Senja Temaram di Cipayung — Bagian 12: Dik

Must Read

Di sisi lain kota, kabut Bogor sore itu turun cepat seperti tirai kelabu yang merunduk dari pucuk-pucuk pinus, menghapus batas antara jalan dan langit. Di sebuah kafe, Hidayat duduk sendirian dengan secangkir kopi hitam. Uapnya naik pelan, tetapi pikirannya lebih panas daripada cangkir itu.

Ketika notifikasi ponsel berbunyi, ia menoleh malas, hingga membaca pesan dari Yuni. Pendek, tetapi menghujam seperti anak panah: “Indriani memanggil Prabu Mas, dan Prabu memanggil Adik. Mereka sudah sangat dekat. Kayaknya mereka sudah jadian.”

Hidayat terdiam, dadanya bergemuruh. Ada bagian dirinya yang terkoyak—ego yang ia pelihara selama dua tahun mengejar Indriani, menunggu, menolong, mentransfer, mengantar, menahan harapan dan malu. Dua tahun yang kini terasa sia-sia ketika seorang lelaki baru datang dalam sepekan.

Dengan suara tenggelam ia berbisik, “Tidak mungkin.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia langsung menghubungi Ronaldo. Sahabatnya itu menjawab dengan tawa panjang, tawa pahit yang lebih mirip pisau. “Luar biasa Yat. Prabu bisa menggaet Indriani dalam seminggu, sedangkan kamu dua tahun cuma dapat harapan palsu.”

Kalimat itu menghantam keras. Hidayat merasakan betul teori threatened masculinity: lelaki yang kalah dari lelaki lain dalam hal perempuan akan memprosesnya sebagai ancaman status. Rasa sakitnya bukan karena cinta, tetapi karena ego yang pecah.

Dengan tangan gemetar ia mengetik, “Lihat saja nanti. Prabu akan tahu rasa kalau diporotin Indriani.”

Itu bukan isi hatinya. Itu mekanisme pertahanan diri, apa yang Freud sebut projection—melempar rasa malu kepada orang lain supaya diri sendiri tampak kuat.

Ronaldo membalas santai, “Kenapa kamu peduli? Indriani bukan pacar kamu. Biarkan Prabu dekat sama dia. Jangan usil.”

Kebenaran itu seperti air dingin yang menusuk tulang. Hidayat menatap jalan yang berkabut, motor dan mobil lewat bagai bayangan tanpa bentuk. Menara Masjid berdiri samar. “Apa salahku, Ndri?” bisiknya. “Dua tahun aku tunggu kamu… sekarang kamu senyum ke lelaki lain.”

Ia merasa kalah bukan hanya dari Prabu, tetapi dari harapan yang ia bangun sendiri. Namun sekuat apa pun ia marah, satu hal tidak bisa ia ubah: ia tak punya hak apa pun atas Indriani. Tidak hari itu, tidak pernah.

Beberapa kilometer dari situ, Prabu menyetir pulang dengan ketenangan yang kontras. Ia mengingat senyum Indriani, tawa kecilnya, topi pink yang selalu membuatnya tampak membawa cahaya sendiri. Ia tidak tahu bahwa langkah-langkah kecilnya sedang mengguncang hati lelaki lain.

Hidupnya, di usia enam puluh, sedang memutar arah tanpa ia minta. Seperti kata Ibn Qayyim, “Jalan menuju hati manusia itu tak selalu lurus; kadang berkelok karena takdir, bukan karena usaha.” Dan takdir sedang menyiapkan kelokan yang tidak akan mudah dilalui siapa pun. (Bersambung ke Bagian 13)

Baca juga: Senja Temaram di Cipayung — Bagian 11: Kemeja

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This