Madu Pahit Nenden — Bagian 19: Ikrar Bersaksi Kabut

Must Read

Senja di Jalan Raya Puncak kian mendingin, menyisakan uap panas dari cangkir-cangkir kopi yang mulai mengosong di Kafe Agam. Namun, takdir tampaknya sedang menenun simpul yang tak terduga. Seolah digerakkan oleh Teori Sinkronisitas Carl Jung—di mana kejadian-kejadian bermakna terjadi secara bersamaan tanpa hubungan kausalitas yang jelas—Hidayat, yang biasanya terpaku pada hiruk-pikuk Jakarta, mendadak berada di Cisarua.

Sebuah pesan masuk di ponsel Nenden. Hidayat telah membelikan Nebulizer, alat bantu pernapasan yang sangat dibutuhkan Nenden untuk mengatasi asma dan radang lambungnya yang kerap memicu sesak.

“Terima saja. Anggap itu kado pernikahan kita,” ujar Haekal lembut. Nenden tersenyum, sebuah gestur yang dalam psikologi komunikasi disebut Positive Reinforcement. Ia pun mengundang Hidayat ke Kafe Agam, sebuah palagan yang baru saja ditinggalkan oleh badai bernama Andrinov.

Hidayat datang dengan napas yang memburu, sebuah manifestasi fisik dari obesitas dan kecemasan yang berpadu. Langkahnya berat, namun matanya langsung tertancap pada sosok di sudut jendela. Ia tertegun. Nenden, yang biasanya tampil dengan gaya urban yang dinamis, kini bertransformasi total dalam balutan gamis dan jilbab yang sangat rapi.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Nenden jadi sangat cantik dengan gaun seperti ini. Solehah,” gumam Hidayat, tenggelam dalam Halo Effect—kecenderungan manusia untuk memberikan penilaian positif menyeluruh hanya berdasarkan satu aspek visual.

Namun, kejutan bagi Hidayat belum usai. Saat ia hendak mendekat untuk menyapa dengan keakraban lama, Nenden berdiri dan menyatukan kedua telapak tangan di depan dada tanpa bersentuhan. Isyarat non-verbal ini adalah pembatas ruang (Proxemics) yang tegas; sebuah garis demarkasi antara yang mahram dan yang bukan.

Hidayat duduk dengan canggung. Matanya menyapu meja dan menemukan tiga gelas kosong. “Dengan siapa saja tadi? Ada dua gelas lain,” tanyanya penuh selidik.

“Andrinov sama Mas,” jawab Nenden tenang. Ia tidak merasa perlu melakukan manajemen impresi untuk menutupi kebenaran. Hidayat termangu. Nama “Mas” (Haekal) adalah belati bagi egonya.

Sambil menyerahkan kotak Nebulizer, Hidayat tertunduk. Bahunya yang lebar mulai berguncang. “Nen, yang Abang sesali adalah menyerahkan nomor Haekal padamu. Abang bermaksud membantunya, tapi malah merebutmu dari sisi Abang,” ujarnya, suaranya pecah oleh tangis yang kekanak-kanakan.

Nenden menatapnya dengan pandangan yang dalam, seolah sedang melakukan bedah psikologis terhadap lelaki di depannya. Kondisi ini mirip dengan ucapan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin tentang hakikat cinta: “Cinta yang didasarkan pada nafsu petualangan hanya akan berakhir pada kesedihan yang menghinakan diri.”

“Abang, sejak kapan Nenden menjadi milik Abang?” tanya Nenden, suaranya tenang namun tajam laksana silet. “Bagaimana mungkin Nenden bisa suka, sementara Abang berpetualang tidur dengan perempuan lain, bahkan teman Nenden pun Abang tiduri? Abang hanyalah teman. Tidak lebih.”

Kalimat Nenden adalah sebuah konfrontasi realitas. Hidayat menangis sejadi-jadinya di tengah kafe, sebuah pemandangan yang menunjukkan runtuhnya pertahanan ego maskulinnya. Ia terjebak dalam delusi kepemilikan, sementara hidupnya sendiri adalah labirin perselingkuhan.

Nenden menarik napas panjang, menghirup udara yang kini terasa lebih lapang. Ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar dokumen pernikahan siri yang ia urus dengan penuh perjuangan di Cipayung.

“Abang, sekarang Nenden sudah menikah dengan Mas. Tolong jangan ganggu lagi Nenden,” ujar Nenden sambil menyodorkan dokumen tersebut.

Hidayat gemetar. Matanya membaca baris-baris identitas di kertas itu dengan nanar. Baginya, kertas itu bukan sekadar bukti hukum, melainkan vonis mati bagi obsesinya. Secara sosiologis, dokumen ini adalah instrumen legitimasi yang mengakhiri semua spekulasi dan perebutan status atas diri Nenden.

