Madu Pahit Nenden — Bagian 19: Ikrar Bersaksi Kabut

Must Read

Matahari merayap menuju zenit, menyinari aspal Jalan Raya Puncak yang selalu sibuk oleh fluktuasi kendaraan. Nenden berdiri di depan rukonya, menggenggam ponsel dengan jemari yang tak lagi bergetar. Sebuah pesan masuk dari Andrinov, laksana proyektil yang mencoba menembus dinding pertahanannya.

“Jelaskan statusmu sekarang. Kalau tetap menolak kembali, kembalikan semua uang yang pernah kuberikan tanpa sisa. Juga serahkan Ahza kepada saya biar saya kirim ke Padang,” tulis Andrinov.

Andrinov menuntut pengembalian uang sebesar 7,5 juta rupiah—sebuah nominal yang ia gelontorkan pasca-insiden vila sebagai alat kontrol—dan yang lebih menyakitkan, ia menuntut hak asuh Ahza, putra mereka. Dalam teori Psychological Entrapment, Andrinov sedang menggunakan jerat biaya tertanam (sunk-cost fallacy) untuk memaksa Nenden tetap dalam kendalinya. Ia menganggap investasi materialnya adalah hak milik atas jiwa Nenden dan masa depan darah dagingnya. Namun, Andrinov tidak menyadari bahwa Nenden yang ia hadapi hari ini telah melewati proses reframing—sebuah pendefinisian ulang makna hidup pasca-akad sakral di Ciawi.

“Mari kita bertemu di Kafe Agam,” balas Nenden dengan ketenangan yang ganjil. Ia memilih Kafe Agam bukan tanpa alasan. Kedai khas Aceh itu adalah ruang terbuka, sebuah palagan netral di mana aroma rempah Mie Bangladesh dan pahitnya kopi saringan menjadi saksi bisu bagi dialog-dialog kemanusiaan yang krusial.

Milad 117 H Muhammadiyah

Andrinov terkejut. Biasanya, Nenden akan meledak secara emosional atau menangis histeris jika disinggung soal uang dan pemisahan dengan anak—sebuah reaksi Amygdala Hijack yang lazim terjadi pada penyintas intimidasi. Namun kali ini, Nenden bersikap kooperatif, hampir menyerupai keramahan seorang diplomat ulung.

“Kapan?” tanya Andrinov, mencoba mencari celah keraguan.

“Sore ini juga,” jawab Nenden singkat.

Andrinov tersenyum di seberang sana. Ia menduga resistensi Nenden telah runtuh oleh tekanan finansial dan ancaman kehilangan anak. Ia tidak tahu bahwa dalam filsafat Islam, Nenden sedang mengamalkan prinsip Izzah (harga diri yang mulia). Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: “Hati itu ibarat benteng, dan musuh hanya bisa masuk jika penjaganya membuka pintu melalui ketakutan atau syahwat.”  Nenden telah mengunci pintu itu rapat-rapat.

Usai mengonfirmasi pertemuan, Nenden mengirim pesan singkat kepada suaminya, Haekal: “Mas, Andrinov mau ketemu Nenden di Kafe Agam sore ini. Datang ya.” Jawaban Haekal datang laksana jangkar yang kokoh: “Oke.”

Sore itu, Kafe Agam dipenuhi uap dari kuali besar yang mengolah Mie Bangladesh—sebuah kuliner yang secara ilmiah kaya akan theobromine dan rempah pemicu endorfin. Nenden duduk di sudut dekat jendela, memandang kabut yang mulai turun dari arah Riung Gunung. Penampilannya masih sama dengan pagi tadi: gamis anggun dan jilbab rapi, sebuah perisai visual yang menandakan otoritas baru.

Andrinov datang dengan langkah penuh dominasi, mengenakan kacamata hitam yang menutupi tatapan posesifnya. Ia duduk di hadapan Nenden, merasa bahwa panggung ini adalah miliknya sepenuhnya.

“Bagus kalau kamu sudah sadar,” buka Andrinov tanpa basa-basi. “Uang 7,5 juta itu bukan jumlah yang kecil, Nen. Apalagi soal Ahza, dia harus ikut saya ke Padang. Kamu tidak punya pilihan selain kembali atau hancur.”

Nenden menyesap teh tawarnya perlahan. Ia seakan tahu ucapan Epictetus, tokoh Stoikisme dunia: “Bukan hal-hal yang terjadi pada kita yang mencemaskan kita, melainkan cara kita memandang hal-hal tersebut.”

“Andrinov,” suara Nenden tenang, tanpa nada tinggi. “Uang yang kamu berikan adalah pemberian sukarela, bukan piutang yang tercatat secara hukum. Dan soal Ahza, seorang ibu tidak akan pernah menyerahkan anaknya hanya karena ancaman uang. Aku mengajakmu ke sini bukan untuk bernegosiasi soal angka, tapi untuk menyelesaikan masalah ini sebagai dua orang dewasa yang merdeka.”

Andrinov hendak menyela dengan nada kasar, namun gerakannya terhenti saat seorang pria dengan langkah tegap mendekat ke meja mereka. Haekal tiba dengan aura yang berbeda; tidak ada agresi, hanya ketegasan yang matang. Dalam falsafah Sunda, kehadiran Haekal adalah perwujudan dari “Satria Pinandita”—seorang lelaki yang memiliki kekuatan untuk melindungi namun tetap memiliki kelembutan hati seorang guru.

“Selamat sore,” ujar Haekal sambil menarik kursi di samping Nenden. Ia meletakkan tangannya di atas meja, memberikan sinyal proksemik yang jelas kepada Andrinov: Wanita ini tidak lagi sendirian.

