Senja Temaram di Cipayung — Bagian 17: Pertemuan

Must Read

Pertemuan itu terjadi di sebuah kafe tak jauh dari tikungan panjang menuju Megamendung, tempat kabut turun lebih cepat daripada senja. Angin membawa aroma tanah basah dan kayu pinus, menembus kaca jendela besar yang menatap hutan seperti mata yang diam-diam mengamati dua manusia yang duduk berhadapan di dalamnya.

Prabu tiba lebih dulu. Jaket hangat yang ia kenakan tampak menyatu dengan suasana kayu kafe itu, seolah ia adalah bagian dari lanskap. Ia baru saja menemukan dirinya terjebak pada fase yang ia sendiri tak tahu bagaimana harus menamainya. Ia teringat pendapat Imam Syafi’i tentang keadilan dalam poligami yang begitu berat hingga banyak lelaki takut menyentuhnya, kecuali mereka yang benar-benar paham tanggung jawab yang memayungi nafsu.

Tak lama kemudian Indriani datang. Melihat Prabu duduk menyeruput kopi, ia langsung mengucap salam dan menyembangkan bibirnya tersenyum. Namun, ia melangkah dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Boleh jadi karena tubuhnya memang belum pulih sepenuhnya dari kelelahan berdagang. Mungkin karena batinnya sedang bernegosiasi dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya; atau mungkin karena ia tahu bahwa hari itu bukan sekadar pertemuan, tetapi persimpangan hidup.

“Maaf… aku terlambat, Mas.” Suaranya lembut, sedikit serak.

Milad 117 H Muhammadiyah

Prabu menggeleng. “Nggak apa-apa. Adik datang, itu yang penting.”

Ia mempersilakan Indriani duduk. Dan untuk beberapa saat, keduanya hanya diam. Ada ketenangan ganjil di antara mereka—ketenangan yang hanya muncul ketika dua orang sudah melewati tahap malu, takut, dan ragu; dan kini berada di wilayah paling jujur dari diri sendiri.

Indriani menatap keluar jendela. Kabut makin tebal, turun perlahan seperti selimut besar yang sedang digelar dari langit. “Aneh ya, Mas… kabut tebal begini bikin semuanya kelihatan dekat. Padahal sebenarnya jauh.”

Prabu tersenyum tipis. “Itu mirip hati manusia. Kadang terasa dekat padahal jauh, kadang sebaliknya.”

Ia kemudian menambahkan sesuatu yang membuat Indriani mengalihkan pandangannya kembali.

“Kata Victor Frankl, manusia selalu mencari makna. Dan kalau maknanya ditemukan pada seseorang… itu bisa mengubah arah hidupnya.”

Ada getaran halus di mata Indriani.

Mereka berbincang cukup lama—tentang hidup, tentang masa lalu yang pelan-pelan sembuh, tentang luka hati yang tidak bisa dilihat dokter mana pun, dan tentang masa depan yang semakin hari semakin tak bisa disangkal lagi.

Hingga pada akhirnya, pembicaraan itu mengalir menuju sesuatu yang selama ini mereka hanya pikirkan diam-diam.

“Mas…” Indriani berkata pelan. “Kalau memang kita mau serius… aku ingin semua berjalan baik. Tenang. Tidak terburu-buru.”

Prabu mengangguk. Lalu ia menghela napas panjang—napas yang menggambarkan perjuangan panjang antara cinta, tanggung jawab, dan amanah sebagai seorang lelaki. “Aku ngerti. Dan aku… ingin menikah dengan kamu. Dengan cara baik.”

Kalimat itu turun seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.

Indriani memejamkan mata sejenak. Ada campuran lega dan takut. Ia teringat kata-kata Rumi yang pernah disampaikan Prabu: “Let yourself be silently drawn by the strange pull of what you really love.”

Dan ia tahu, dalam diamnya, ia sedang ditarik oleh sesuatu yang tak bisa ia hindari lagi.

Dengan suara hampir berbisik, ia berkata, “Kalau begitu… tanggal 10 Desember, Mas. Itu hari yang aku rasa paling pas. Aku libur dagang, bisa istirahat, bisa fokus.”

Prabu sempat tersenyum. Lalu senyum itu meredup perlahan, menjadi sesuatu yang lebih serius. “Tanggal itu… ulang tahunnya Mbak Wina.”

Indriani terdiam. Seakan kata itu—Wina—adalah nama yang tak boleh diucapkan terlalu keras, takut mengirim riak ke air yang sedang berusaha tenang. Bukan karena ia cemburu. Tapi karena ia sadar, perempuan itulah yang selama ini menjaga rumah Prabu, menjaga hidupnya, menjaga cinta yang sedang berubah bentuk.

“Kalau begitu…” Indriani menelan ludah, suaranya lebih lembut dari kabut di luar sana.

“Setelahnya. Atau sebelumnya. Yang penting bukan tanggal itu. Aku ingin semuanya baik,” sambut Prabu.

Setelah beberapa timbang-timbang, di tengah aroma kopi dan kayu pinus, mereka memutuskan tanggal 15 Desember.

Tanggal yang tidak bersinggungan dengan luka siapa pun. Tanggal yang terasa seperti kompromi antara cinta baru dan cinta yang telah lama berdiri. Tanggal yang di mata Prabu adalah ruang yang cukup untuk bernafas sebelum memasuki kehidupan baru.

Prabu meraih tangan Indriani. Tidak lama, tidak berlebihan. Hanya sentuhan yang mengkonfirmasi keberanian mereka berdua. “Kalau ini jalan yang Allah kasih… aku bakal tanggung jawab penuh.”

“Dan aku akan siap,” balas Indriani.

Di luar, kabut memeluk puncak-puncak pohon. Hujan rintik mulai turun.

Puncak Megamendung menjadi saksi dua hati yang baru saja mengambil keputusan yang akan mengubah hidup banyak orang.

Sementara itu, jauh di Perwira, Wina tiba-tiba terbangun dari tidur singkatnya—tanpa alasan yang jelas. Seolah hatinya menyentuh gelombang kecil di kejauhan. Gelombang yang belum ia lihat, tapi entah kenapa… sangat ia kenali.

Gelombang itu sedang tumbuh. Dan 15 Desember… tinggal menghitung waktu.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This