Senja Temaram di Cipayung — Bagian 17: Pertemuan

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

PRABU menatap jendela rumahnya di Perwira, daerah yang malam harinya sering dibalut campuran aroma laut tipis dari arah Marunda dan bau tanah panas yang baru turun suhu setelah siang yang menyengat. Lampu-lampu jalan menyoroti gang-gang sempit, dan suara motor yang sesekali lewat seperti irama tidak teratur dari hati yang sedang gelisah. Ia memahami bahwa ketertarikan bukanlah kesalahan moral yang langsung membakar, tetapi proses psikologis yang sering bermula dari percakapan kecil, empati sejenak, atau kebutuhan emosional yang tak terpenuhi. Ia teringat Frankl: Antara stimulus dan respons, ada ruang.” Dan malam ini, ruang itu terasa sempit sekali.

Di sisi lain kota, Indriani terbaring di kamarnya. Sunyi Cipayung malam itu terasa seperti ruang vakum: hanya ada dirinya, layar ponsel yang redup, dan pikiran yang tak berhenti menciptakan skenario yang bahkan tak ingin ia percayai. Ia mengulang nasihat para ulama: bahwa hati adalah entitas yang mudah terpaut ketika sering disentuh oleh rasa nyaman. Ia tahu, secara ilmiah sekaligus spiritual, bahwa kedekatan emosional bisa lebih berbahaya daripada tindakan fisik. Dan di titik itulah ia takut pada dirinya sendiri.

Sementara itu, Wina merebahkan tubuhnya. Gelap kamar mengalir seperti selimut yang mencoba menutup segala kecamuk, tetapi pikirannya tetap menyala, seterang lampu-lampu berwarna jingga yang memantul di kubangan air hujan di pinggir jalan Kompleks Perwira Jaya. Ada ketenangan di wajahnya—ketenangan yang tidak lahir dari kepastian, tetapi dari kesadaran penuh bahwa ia telah berdiri di titik paling jujur dalam hidupnya.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia bukan tidak takut.

Ia hanya sudah berhenti lari.

Wina mengingat firman Allah, Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.”  Ia juga mengingat perkataan Carl Jung: “One does not become enlightened by imagining figures of light, but by making the darkness conscious.”  Maka malam itu, ia memilih menyentuh gelap itu. Menyentuh rasa sakitnya, ketakutannya, egonya, dan cintanya—semua sekaligus—tanpa menyingkirkan salah satunya.

Ia tahu, gelombang besar belum tiba. Yang mereka rasakan baru riak pertama. Baru getaran kecil sebelum tanah retak. Baru angin awal sebelum badai mengaum. Dan anehnya, Wina justru menjadi satu-satunya yang memahami hal itu dengan sangat jelas.

Karena perempuan yang paling diam, sering kali adalah perempuan yang paling tahu.
Karena hati yang paling tenang, sering kali adalah hati yang sudah siap menghadapi apa pun yang datang.
Dan karena cinta yang paling matang, bukan yang paling merayu—melainkan yang paling berani menerima kenyataan.

Di tengah malam Perwira yang lembap dan penuh rahasia itu, tiga hati menatap arah hidup masing-masing. Namun tanpa mereka sadari, takdir sedang mengarahkan ketiganya menuju satu titik pertemuan baru—tempat di mana kejujuran tidak lagi bisa ditunda, dan pilihan tidak lagi bisa ditangguhkan.

Gelombang itu sedang tumbuh. Dan tak lama lagi, ia akan mencapai puncaknya.

***

Hujan turun sejak isya, merayapi genting rumah di Perwira dengan rintik yang rapat—seperti jemari malam mengetuk-ngetuk dada Prabu. Di kamar yang redup, Wina sudah berbaring, punggungnya menghadap Prabu, tetapi napasnya terlalu stabil untuk disebut tidur. Ada keheningan yang menggantung di antara mereka, keheningan yang mengandung percakapan yang ditunda terlalu lama.

Prabu tahu ia sudah tidak bisa menunda lagi.

Hatinya sesak oleh nama yang terus berputar seperti meteor kecil yang menolak padam.

Ia menepuk lembut bahu Wina. “Dik… kamu belum tidur, kan?”

Wina membalik pelan, mata tenang namun siaga. “Belum. Ada apa, Mas?”

Prabu menarik napas panjang—napas seorang laki-laki yang akan mengubah peta rumah tangganya sendiri. “Mas mau jujur… soal seseorang.”

Wina tidak terkejut. Ia hanya menatap dengan mata yang seperti membaca naskah lama yang baru diulang untuk kesekian kali. “Namanya… Indriani.”

Nama itu jatuh pelan, tapi resonansinya kuat. Masuk ke ruang antara mereka dan duduk di sana, lengkap dengan bayangan, harapan, dan kemungkinan yang selama ini belum diberi kursi.

