Madu Pahit Nenden — Bagian 19: Ikrar Bersaksi Kabut

Must Read

Fajar di Ciawi pecah dengan rona ultraviolet yang menembus sela-sela pepohonan albasia. Pagi itu, 24 Desember, udara membawa sisa-sisa hujan semalam yang menciptakan aroma geosmin—sebuah senyawa kimia dari tanah yang basah—yang bagi Nenden terasa seperti aroma kelahiran kembali. Di rumah kontrakan kecil itu, transisi besar terjadi.

Sesuai kesepakatan, mereka harus kembali ke orbit masing-masing sebelum dunia menyadari hilangnya gravitasi mereka. Haekal harus kembali ke Bekasi untuk menunaikan tanggung jawab profesionalnya, sementara Nenden harus kembali ke ruko dan rumah ibunya di Cipayung. “Kita jumpa lagi malam nanti, Mas,” bisik Nenden saat melepas suaminya di depan pagar kayu yang masih lembap. Perpisahan singkat ini adalah sebuah Intermisi, jeda di antara babak pertunjukan yang baru saja dimulai.

Ketika Nenden melangkah masuk ke rumah Cipayung, suasana mendadak senyap. Iis, ibunda Nenden, sedang duduk di kursi rotan sambil memegang cangkir tehnya. Matanya terpaku pada sosok yang baru saja mengucap salam. Di ambang pintu, berdiri Nenden yang berbeda. Ia mengenakan gamis berwarna tanah yang jatuh menjuntai dengan anggun, dipadukan dengan jilbab lebar yang tersemat rapi.

Iis terkesima. Dalam psikologi kognitif, manusia memiliki Schema atau pola harapan terhadap penampilan seseorang. Dalam ingatan Iis, Nenden adalah simbol dinamisme yang santai: celana denim ketat, kaos atau blouse merah jambu yang mencolok, atau kemeja motif yang trendi. Sering kali, Nenden hanya mengenakan topi pink dengan rambut tergerai bebas—sebuah representasi dari wanita mandiri yang belum ingin “terikat” oleh simbol-simbol religius yang formal.

Milad 117 H Muhammadiyah

Namun hari ini, penampilan Nenden adalah sebuah disrupsi visual. Jilbabnya tidak lagi sekadar gaya atau kain yang tersampir asal-asalan; jilbab itu kini tampak memiliki “roh”. Secara ilmiah, perubahan cara berpakaian sering kali merupakan manifestasi dari post-traumatic growth atau pertumbuhan pasca-trauma, di mana seseorang meredefinisi identitasnya setelah melewati peristiwa besar dalam hidup.

“Kemarin katanya menginap di Kota Bogor buat urusan kerjaan, kok pulang-pulang jadi begini, Nen?” Iis bertanya, namun nada suaranya tidak mengandung interogasi, melainkan keheranan yang sarat kekaguman.

Nenden tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dalam terminologi Ekman disebut sebagai Duchenne Smile—senyuman tulus yang melibatkan otot di sekitar mata. “Iya, Ma. Ada urusan yang butuh ketenangan,” jawab Nenden singkat.

Iis tidak tahu bahwa “Kota Bogor” hanyalah eufemisme untuk Ciawi, dan “sesuatu yang dikerjakan” bukanlah urusan stok busana, melainkan sebuah restorasi psikis melalui akad nikah yang sakral. Nenden sedang mempraktikkan apa yang dalam falsafah Sunda disebut sebagai “Mipit kudu amit, ngala kudu menta”—namun dalam kondisi darurat sosial ini, ia memilih jalan “Ngindung ka waktu, mibapa ka zaman” (menyesuaikan diri dengan keadaan tanpa kehilangan jati diri).

Melihat ketenangan yang memancar dari wajah Nenden, Iis yang tadinya menyiapkan rentetan pertanyaan tentang siapa yang ia temui, mendadak urung. Ada sebuah teori dalam komunikasi interpersonal yang menyebutkan bahwa Non-Verbal Cues (isyarat non-verbal) sering kali lebih kuat daripada kata-kata. Penampilan religius Nenden memberikan efek Halo Effect; Iis secara otomatis berasumsi bahwa putrinya baru saja melewati proses spiritual yang positif, sehingga ia merasa tidak perlu lagi merasa cemas.

“Ma, nanti Nenden balik lagi ke sana dan menginap. Ada yang belum kelar urusannya,” kata Nenden sambil mencium tangan ibunya.

Iis hanya mengangguk pelan. “Ya sudah, yang penting kamu sehat dan ingat anak-anak.”

Nenden melangkah menuju kamarnya untuk berganti pakaian sebelum menuju ruko. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengatakan, “Terkadang Allah menyembunyikan sesuatu yang besar di balik kesederhanaan, agar ia terjaga dari pandangan yang tidak diinginkan.”

Pernikahan rahasia ini, bagi Nenden, adalah sebuah rahasia yang ia dekap erat seperti madu di dalam sarang yang terlindungi. Ia tahu bahwa malam nanti, di Ciawi, sebuah kehidupan yang sesungguhnya telah menantinya. Ia bukan lagi sekadar janda yang mencari pengakuan, melainkan seorang istri yang sedang membangun benteng baru.

Saat ia berkaca di cermin kamarnya, Nenden menyadari bahwa gamis dan jilbab ini bukan sekadar pakaian. Ini adalah baju besi barunya untuk menghadapi dunia. Madu pahit masa lalunya kini benar-benar telah ia buang, dan ia sedang mempersiapkan diri untuk memanen manisnya takdir yang ia jemput dengan penuh keberanian.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This