Senja Temaram di Cipayung — Bagian 12: Dik

Must Read

Jumat pukul 11.00, Prabu memasuki wilayah Cipayung yang sejuk. Deretan rumah-rumah sederhana berdiri di lereng bukit yang menghadap lembah hijau. Angin membawa aroma tanah lembab dan sayuran yang baru dipetik dari kebun warga. Jalan-jalan kecil meliuk seperti garis yang ditarik tangan seniman—rapi, namun mengikuti lengkung alam.

Di pertigaan jalan utama ada masjid, Prabu mendapati kenyataan yang ia duga: semua tempat parkir penuh. Jamaah laki-laki memenuhi masjid, sebagian berdiri di antara toko-toko, sebagian lagi menunggu giliran berwudhu.

Prabu memutar setir perlahan, lalu menemukan tempat kosong di dekat kantor kelurahan—agak jauh dari masjid, tapi cukup aman. Ia mematikan mesin mobil, menarik napas, dan merapikan bajunya.

Sebelum melangkah, ponsel dalam sakunya bergetar mengingatkan. Ia mengetik singkat: “Mas Jumatan dulu di masjid pinggir jalan raya.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Pesan terkirim. Hatinya terasa lebih ringan.

Prabu berjalan menuju masjid dengan langkah yang tenang. Deru motor warga, suara pedagang gemblong, dan sapaan anak-anak sekolah menjadi latar yang ramah. Begitu memasuki halaman masjid, udara berganti menjadi lebih sejuk dan teduh.

Ia mengambil wudhu. Airnya dingin seperti mata air hulu Ciliwung. Setiap percikan di wajah terasa membasuh gelombang-gelombang batin yang sejak beberapa minggu terakhir tidak pernah benar-benar tenang.

Masuk ke dalam masjid, Prabu melakukan tahiyatul masjid dua rakaat. Setelah itu ia duduk—kedua telapak tangan bertemu di atas paha, lalu bibirnya melafalkan zikir pelan, tertata, penuh kesadaran.

Tak lama kemudian azan berkumandang. Tidak terlalu keras, namun jernih, bergema dari pengeras suara yang agak tua. Usai azan, Prabu kembali berdiri, menunaikan dua rakaat yang lain.

Khatib naik mimbar. Suaranya berat, perlahan, bercerita tentang amanah—betapa beratnya ia jika dipikul bukan oleh mereka yang bijak. Prabu mendengarkan dengan penuh perhatian. Kata “amanah” itu menempel di dadanya.

Ia tahu, hatinya sedang diuji. Sama seperti yang dikatakan Ibn Qudamah dalam al-Mughni, bahwa setiap keputusan dalam rumah tangga adalah beban moral yang akan dihisab. Dan poligami, jika sampai ia tempuh kelak, bukan sekadar “izin”, melainkan tanggung jawab spiritual yang berat.

Salat Jumat ditunaikan.

Prabu berdoa dengan husyuk, lalu menambah dua rakaat sebagai penutup. Keluar dari masjid, udara siang terasa sejuk dan terang. Dari kejauhan, bukit-bukit di Cipayung tampak hijau seperti hamparan permadani.

Prabu menuruni jalan kecil menuju mobilnya, lalu mengemudi pelan ke rumah Indriani. Rumah itu berdiri di lereng bukit, memandang langsung ke barisan pepohonan yang rimbun.

Ia menepi di bawah, di tepi jalan yang cukup landai. Ia mengetik pesan: “Mas sudah menunggu di bawah.”

Beberapa menit berlalu.

Dan tiba-tiba, dari teras rumah di atas sana, muncul sosok yang hatinya ia kenal lewat kata-kata—namun kini terasa lebih dekat dari udara yang ia hirup.

Indriani melangkah turun dengan hati-hati. Jalan setapak di depan rumahnya menurun curam, dikelilingi semak belukar dan pepohonan. Tapi langkahnya ringan. Topi pink menutupi kepala, rambut hitam tergerai rapi ke bahu. Jaket lembut warna senada membalut tubuhnya.

Ketika ia membuka pintu mobil, aroma sabun dan udara gunung langsung memenuhi ruang kabin.

“Mas udah lama?” tanya Indriani sambil mengukir senyumnya—senyum yang seperti bisa menyalakan lampu-lampu kecil di dada Prabu.

Prabu memutar tubuhnya, menatapnya penuh. “Adik, selalu cantik,” bisiknya.

Indriani terpaku sepersekian detik. Pipinya berubah merah muda, seperti bunga pucuk daun yang baru disiram hujan. Ia memejam tipis, seperti mendengar musik lembut yang hanya dirinya yang tahu.

Pujian itu mendarat di ruang batinnya tanpa benturan.
Alami.
Tulus.
Tidak dibuat-buat.

Sambil memasang sabuk pengaman, Indriani melirik Prabu. “Mas salat di masjid besar itu ya?”

“Iya, Dik. Ramai sekali. Tapi suasananya menenangkan.”

Indriani mengangguk pelan. “Mas kalau habis salat rasanya beda ya?”

Prabu tersenyum. “Iya. Kata Imam Al-Ghazali, salat itu seperti cermin—ia memantulkan siapa diri kita sebenarnya. Kadang tenang, kadang bergejolak. Tapi tetap membuat kita jujur.”

Indriani memandangnya lama, kagum. “Mas selalu bisa menjelaskan hal berat dengan lembut.”

Prabu tertawa kecil. “Karena Adik pendengar yang baik.”

Di luar jendela, angin gunung menggoyang pucuk bambu. Kabut dari Megamendung perlahan turun, menyelimuti lereng bukit di belakang rumah Indriani. Udara menjadi semakin syahdu.

Menurut teori attachment Bowlby, kedekatan bukan soal seberapa lama mengenal, tetapi “rasa aman yang muncul seketika saat bersama”.

Prabu merasakan itu.
Indriani juga merasakan itu.
Meski belum pernah diucapkan.

Mobil belum bergerak.

Mereka hanya duduk dalam keheningan yang tidak canggung.

“Mas…” bisik Indriani tiba-tiba.

“Hm?”

“Adik… senang Mas datang ke sini.”

Prabu menatapnya. Dalam.

Hatinya bergerak dengan cara yang ia kira sudah tidak mungkin lagi di usia ini.

Kabut Megamendung di kejauhan melunturkan batas antara langit dan bukit.
Seolah alam ingin berkata: “Pertemuan ini adalah awal sesuatu.”

Dan Prabu, duduk di samping perempuan yang memanggilnya Mas dengan kelembutan yang tidak pernah ia dapatkan di tempat lain, mengetahui satu hal: Ia telah melangkah pada jalan takdir yang tidak bisa ia hindari lagi.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This