“Ceritakan,” kata Wina lembut.

Prabu menatap langit-langit. “Indriani itu perempuan kuat, Dik. Berdagang dari subuh, mandiri, tidak mengeluh. Mas kenal dia dalam urusan kerja. Tapi lama-lama… Mas merasa nyaman.”

Wina mengerjap sejenak. “Nyaman bagaimana?”

“Nyaman karena dia tidak meminta apa-apa, Dik. Tidak menuntut, tidak bergantung. Dia hanya… ada. Dan kehadirannya menenangkan.”

Wina kembali diam. Ia bukan perempuan yang meledak. Ia perempuan yang berpikir.

“Mas,” katanya kemudian, “kamu ingat tiga syaratku?”

“Ingat.”

Prabu menegakkan duduknya, tangan gemetar sedikit.

“Ulangi,” pinta Wina. Suara yang tenang, namun ia adalah hakim bagi keputusan hidup.

Prabu menelan ludah. “Pertama… perempuan itu harus mandiri,” katanya pelan. “Tidak menjadi parasit bagi hidup Mas. Tidak menyeret, tidak menghisap penghasilan atau nurani Mas.”

Wina mengangguk. Ia memang tidak pernah ingin suaminya mengambil beban baru—perempuan yang mengandalkan Prabu sebagai mesin uang atau pelarian emosional.

“Kedua,” lanjut Prabu, “perempuan itu harus punya akhlak.”

“Karena kalau Mas harus membagi cinta, Adik bilang… semoga yang terbagi bukan cuma lelaki itu, tapi juga kebaikan yang mengikutinya.”

Wina mengembus napas panjang. Kata-katanya dulu kembali menghampirinya. Ia tidak pernah meminta suaminya sempurna. Ia hanya berharap jika Prabu harus terbagi, maka pernikahan kedua itu membawa kebaikan, bukan kehancuran.

“Dan ketiga?” tanya Wina.

Prabu memejam. “Ketiga… Mas harus jujur. Pada diri sendiri, pada kamu, pada perempuan itu.”

Wina menatapnya lama. “Dan malam ini, kamu sudah memilih jujur.”

Prabu merendahkan suara. “Iya, Dik.”

Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat.

Wina mengatur napasnya, lalu bertanya: “Sekarang jawab jujur. Indriani… memenuhi dua syarat itu?”

Pertanyaan itu bukan interogasi. Itu adalah uji moral yang lebih tajam daripada hukum mana pun.

Prabu menunduk. “Insyaallah… dia mandiri. Dia bekerja keras. Tidak pernah minta apa pun dari Mas, bahkan ketika dia butuh. Dia bukan perempuan yang bergantung.”

Wina mengangguk. “Lalu… akhlaknya?”

Prabu memejam mata, melihat kembali caranya Indriani bicara, menunduk, mencintai keluarganya, bertahan hidup dengan caranya yang keras namun lembut.

“Dia… bukan perempuan yang datang untuk mengambil. Bukan yang menghasut. Dia menghormati batas. Dan dia selalu bilang… kalau ini tidak halal, dia tidak mau meneruskan.”

Wina menutup mata pelan.

Ada rasa perih, tapi juga kelegaan yang jujur. “Kalau begitu,” katanya lirih, “dia memenuhi dua syaratku.”

Prabu melihat wajah istrinya—wajah yang ia cintai, wajah yang telah melewati banyak gempa batin bersamanya. Dan ia tahu, meski Wina tidak pernah menghalangi, ia tetap sedang terluka.

Tapi Wina adalah perempuan yang merawat logika seperti merawat iman. Ia tidak membiarkan rasa menguasai takdir.

“Mas,” katanya akhirnya, “kalau Mas memang ingin menikah lagi… aku tidak akan melarang.”

Prabu menahan napas.

“Tapi satu hal,” Wina melanjutkan. “Jangan membagi rumah yang dekat denganku. Jangan membagi tanggung jawab tanpa perhitungan. Dan jangan pernah membagi keadilan.”

Ia memperbaiki posisi bantalnya, lalu menambahkan: “Jika Mas membagi cinta… pastikan Mas juga membagi kebaikan.”

Prabu hampir menangis. Tidak karena diizinkan, tetapi karena diberi kehormatan.

Wina memejamkan mata. “Sekarang tidur, Mas. Kita masih hidup bersama. Dan esok pagi… hati kita mungkin masih sakit, tapi harus tetap berjalan.”

Lampu kamar perlahan padam.
Hujan masih mengetuk genting seperti zikir panjang.

Dan di bulan November itu— nama Indriani tidak lagi menjadi sembunyi-sembunyi, melainkan bagian dari kejujuran yang akhirnya menemukan tempatnya.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This