Sore itu, cahaya matahari di Ciawi meredup, menyisakan semburat ungu yang memantul di kaca jendela rumah kontrakan yang baru saja menjadi saksi bisu sebuah ikrar suci. Setelah para saksi dan pemilik rumah berpamitan, menyisakan aroma kopi yang masih mengepul tipis, Nenden duduk di tepi ranjang. Di telapak tangannya, ia memandangi mahar yang baru saja diterimanya dari Haekal: sebuah cincin emas seberat 2,5 gram dan lembaran uang tunai satu juta rupiah.
Dalam sejarah hidupnya, ini adalah angka terkecil. Jika dibandingkan dengan Daniel yang datang dengan kemegahan janji, atau Andrinov yang membawa tumpukan materi sebagai instrumen kekuasaan, mahar Haekal secara kuantitatif tampak insignifikan. Namun, dalam hukum rermodinamika jiwa, nilai sebuah benda sering kali berbanding terbalik dengan volumenya.
Nenden mengenakan cincin itu ke jemarinya. Logam dingin itu menyentuh kulitnya, namun ia merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke ulu hati. Bibirnya tersungging—sebuah senyum yang bukan lahir dari kemenangan materi, melainkan dari kedamaian eksistensial.
“Terima kasih, Mas,” bisiknya lirih, suaranya bergetar dalam frekuensi syukur yang murni.

Nenden teringat percakapan mereka beberapa pekan lalu, saat hujan mengguyur Megamendung dan mereka mendiskusikan angka. Haekal sempat bertanya dengan ragu mengenai permintaan maharnya. Nenden, dengan kecerdasan emosional yang tajam, justru melontarkan pertanyaan yang mengejutkan.
“Berapa Mas Haekal memberi mahar ke Mbak dulu?” tanya Nenden. Sebuah pertanyaan yang dalam psikologi relasi disebut sebagai upaya mencari titik ekuilibrium—ia tidak ingin merasa dilebihkan demi nafsu, namun juga tidak ingin dikurangi sebagai bentuk ketidakadilan terhadap istri pertama Haekal.
Haekal sempat menggelengkan kepala, tawa kecilnya menyimpan sedikit rasa sungkan. “Tidak mungkin kalau Adik minta disamakan,” katanya.
“Kenapa?”
“Mbak hanya Mas kasih mahar sepuluh ribu rupiah plus cincin emas 2,5 gram,” ungkap Haekal jujur.
Nenden sempat terpana. Dalam benaknya, ia melakukan kalkulasi ekonomi makro secara instan. Ia teringat teori Purchasing Power Parity (Paritas Daya Beli). Sepuluh ribu rupiah di masa lalu memiliki daya magis yang berbeda dengan hari ini. Namun, alih-alih menuntut lebih, Nenden justru merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Haekal sedang membangun hubungan di atas fondasi kejujuran, bukan manipulasi citra.
“Nggak apa-apa, Mas. Yang penting ada tanda dari Mas untuk Adik. Bahkan bila itu cincin perak buatan China sekalipun, tidak masalah,” jawab Nenden kala itu dengan mantap.
Haekal akhirnya memutuskan angka satu juta rupiah. Baginya, angka itu adalah simbol sejarah pribadi dan bangsa. “Dulu, nilai mata uang rupiah adalah 2.400 per dolar,” gumam Haekal saat menyerahkan mahar. Ia seolah ingin mengatakan bahwa nilai sesuatu tidak terletak pada nominalnya yang tergerus inflasi, melainkan pada niat yang bersifat absolut.
Dalam perspektif Syaikh Yusuf al-Qaradawi, mahar bukanlah “harga beli” seorang wanita, melainkan shadaq—simbol kejujuran cinta. Ulama dunia sepakat bahwa sebaik-baiknya wanita adalah yang paling ringan maharnya, namun sebaik-baiknya laki-laki adalah yang paling memuliakan istrinya melalui mahar tersebut. Haekal tidak sedang memberi Nenden “harga”, ia sedang memberi Nenden “kehormatan”.
Falsafah Sunda mengatakan: “Leutik ringkang gede bugang.” Meskipun terlihat kecil bentuknya, namun besar manfaat dan maknanya. Cincin 2,5 gram itu bagi Nenden adalah sebuah ankur (jangkar) yang mengikatnya pada komitmen yang suci, jauh lebih kuat dari belenggu harta Andrinov yang berlumur syarat dan ketentuan.
Nenden kembali menatap cincin itu. Di bawah temaram lampu kamar, emas itu berkilau malu-malu. Ia merasa lebih kaya dari sebelumnya. Kekayaannya kini tidak lagi diukur dari saldo bank yang dipantau penagih utang, melainkan dari kehadiran seorang lelaki yang berani mengambil tanggung jawab atas dirinya di hadapan langit.
Ia menarik napas panjang, menghirup aroma rumah baru yang mulai akrab. Madu itu memang pahit di awal—penuh drama, sakit perut, datang bulan yang tiba-tiba, hingga rahasia yang menyesakkan. Namun, di atas tempat tidur kontrakan Ciawi ini, pahit itu mulai luruh, tertawar oleh rasa aman yang diberikan Haekal.
“Dua puluh tiga Desember,” batin Nenden. “Hari di mana satu juta rupiah dan sekerat emas lebih berharga dari seluruh dunia yang pernah ditawarkan orang lain kepadaku.”
***


