitaan yang tertunda.”

Nenden menyadari bahwa kejujurannya kepada Haekal telah membasuh daki-daki maksiat yang sempat singgah di hidupnya karena keterpaksaan ekonomi.

Nenden mengangguk pelan. Ada rasa syukur yang meluap karena ia menemukan lelaki yang tidak hanya menginginkan fisiknya, tetapi peduli pada keselamatan jiwanya. Falsafah Sunda “Leumpang napak dina jalan nu lempeng”—berjalan menginjak jalan yang lurus—kini menjadi komitmen bersama mereka.

“Terima kasih, Bang,” bisik Nenden.

Madu yang dulu ia reguk dengan kepahitan, kini mulai berproses menjadi penawar. Haekal tidak menawarkan kekayaan instan untuk melunasi utang empat puluh jutanya, melainkan menawarkan bimbingan untuk mencari rezeki yang diberkati. Baginya, itu jauh lebih berharga daripada seluruh emas di dunia.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This