Madu Pahit Nenden — Bagian 19: Ikrar Bersaksi Kabut

Must Read

Suara azan asar dari masjid di kejauhan merambat masuk melalui sela-sela ventilasi rumah kontrakan Ciawi, membelah kesunyian yang syahdu pasca-perjamuan kecil tadi. Udara di luar mulai mendingin, menciptakan efek termoklin di mana kehangatan di dalam rumah terasa begitu kontras dengan hawa pegunungan yang menusuk.

Haekal berdiri, merapikan sarung tenunnya, lalu menatap Nenden dengan keteduhan yang belum pernah ia berikan sebelumnya. “Mari, Dik. Kita haturkan syukur pada Sang Pemilik Waktu,” ajaknya lembut.

Di atas sajadah yang masih berbau kain baru, mereka berdiri dalam frekuensi yang sama. Haekal melangkah maju satu tindak menjadi imam. Nenden berdiri tepat di belakangnya, terbungkus mukena putih bersih. Saat Haekal mengangkat tangan dan berbisik “Allahu Akbar”, dimulailah sebuah ibadah yang sunyi.

Sebagai salat sirriyyah, Haekal tidak mengeraskan bacaan Al-Fatihahnya. Nenden tidak mendengar untaian ayat dari lisan suaminya, namun ia merasakan getaran khusyuk yang merambat dari punggung imamnya. Dalam keheningan itu, hanya terdengar gesekan kain sarung dan helaan napas yang teratur. Namun, justru dalam ketiadaan suara itulah, komunikasi rohani menjadi lebih tajam.

Milad 117 H Muhammadiyah

Nenden mengikuti setiap transisi gerakan Haekal dengan saksama. Ini adalah sebuah bentuk sinkronisitas di mana makmum menyerahkan ritme tubuhnya pada gerak sang imam. Secara ilmiah, salat berjamaah dalam keheningan menciptakan kondisi Alpha Brain Waves, di mana otak berada dalam relaksasi mendalam namun tetap waspada. Nenden merasa seolah seluruh beban hidupnya—hutang Muamar dan bayang-bayang Andrinov—luruh ke bumi saat keningnya menyentuh sajadah dalam sujud yang panjang. Sujud itu adalah titik terendah secara fisik, namun titik tertinggi secara metafisik.

Usai salam, barulah suara Haekal kembali terdengar, memecah kesunyian melalui untaian doa yang diamini dengan isak kecil syukur dari Nenden. Haekal memutar tubuhnya, menghadap Nenden yang masih bersimpuh. Ia mengelus kening istrinya dengan ibu jari, sebelum akhirnya meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas ubun-ubun Nenden.

Mulut Haekal komat-kamit melantunkan doa yang diajarkan dalam tradisi kenabian: “Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi…”  Secara biologis, sentuhan di area fontanelle atau ubun-ubun memberikan efek neuro-biologis yang signifikan. Tekanan lembut di sana memicu pelepasan hormon Oksitosin, hormon kasih sayang yang secara instan menurunkan kadar kortisol (hormon stres). Bagi Nenden, doa Haekal adalah mantra penyembuh. Ia merasa seolah-olah tangan Haekal sedang menyalurkan energi perlindungan yang membentengi dirinya dari segala jahatnya lisan manusia di luar sana.

Perlahan, Haekal mengikis jarak. Ia mendekat, menghirup aroma mukena Nenden yang samar-samar berbau melati. Dengan kemesraan yang tidak tergesa, ia mendaratkan ciuman di kening istrinya—sebuah ciuman yang dalam semiotika kasih sayang melambangkan penghormatan intelektual.

Haekal membisikkan kata-kata yang membuat pertahanan batin Nenden luruh, “Terima kasih sudah memilih Mas, Dik. Mas akan menjagamu dengan seluruh sisa napas Mas.”

Dari keheningan sajadah, energi kasih itu bermutasi menjadi getaran biologis yang suci. Mereka berpindah ke tempat tidur yang beberapa hari lalu mereka pilih bersama. Di sanalah, madu yang selama ini terasa pahit mulai menemukan kristalisasi manisnya. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, hubungan suami-istri yang diawali dengan doa adalah bentuk ibadah yang mampu menenangkan jiwa. Penyatuan itu terjadi dengan sangat lembut, sebuah tarian rasa yang didasari oleh rasa saling menghargai.

azan magrib berkumandang saat keduanya beranjak dari peraduan. Langit di luar telah berubah menjadi lembayung yang dalam, namun di dalam kamar itu, seolah-olah ada cahaya yang memancar dari wajah mereka. Mereka tampak segar, sebuah fenomena yang dalam psikologi disebut sebagai Post-Coital Glow—aura tenang yang muncul akibat lonjakan endorfin.

Tanpa banyak kata, mereka mandi bersama dalam kucuran air pegunungan yang dingin, namun tak terasa menggigil karena kehangatan hati yang masih tersisa. Setelah kembali melaksanakan salat Maghrib berjamaah—kali ini dengan bacaan Al-Fatihah yang dikeraskan oleh Haekal—mereka duduk di ruang tamu, menikmati teh hangat dan cemilan.

Keheningan yang tercipta kini bukan lagi keheningan yang canggung seperti saat mereka baru datang, melainkan keheningan yang intim. Keduanya tak banyak bicara; mereka lebih banyak saling menyentuh. Haekal mengusap punggung tangan Nenden, sementara Nenden menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

Falsafah Sunda mengatakan: “Silih asih, silih asah, silih asuh.” Di ruang tamu sederhana itu, mereka mulai mengasuh luka masing-masing dengan sentuhan. Nenden menyadari bahwa meskipun hari esok mungkin masih membawa tantangan berat, malam ini ia telah menemukan “rumah” yang sesungguhnya.

