Senja Temaram di Cipayung — Bagian 12: Dik

Must Read

Kabut siang yang turun dari punggung Gunung Gede membuat udara Cipayung terasa seperti dibungkus kain lembut. Jalanan yang menurun dari lereng rumah Indriani menuju pusat kecamatan itu dihiasi pohon-pohon salam, kelapa, dan beberapa rumpun bambu yang berdesir halus ketika angin menyentuhnya.

Prabu menyetir pelan; Indriani duduk di sampingnya memberi arah menuju tujuan yang ia sebut dengan mata berbinar, “Kita ke Kafe Agam aja, Mas. Ada kopi Aceh yang enak banget.”

Nama itu membuat hati Prabu bergetar lirih. Ia pernah bertugas di Aceh dua dekade silam—di masa ketika kopi Gayo bukan sekadar minuman, melainkan sahabat malam-malam panjang bertabur laporan dan suara hujan yang mengetuk tenda.

Kafe Agam berada di pinggir jalan utama Cipayung, bangunan kayu dua lantai dengan lampu gantung kuning temaram yang jatuh lembut di dinding-dindingnya. Bahkan dari luar sudah tercium aroma robusta baru sangrai, wangi cengkeh, dan kapulaga yang samar.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ketika mereka masuk, pelayan menyapa dengan ramah, dan Prabu tersenyum—senyum yang seolah membawa kembali masa muda yang hilang dibawa angin perang. “Adik… Mas jadi ingat masa bertugas dulu,” ujarnya.

Indriani tersenyum, “Makanya Adik ajak Mas ke sini.”

Prabu memesan kopi Aceh tubruk dengan dua kali saringan kain, cara lama yang mempertahankan minyak kopi agar rasa pahitnya tetap cemerlang. Indriani memesan jus jeruk dan mie Bangladesh, lalu Prabu ikut memesan menu yang sama hanya untuk merasakan apa yang disukai Indriani.

Ketika mie itu datang, aromanya kuat: gurih rempah, pedas yang tak berlebihan, dan gurih telur orak-arik. Prabu mencicipinya sambil mengangguk. “Ini… rasa Aceh banget, Dik. Mirip masakan di Lhokseumawe dulu.”

Indriani tampak bangga dengan pilihannya, seperti anak kecil yang dipuji karena menemukan sesuatu yang benar.

Percakapan mereka hangat. Sesekali Prabu mengutip ayat, hadis, atau pemikiran tokoh dunia yang ia pelajari sepanjang masa mudanya. Ia menyebut Omar Khayyam dan tersenyum pelan, ”A cup of coffee shared with a friend is happiness tasted and time well spent.”

Indriani menahan tawa malu-malu. ”Mas selalu aja ada kutipan,” katanya.

Prabu menjawab lembut, ”Supaya Adik tahu, pertemuan ini Mas tempelkan di dinding memori Mas.”

Indriani terdiam, dan ada sesuatu di matanya yang tak terucapkan.

Namun keheningan manis itu tidak berlangsung lama. Dari pintu kafe muncul seorang perempuan paruh baya—Yuni. “Mas, ini Yuni,” ucap Indriani polos, mengenalkan sahabatnya itu. Prabu mengangguk sopan. Ia tahu Yuni bukan sekadar teman biasa; ada aroma campur tangan yang samar, niat untuk menilai, mungkin juga bersaing.

Begitu Yuni duduk, suasana berubah. Percakapan yang semula mengalir seperti sungai kecil dari hutan Megamendung kini menjadi dangkal dan penuh batu. Indriani mulai membicarakan soal bisnisnya yang lesu, tentang daya beli yang turun, pelanggan yang menunda belanja, dan banyaknya permintaan utang. Yuni memandang Prabu seolah ingin mengukur kemampuan lelaki itu.

Prabu merapikan letak gelasnya, menjelaskan perlahan layaknya dosen ekonomi mikro yang sabar, “Dik, menurut teori perilaku konsumen, penurunan daya beli itu bukan cuma soal uang, tapi soal persepsi risiko. Orang yang takut masa depan akan menunda belanja. Adik bisa bikin paket kecil, beli murah—risikonya ringan.”

Indriani mengangguk serius, sementara Yuni tampak kehilangan pijakan dalam percakapan itu.

Prabu melanjutkan, “Ibnu Khaldun bilang, ekonomi naik turun seperti musim. Yang penting kita berusaha dan jaga kepercayaan.”

Indriani memandangnya lama, wajahnya memerah tipis. “Mas support Adik ya… supaya Adik semangat berdagang.”

Prabu menjawab tanpa jeda, “Mas pasti support,” dan jawaban itu membuat udara di antara mereka terasa lebih padat daripada kabut gunung di luar jendela.

Sore perlahan turun. Kabut dari arah Gunung Gede merambat turun, memeluk bangunan-bangunan kecil di Cipayung dengan lembut. Indriani gelisah memeriksa jam. “Mas… Adik mau live sebentar lagi. Boleh ya?”

Prabu tersenyum. “Tentu. Kita akhiri pertemuan ini.”

Ia mengantar Indriani dan Yuni ke mobil lalu mengantar mereka ke ruko. Para karyawan sudah siap membantu live marketplace. Prabu memilih tidak ikut turun; ia merasa tidak pantas masuk terlalu dekat ke dunia itu. Ia hanya berhenti sejenak, mengamati.

Ketika Indriani melambaikan tangan kecil dengan topi pink yang tertiup angin, hati Prabu seperti ditarik. Ada rindu yang tumbuh, ada rasa ingin melindungi, ada kewaspadaan, dan ada doa panjang yang terbit dalam diam. Ia memutar mobil perlahan, meninggalkan ruko sambil melihat bayangan Indriani di kaca spion semakin mengecil—namun justru terasa semakin besar di hati.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This