Falsafah Sunda mengatakan: “Kudu silih talingakeun, tapi ulah silih pusingkeun” (Harus saling memperhatikan, tapi jangan saling merepotkan). Nenden telah memberikan perhatian terakhirnya sebagai teman dengan memberikan kebenaran pahit agar Hidayat berhenti “merepotkan” batinnya.

Lelaki gendut itu berdiri dengan kaki yang limbung. Ia membungkuk dalam di hadapan Nenden, sebuah gestur kekalahan total sekaligus penghormatan terakhir. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan Kafe Agam tanpa menoleh lagi.

Di sudut kafe, Haekal yang sejak tadi memantau dari kejauhan, kembali mendekat. Ia duduk di samping istrinya yang kini memegang kotak Nebulizer hadiah dari masa lalu yang baru saja ia tutup bukunya. Madu pahit itu kini perlahan mengendap, menyisakan rasa manis yang sah dan jernih di bawah lindungan langit Ciawi.

Sore itu di Kafe Agam bukan sekadar ajang konfrontasi, melainkan sebuah proses katarsis massal. Setelah Hidayat melangkah keluar dengan bahu yang merosot, keheningan yang tersisa di meja itu terasa lebih ringan, seolah beban gravitasi yang menekan Nenden selama bertahun-tahun telah menguap bersama aroma kopi saringan yang kian mendingin.

Haekal kembali ke kursi di samping Nenden. Ia tidak bertanya apa yang baru saja terjadi secara mendetail, karena ia memahami bahwa cinta yang dewasa tidak membutuhkan interogasi, melainkan ruang untuk bernapas. Ia menggenggam tangan Nenden, merasakan jemari itu kini jauh lebih tenang.

Mereka memutuskan untuk meninggalkan hiruk-piruk Jalan Raya Puncak. Dalam perjalanan kembali menuju rumah kontrakan di Ciawi, Nenden menatap keluar jendela mobil. Ia melihat deretan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu, laksana kunang-kunang di tengah kabut yang kian pekat.

Secara ilmiah, transisi dari lingkungan yang penuh tekanan (seperti kafe tadi) menuju lingkungan yang tenang memicu respons relaksasi pada sistem saraf parasimpatis. Nenden merasakan jantungnya berdetak dalam ritme yang harmonis, sebuah homeostasis yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Setibanya di rumah kontrakan, suasana terasa begitu hangat. Barang-barang yang mereka beli bersama tempo hari—lemari, kasur, dan peralatan dapur—kini bukan lagi sekadar benda mati, melainkan saksi bisu dari sebuah “Kedaulatan Baru”.

Malam itu, Nenden mengeluarkan Nebulizer hadiah dari Hidayat dan meletakkannya di atas meja samping tempat tidur. Ia tersenyum tipis. Alat itu kini hanya menjadi benda medis biasa, bukan lagi alat tawar emosional.

Haekal menyalakan lampu kecil di sudut ruangan. “Tidur yang nyenyak, Dik. Besok adalah hari pertama dari sisa hidup kita yang sesungguhnya,” ujarnya pelan.

Dalam filsafat Sunda, mereka sedang memasuki tahap “Nyungsi rasa, nyungsi diri”  atau mencari rasa, mencari jati diri. Mereka sadar bahwa pernikahan siri ini mungkin masih harus disembunyikan dari beberapa pasang mata, namun di hadapan Semesta, rahasia itu telah terang benderang.

Menjelang fajar, Nenden terbangun oleh suara gemericik air wudu yang dilakukan Haekal. Ia menatap punggung suaminya dan menyadari bahwa madu yang ia reguk selama ini memang pahit—pahit oleh pengkhianatan, pahit oleh air mata, dan pahit oleh penantian. Namun, seperti kata ulama besar Ibnu Atha’illah al-Iskandari: “Terkadang Allah memberikanmu rasa pahit agar kamu tahu betapa berharganya rasa manis yang murni.”

***

Pagi harinya, 25 Desember 2025. Nenden berdiri di teras depan, menghirup udara Ciawi yang paling bersih. Ia tidak lagi mengenakan topi pink untuk menyembunyikan identitasnya, melainkan jilbab yang tertata rapi sebagai mahkota kehormatannya yang baru.

Ia memegang ponselnya, mengirim pesan singkat ke ibunya di Cipayung: “Ma, Nenden pulang siang ini. Nenden bawa kabar bahagia.”

Nenden menyadari bahwa hidupnya bukan lagi tentang melarikan diri dari masa lalu, melainkan berjalan tegak menuju masa depan. Madu itu memang pernah pahit, namun di tangan Haekal, pahit itu telah berubah menjadi obat yang menyembuhkan jiwanya.

Di cakrawala, matahari mulai terbit di balik Gunung Salak, menyapu sisa-sisa kabut semalam. Nenden tersenyum, menyadari bahwa meskipun ia telah melalui badai yang hebat, ia tidak pernah benar-benar tenggelam. Ia hanya sedang diajari caranya berlayar menuju pelabuhan yang sah.

TAMAT

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This