Madu Pahit Nenden — Bagian 17: Fitnah

Must Read

Rencana pernikahan Nenden dan Haekal ternyata memicu turbulensi sosial yang tak terduga. Dalam teori social exchange, ketika seseorang merasa kehilangan akses atas “aset” yang dianggap miliknya, sering kali muncul reaksi destruktif. Hidayat, sang jurnalis yang merasa investasinya terhadap Nenden sia-sia, kini dirundung cemburu buta. Ia bersekongkol dengan Yuni, seorang teman yang seharusnya menjadi sandaran, namun justru menjadi “musuh dalam selimut.”

Keduanya membocorkan rahasia Nenden kepada Andrinov. Bagi Andrinov, kabar ini adalah tamparan pada egonya yang patriarkis. Ia merasa dikhianati oleh seorang wanita yang baru saja ia “klaim” kembali di Megamendung

Suatu sore yang pengap, Andrinov melabrak Nenden di kediamannya, Cipayung. Ia melontarkan ancaman yang paling mematikan bagi seorang ibu: mengambil Ahza.

“Kalau kamu berani menikah dengan lelaki itu, Ahza saya ambil!” teriak Andrinov.

Milad 117 H Muhammadiyah

Nenden meledak dalam amarah yang hebat. Secara psikologis, ia mengalami acute stress response. Ancaman terhadap anak adalah bentuk Toxic Masculinity yang menggunakan buah hati sebagai instrumen sandera. Haekal, yang menyaksikan kegoncangan itu, berusaha menjadi penawar dengan logika hukum yang dingin namun menenangkan.

“Jangan khawatir, Dik. Kalau dia memaksa, kita bawa masalah ini ke ranah hukum. Kita selesaikan di pengadilan,” ujar Haekal, memberikan perlindungan mental.

Namun, serangan Andrinov tidak berhenti pada ancaman fisik. Ia mulai menagih kembali uang tujuh juta rupiah—dana yang dulu ia berikan saat peristiwa di vila Megamendung. Dalam pandangan Andrinov, uang itu adalah “uang muka” untuk sebuah kepatuhan yang kini diingkari Nenden.

“Mas, Nenden harus mengembalikan duit itu,” keluh Nenden kepada Haekal melalui sambungan telepon yang dipenuhi isak tangis.

“Bukankah duit itu nantinya bisa untuk menafkahi Ahza? Untuk apa diminta kembali?” tanya Haekal heran. Secara etika, nafkah yang sudah diberikan kepada anak atau mantan istri dalam masa rekonsiliasi seharusnya tidak bisa ditarik kembali. Namun, Haekal sadar ini adalah strategi Financial Abuse untuk membuat Nenden menyerah.

“Dia ngotot, Mas. Dia mau Ahza, tapi dia juga mau uangnya kembali,” jawab Nenden getir.

Haekal menarik napas panjang. Sebagai lelaki Jawa yang mengedepankan filosofi “Alon-alon waton kelakon” dan “Menang tanpo ngasorake” (menang tanpa merendahkan), ia melihat motif di balik tindakan Andrinov.

“Itu caranya untuk memaksamu menyerah, Dik. Dia tahu kelemahanmu adalah rasa tidak enak hati dan ketakutan kehilangan anak. Kita kembalikan saja nanti uangnya. Kita putus semua ikatan materi dengannya agar dia tidak punya alasan lagi untuk mengganggu kita,” ujar Haekal mantap. Sejak kesepakatan menikah, panggilan mereka berubah menjadi “Mas” dan “Adik”—sebuah simbol perlindungan dan penghormatan dalam dialektika Jawa-Sunda.

Nenden mengangguk, meski wajahnya masih tampak pucat. Ia melakukan kalkulasi cepat di kepalanya. “Iya, Mas. Nenden nanti ada uang tiga juta dari keuntungan dagang pakaian. Kalau Nenden hitung, dalam sebulan lagi, Nenden sudah bisa mengembalikan uang itu sepenuhnya.”

Keinginan Nenden untuk membayar dengan uang sendiri menunjukkan bangkitnya kembali self-esteem yang sempat terkubur. Ia tidak ingin Haekal menanggung semua beban masa lalunya, meski Haekal dengan tulus menawarkan bantuan.

“Nanti kalau dia tidak sabar, Mas tambah kekurangannya,” ujar Haekal dengan nada lembut namun penuh otoritas.

Bagi Nenden, sikap Haekal adalah oase. Jika Daniel adalah ketidakdewasaan, dan Andrinov adalah manipulasi, maka Haekal adalah responsibilitas. Haekal mengajarkannya bahwa martabat tidak bisa ditawar, dan kebebasan terkadang harus dibeli dengan harga yang mahal.

Falsafah Sunda “Mending leungit hulu tibatan leungit martabat” (lebih baik kehilangan kepala daripada kehilangan martabat) kini benar-benar ia jalani. Dengan bantuan “Mas” Haekal, Nenden bersiap mengakhiri babak pahit dalam hidupnya, membayar utang masa lalu untuk membeli masa depan yang lebih suci. (Bersambung ke Bagian 18)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This