Perjalanan pulang dari Puncak terasa lebih panjang daripada biasanya. Jalanan yang menurun menuju Gadog dipenuhi kelap-kelip lampu kendaraan yang mengular seperti sungai cahaya. Prabu memegang setir dengan kedua tangan, tetapi pikirannya melayang—bukan kepada jalanan, melainkan kepada tanggal yang baru saja mereka sepakati: 15 Desember.
Ia tidak menyesal. Tidak juga sepenuhnya mantap. Lebih tepatnya, ia merasa sedang memasuki persimpangan yang segala rambu di dalamnya berasal dari dua dunia yang sama-sama menuntut kejujuran.
Ketika akhirnya ia memasuki kawasan Perwira dan memarkir mobilnya di depan rumah bergaya sederhana—rumah yang dibangun dengan kesabaran bertahun-tahun dan cinta yang lama—Prabu merasakan sesuatu menekan dadanya. Bukan rasa bersalah. Bukan takut. Tapi sejenis beban kosmik yang hanya Allah tahu ukurannya.
Lampu ruang tamu masih menyala. Wina sudah menunggu. Ia duduk di sofa, dengan selimut tipis menyelimuti kakinya. Tidak ada televisi menyala, tidak ada musik. Hanya ada Wina… dan kesunyian yang seolah tahu apa yang baru saja diputuskan Prabu di atas gunung.

Wina mengangkat kepala begitu pintu dibuka. “Mas baru sampai?”
Prabu mengangguk, menaruh kunci di meja kecil dekat pintu. “Iya. Macet sedikit di Cibubur.”
Wina tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya lepas, tetapi juga tidak penuh kecurigaan. Senyum yang muncul dari seseorang yang sedang mencoba berdiri tegak di tengah tanah yang mulai bergerak.
“Mas lapar?” tanya Wina.
“Tidak,” jawab Prabu pelan.
Ia duduk di samping Wina. Hanya beberapa senti jaraknya, tetapi rasanya seperti ada hutan penuh diam di antara mereka.
Wina menghela napas perlahan—seperti seseorang yang memutuskan untuk bertanya bukan karena ingin jawaban, tetapi karena ia siap menerima apa pun bentuk jawaban itu.
“Mas… dari tadi aku ngerasa… Mas habis mikir banyak hal.”
Prabu menatap istrinya. Matanya lembut. Matanya takut. Matanya penuh sayang sekaligus resah. Campuran yang hanya muncul ketika seorang lelaki harus memilih kebenaran meski kebenaran itu menyakitkan.
“Dik… Mas mau ngomong sesuatu.”
Wina menunduk sedikit. “Aku dengar, Mas.”
Prabu mengusap wajahnya. Ia tidak ingin berbohong. Tidak malam ini. Tidak setelah apa yang baru saja disepakati di Megamendung. Ia teringat satu kalimat Ali bin Abi Thalib yang selalu ia jadikan pegangan: “Jujurlah engkau sekalipun kejujuran itu akan membinasakanmu.”
“Mas ketemu Indriani tadi,” kata Prabu akhirnya.
Wina tidak terkejut. Ia hanya menegang pelan, seperti seseorang yang sudah menduga tetapi tetap tersentuh oleh konfirmasi.
“Mereka bicara panjang. Jujur. Terlalu jujur, mungkin,” pikir Prabu.
“Ngobrol biasa?” tanya Wina. Suaranya nyaris tidak terdengar, tetapi stabil. Ia menahan segala gempa dari dalam.
“Awalnya… iya,” jawab Prabu. “Tapi akhirnya kami bicara tentang masa depan.”
Hening turun seperti salju di kutub.
Wina memejamkan mata sejenak. “Mas mau menikah sama dia.”
Kalimat itu bukan pertanyaan. Bukan pula tuduhan. Kalimat itu adalah diagnosis.
Prabu menunduk, lalu mengangguk perlahan.
Wina menarik napas panjang—napas perempuan matang yang tidak lagi melawan gelombang, melainkan belajar berenang di atasnya.
Ia tahu keputusan itu sedang tumbuh sejak beberapa waktu lalu. Ia sendiri telah memberikan pintu—dengan syarat, dengan batas. Tapi mendengar pengakuan itu dari mulut lelaki yang ia cintai tetap terasa seperti seseorang membuka jendela ketika angin terlalu dingin.
Ia butuh waktu beberapa detik sebelum kembali berbicara. “Tanggal berapa?”
Pertanyaan itu membuat dada Prabu terasa asing. Ia tidak menyangka Wina akan se-tenang itu. Tenang yang bukan menyerah, tapi menerima peran baru dalam skenario hidup yang ia sendiri tak pernah bayangkan.
“Awalnya mau tanggal 10,” kata Prabu. “Tapi… itu ulang tahun Adik. Jadi kami sepakat tanggal 15 Desember.”
Wina mengangkat wajahnya. Ada sesuatu yang berkilat di matanya—bukan air mata, melainkan semacam kesadaran spiritual yang dalam, seperti ia baru saja mengurai simpul besar yang selama ini mengikat batinnya.
“Mas ingat ulang tahunku,” katanya pelan.
“Aku selalu ingat,” jawab Prabu.
Dan pada saat itulah, Wina tersenyum. Senyum paling tenang yang pernah muncul sejak semua badai ini mulai. Senyum yang datang dari perempuan yang memahami bahwa hati manusia bukan ruang tunggal. Bahwa mencintai seseorang terkadang berarti membiarkannya memilih jalan yang mungkin tidak melibatkan kita sepenuhnya.
“Mas…”
“Ya?”
“Kalau itu memang jalan hidup Mas… aku terima.”
Prabu menutup mata. Ia hampir tak mampu menahan rasa haru yang mencengkeram dadanya.
Tapi Wina belum selesai.
“Tapi ingat… seperti yang dulu Mas bilang. Menikah itu bukan sekadar berani. Tapi sanggup. Dan sanggup itu bukan hanya uang, Mas. Itu soal adil. Soal hati. Soal akhlak. Soal ilmu.”
Ia mengutip sesuatu yang pernah ia baca di sebuah buku tentang psikologi relasi: “Manusia tidak hancur oleh konflik, tetapi oleh ketidakjujuran terhadap konflik itu sendiri.”
“Aku tidak ingin rumah ini runtuh bukan karena perempuan lain,” lanjut Wina. “Tapi karena Mas tidak jujur kepada dirimu sendiri.”
Prabu menatapnya. Lama. Sangat lama. Dan saat itu, ia menyadari sesuatu: Bahwa Wina bukan sekadar istri pertama. Ia adalah fondasi. Penjaga keseimbangan. Satu-satunya perempuan yang paling mengerti mekanisme batinnya—bahkan ketika ia memutuskan membuka lembar baru dengan perempuan lain.
Di luar rumah, angin Bekasi malam itu bertiup lebih pelan, menyapu gang kecil yang selalu sunyi setelah jam sembilan. Bau rumput lembap dari halaman tetangga masuk lewat jendela.
Di dalam rumah itu, dua manusia duduk bersebelahan. Tidak saling berpelukan. Tidak menangis. Tidak marah.
Mereka hanya berbagi satu hal yang paling suci dalam hubungan apa pun: Kejujuran yang tidak bisa dihindari lagi.
Apa yang terjadi setelah itu, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu. Tapi malam itu, keduanya sama-sama paham satu hal: Bahwa jalan ke tanggal 15 Desember bukan hanya perjalanan menuju akad kedua. Itu adalah perjalanan menuju bentuk baru dari cinta, tanggung jawab, dan keteguhan hati. (Bersambung ke Bagian 18)


