Senja Temaram di Cipayung — Bagian 12: Dik

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

HARI- hari Prabu dan Indriani perlahan berubah menjadi rangkaian waktu yang manis, seperti riak air di sungai kecil Megamendung yang memantulkan sinar matahari pagi. Tanpa disadari, tiap jeda hari mereka mulai diisi obrolan WhatsApp, panggilan telepon, hingga video call. Hubungan yang semula seperti garis tipis kini perlahan menebal, membentuk anyaman kedekatan.

Di antara ritual-ritual kecil itulah, sebuah percakapan ringan suatu sore justru menggeser hubungan mereka ke tingkat yang berbeda.

Kala itu, senja di Bekasi. Prabu duduk di ruang kerjanya, dinding-dinding dipenuhi buku-buku tebal: Ihya Ulumuddin, Magnum Opus karya al-Ghazali, Fiqh an-Nisa karya Yusuf al-Qaradawi, hingga deretan teks fisika kuantum dan sejarah pemikiran. Senja merayap dari jendela, meninggalkan garis keemasan di meja kerjanya.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ponselnya bergetar. Indriani mengirim pesan singkat: “Mas, jangan panggil saya nama dong…”

Prabu tertawa kecil. Ia mengetik. “Mesti saya panggil apa? Teteh? Nggak mungkin kan? Neng? Atau Dik?”

Balasan datang cepat, seolah Indriani telah menunggu. “Mas panggil apa ke istri?”

Prabu menghela napas. Nada kalimat itu… berbeda. Ada sesuatu di dalamnya—halus, tapi terasa.

“Dik.”

Beberapa detik hening digital. Lalu muncul balasan: “Ini saran ya Mas… Bagaimana kalau saya juga dipanggil Dik? Nggak enak dipanggil Ndri. Kalau kedengeran anak-anak, kurang pas.”

Prabu bukan lelaki sembarangan. Latar belakang keagamaannya kuat, kajiannya luas, dan ia penggemar berat disiplin antropologi-budaya. Maka ketika membaca permintaan Indriani, ia segera menangkap lapis-lapis makna yang tidak diucapkan. Ia tersenyum tipis sambil bergumam, “Ah, ini sinyal. Sinyal yang dalam.”

Dalam benaknya, teori-teori lama kembali muncul—seperti catatan kaki yang tak benar-benar hilang.

Prabu tahu bahwa dalam budaya Jawa, panggilan kehormatan adalah struktur halus yang membentuk hubungan sosial.  Masyarakat Jawa menilai kesopanan melalui pilihan kata, bukan hanya tindakan.

Sapaan “Dik” dalam budaya Jawa bukan hanya sebutan untuk adik—itu adalah bentuk afeksi lembut, simbol perlindungan, dan kedekatan batin. Tidak sembarang perempuan layak disapa demikian.

Jika Indriani mengizinkannya, berarti ia membuka pintu perasaan yang lebih dalam daripada yang tampak.

Dalam budaya Sunda pun, yang mengalir dalam darah Indriani, sapaan adalah perhiasan perilaku. Panggilan nama saja terdengar datar, kurang berperasaan; sementara sapaan seperti “Aa”, “Neng”, “Teh” selalu membawa nuansa kehalusan.

Prabu mengingat salah satu hasil disertasi antropolog yang pernah dibacanya: “Pola sapaan di Tatar Sunda adalah simbol kasih sayang yang tidak diucapkan.”

Maka ketika Indriani meminta dipanggil “Dik”, Prabu tahu: Ia tidak sedang meminta panggilan—ia sedang mengizinkan kedekatan.

Prabu menatap layar ponsel, senyum muncul tanpa bisa ditahan. Ia mengetik pelan, tapi pasti: “Baik… mulai sekarang Indriani Mas panggil Dik.”

Di Cipayung, Indriani meletakkan ponselnya di dada. Pipinya panas, bukan karena udara lembab Megamendung, tetapi karena makna panggilan itu.

Di Bekasi, Prabu menatap ponselnya seolah layar itu adalah cahaya kecil yang baru menyala setelah sekian lama padam.

Keduanya tersenyum—tanpa saling melihat, tetapi merasakan hal yang sama.

Sementara, Cipayung malam itu berembun. Di rumahnya, Indriani menuang air ke teko. Bau jahe dan sereh memenuhi dapur. Anak-anaknya sudah terlelap, dan keheningan Cipayung hanya ditemani suara jangkrik, serta serbuk embun yang menempel di jendela.

Pesan baru masuk. Siapa lagi kalau bukan Prabu. “Adik, kapan kita jumpa lagi? Sudah lama nggak ketemu.”

Indriani memejamkan mata sesaat. Kata Adik itu menetes lembut di hatinya, seperti embun yang jatuh ke daun keladi.

“Bagaimana kalau Jumat, Mas? Adik lagi longgar kalau hari Jumat. Sabtu juga boleh… cuma biasanya jalur Puncak macet kalau weekend,” jawab Indriani.

Di Bekasi, Prabu membalas pelan: “Jumat, ya. Dua hari lagi.”

Ia meletakkan ponsel, menatap rak buku. Kata-kata Imam Syafi’i tiba-tiba terngiang: “Hati memiliki ruang yang tidak diketahui akal.”

Dan Prabu, yang berpuluh tahun hidup dalam kepastian—agama, ilmu, istri yang setia—tiba-tiba menyadari bahwa hati bukan benda statis. Ia tunduk pada hukum termodinamika yang sama seperti alam: semakin diberi energi—walau kecil—ia akan berubah keadaan.

Ia teringat teori phase transition: air yang tenang bisa mendidih, logam bisa meleleh, dan manusia bisa jatuh cinta… jika diberi percikan yang cukup.

Pertemuan hari Jumat itu kini menjadi percikan tersebut.

Di Cipayung, Indriani juga menatap ponselnya. Perutnya seperti berisi kupu-kupu kecil yang menari. Ia tak ingin berlebihan, tapi ia tahu: panggilan Adik itu adalah tanda batas yang telah terlewati.

Ia ingat pesan seorang ustazah dalam pengajian: “Setiap hubungan halal dimulai dari niat yang jelas. Bukan dari sembunyi-sembunyi.”

Dan ia percaya Prabu adalah orang yang mengerti itu. Sangat mengerti.

Sementara itu, pada malam itu di Gadog, Yuni membuka jendela kontrakannya. Malam dingin, tetapi pikirannya panas seperti wajan yang ditaruh langsung di atas api.

Sedangkan di Tanjung Priok, Hidayat memandangi layar ponselnya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ia merasakan sesuatu mulai lepas dari genggamannya.

Di Kopi Lao—dua hari ke depan—takdir sedang menunggu dua insan yang mulai menyebut satu sama lain dengan panggilan yang sama.

Jumat itu akan menjadi bab baru, yang akan mengubah kisah mereka selamanya.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This