“Mas,” bisik Nenden pelan di tengah remang lampu ruang tamu.

“Iya, Dik?”

“Nenden merasa seperti lahir kembali.”

Haekal tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan kecupan lembut di puncak kepala Nenden. Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi Ciawi, seolah ikut membasuh segala sisa kepahitan masa lalu.

Malam di Ciawi kian melarut, membawa kabut yang lebih tebal hingga menyamarkan garis batas antara rimbun pepohonan dan langit yang pekat. Suara adzan Isya yang menggema dari lembah-lembah di bawah lereng Gunung Gede menjadi tanda penutup bagi hari yang paling transformatif dalam hidup Nenden. Setelah melaksanakan salat Isya berjamaah—kali ini dengan suasana yang jauh lebih tenang dan stabil—keduanya kembali bersimpuh dalam zikir yang panjang.

Namun, bagi sepasang pengantin baru ini, ibadah belum benar-benar usai. Dalam kosmologi Islam, penyatuan raga antara suami dan istri dipandang sebagai perpanjangan dari zikir itu sendiri, sebuah amal yang mendatangkan pahala karena dilakukan dalam bingkai yang halal. Usai melipat sajadah, Haekal dan Nenden kembali memasuki kamar pengantin mereka yang bersahaja namun hangat. Di sanalah, mereka melanjutkan aktivitas berbulan madu, sebuah prosesi yang dalam psikologi disebut sebagai attachment bonding, yakni pengikatan emosional melalui afeksi fisik yang intens.

Di bawah temaram lampu kamar yang berwarna kekuningan, rona wajah Nenden tampak seperti porselen yang diterangi cahaya lilin. Haekal menatap istrinya dengan kedalaman rasa yang melampaui sekadar dorongan impulsif. Baginya, Nenden adalah manifestasi dari jiwa yang sempat terluka oleh pengkhianatan Daniel dan intimidasi Andrinov. Tugasnya malam ini adalah melakukan pemulihan psikis melalui kelembutan.

Dalam teori bio-psikologi, sentuhan fisik yang dilakukan dengan penuh rasa aman akan merangsang kelenjar pituitari untuk melepaskan oksitosin secara masif. Inilah yang dirasakan Nenden—sebuah perasaan tenang yang melumpuhkan semua memori buruknya. Ia merasakan apa yang disebut Limbic Resonance, sebuah kondisi di mana dua sistem saraf saling selaras dalam kebahagiaan. Malam itu, ia tidak merasa sedang “dimiliki” sebagai objek transaksi, melainkan sedang “diterima” sebagai subjek yang dicintai.

Kemesraan mereka mengalir seperti air pegunungan; jernih, jernih, dan menyejukkan. Tidak ada ketergesaan yang kasar. Haekal memperlakukan Nenden dengan penghormatan yang tinggi, seolah setiap sentuhannya adalah bentuk apresiasi atas ketangguhan Nenden bertahan hidup selama ini. Falsafah Sunda “Silih asih, silih asah, silih asuh” mewujud nyata dalam setiap interaksi mereka di balik selimut tebal yang melindungi dari dinginnya udara Ciawi.

Bulan madu di rumah kontrakan sederhana ini mungkin tidak memiliki kemewahan hotel berbintang di pusat Jakarta, namun nilainya melampaui segala kemewahan materi. Dalam keheningan malam, yang terdengar hanyalah detak jantung yang saling beradu dan bisikan-bisikan janji yang tulus.

Haekal teringat ucapan Syaikh Mustafa as-Siba’i: “Rumah tangga yang dibangun di atas fondasi takwa dan cinta yang jujur akan menjadi benteng paling kokoh di muka bumi.” Di atas tempat tidur itu, mereka sedang membangun benteng tersebut. Nenden merasakan bahwa “madu” yang selama ini ia reguk selalu meninggalkan rasa pahit di pangkal tenggorokan akibat dusta laki-laki di masa lalunya, namun madu dari Haekal adalah madu yang murni, yang telah melalui proses penyaringan iman yang panjang.

Mereka menjelajahi dunia masing-masing dalam kedekatan yang paling primordial. Nenden menemukan keberanian untuk melepaskan semua perisai kecemasannya, sementara Haekal menemukan makna dari tanggung jawab. Inilah Konsumasi pernikahan yang sesungguhnya. Penyatuan yang tidak hanya melibatkan raga (physique), tapi juga melibatkan roh (psyche).

Menjelang tengah malam, saat aktivitas bulan madu itu mencapai titik tenang yang syahdu, mereka berbaring bersisian dengan jemari yang masih bertautan erat. Nenden menyandarkan kepalanya di dada Haekal yang bidang, mendengarkan irama jantung suaminya yang kini telah menjadi irama hidupnya yang baru.

“Mas,” bisik Nenden lirih, suaranya hampir tertelan oleh suara hujan yang mulai rintik di luar. “Terima kasih sudah menjadikanku ratu di rumah kecil ini. Nenden merasa… aman.”

Haekal mengecup kening Nenden lama sekali, sebuah kecupan yang mengandung janji kesetiaan. “Di mataku, kau bukan ratu yang harus dipuja dari jauh, Dik. Kau adalah titipan-Nya yang paling berharga. Kita akan mulai semuanya dari sini, dari kesederhanaan Ciawi ini.”

Di luar, hujan kian menderu, membasahi atap seng rumah kontrakan mereka dan menciptakan melodi pengantar tidur yang paling indah. Malam itu, di bawah lindungan langit Ciawi, Nenden akhirnya bisa tidur dengan senyum yang tulus—sebuah ekspresi mikro yang menunjukkan bahwa jiwanya telah pulang ke pelabuhan yang tepat. Madu pahit itu kini benar-benar telah tertawarkan oleh manisnya takdir yang diridhai.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This