Andrinov mengerutkan kening, matanya menatap tajam. “Siapa kamu? Ini urusan pribadi kami!”

Nenden menatap Andrinov dengan pandangan jernih, seolah semua beban masa lalu telah menguap bersama uap kopi di meja itu. “Andrinov, kenalkan. Ini Mas Haekal. Suamiku.”

Dunia seolah berhenti berputar di Kafe Agam. Aroma rempah Mie Bangladesh mendadak terasa menyesakkan di indra penciuman Andrinov yang membeku. Pengakuan Nenden bukan sekadar informasi, melainkan sebuah Revolusi Eksistensial. Pahit yang selama ini Andrinov tebar, kini berbalik menjadi madu yang paling pahit untuk ia telan sendiri.

Di Kafe Agam, ketegangan mendadak mencapai titik didih, melampaui panasnya tungku Mie Bangladesh di dapur. Pernyataan Nenden tentang status barunya laksana petir yang menyambar ego Andrinov. Wajah pria itu memerah, otot-otot rahangnya mengeras, dan dalam hitungan detik, ia kehilangan kendali atas dirinya—sebuah fenomena yang dalam psikologi disebut Narcissistic Rage, kemarahan yang muncul ketika seseorang dengan ego tinggi merasa kekuasaannya dipatahkan.

“Dia belum saya cerai! Bagaimana bisa dia menikah dengan Anda?” teriak Andrinov gusar. Suaranya membelah kebisingan kafe, membuat beberapa pengunjung menoleh.

“Bohong!” sergah Nenden tak kalah garang. Matanya berkilat, memancarkan keberanian yang selama ini terpendam di bawah bayang-bayang ketakutan.

Andrinov tertegun sejenak, lalu mencoba mencari celah hukum yang ia karang sendiri. “Saya baru mengeluarkan talak satu,” katanya lagi, mencoba menggunakan terminologi agama sebagai senjata intimidasi.

Nenden justru tersenyum sinis—sebuah senyum kemenangan intelektual. “Ya, dua tahun yang lalu kamu menjatuhkan talak satu. Terus kamu mau apa? Masa iddah itu hanya tiga kali suci, Andrinov. Dua tahun itu sudah melewati batas mana pun dalam fikih. Belajarlah agama yang lebih baik agar kamu tidak ngawur!”

Secara sosiologi hukum, apa yang dikatakan Nenden merujuk pada prinsip Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan ijma ulama dunia seperti Imam Syafi’i. Talak satu yang tidak diikuti dengan rujuk dalam masa iddah (sekitar 90 hari) secara otomatis memutus ikatan pernikahan. Setelah dua tahun, Nenden adalah wanita merdeka yang berhak menentukan takdirnya sendiri.

Andrinov hendak kembali menyerang, mulutnya sudah terbuka untuk melontarkan ancaman soal uang 7,5 juta dan hak asuh Ahza. Namun, Haekal yang sejak tadi diam laksana samudera yang dalam, akhirnya angkat bicara. Ia tidak menggunakan nada tinggi; suaranya rendah, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.

“Segala sesuatunya nanti terkait tuntutan Anda terhadap istri saya,” ujar Haekal dengan lembut namun tajam, menekankan kata ‘istri saya’ sebagai penegasan teritorial. “Anda saya persilakan menghubungi pengacara saya. Ini nama dan alamatnya.”

Haekal mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna gading dengan cetakan huruf timbul emas—identitas seorang pengacara ternama. Ia menyodorkannya di atas meja dengan gerakan yang tenang, sebuah isyarat Non-Verbal Dominance yang sangat efektif.

Andrinov terdiam. Ia menatap kartu nama itu, lalu beralih menatap Haekal. Dalam dunia sosiologi kekuasaan, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berhadapan dengan Nenden yang rentan, melainkan dengan sebuah sistem baru yang kuat. Haekal bukan sembarang orang; ia memiliki sumber daya hukum dan ketenangan mental yang tidak dimiliki Andrinov.

Falsafah Sunda mengatakan: “Luhur budi handap asor.” Haekal menunjukkan budi yang luhur dengan tidak membalas teriakan, namun ia memiliki ketegasan yang mematikan.

Dengan kegusaran yang tak lagi tertampung, Andrinov menyambar kacamata hitamnya. Tanpa kata pamit, ia bangkit dan melangkah lebar meninggalkan Kafe Agam, menyisakan aroma kekalahan yang pahit di belakangnya. Hegemoninya selama bertahun-tahun runtuh hanya dalam hitungan menit di meja kafe tersebut.

Setelah punggung Andrinov menghilang di balik pintu kaca, keheningan kembali menyelimuti meja mereka. Nenden menghela napas panjang, sebuah pelepasan beban yang sangat katarsis.

“Terima kasih, Mas,” bisik Nenden. Ia merasakan tangannya digenggam oleh Haekal di bawah meja.

“Sudah selesai, Dik. Masa lalumu tidak lagi memiliki hak untuk menagih apa pun darimu,” jawab Haekal.

Mereka pun memesan Mie Bangladesh kesukaan Nenden dan kopi saringan kegemaran Haekal. Di Kafe Agam yang riuh, mereka merayakan kemenangan kecil itu. Madu yang dulu pahit karena intimidasi, kini mulai terasa manis karena perlindungan yang nyata. Sebagaimana kata Rumi: “Cinta adalah jembatan antara kau dan segalanya.” Dan sore itu, jembatan itu telah kokoh berdiri, menghubungkan Nenden pada masa depan yang lebih cerah.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This