Beberapa hari setelah pertemuan yang meredakan badai antara Wina dan Indriani, hidup berjalan dengan cara yang aneh: tenang di permukaan, namun penuh riak kecil di dasar. Prabu bekerja dengan pikiran yang lebih terstruktur; ia merasa seperti seseorang yang telah berhasil menyeberangi jembatan rapuh dan menemukan tanah yang lebih stabil. Tetapi stabilitas itu justru membuatnya ingin mempercepat langkah. Dalam logika seorang lelaki yang telah mempertimbangkan agama, moralitas, dan kemantapan emosional, ia bertanya pada dirinya sendiri: untuk apa berlama-lama? Jika sesuatu sudah halal dan jelas, bukankah menunda justru membuka pintu setan?
Malam itu, setelah menutup laptop kerjanya, Prabu mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada Indriani.
“Dik Indri, kalau kamu sudah siap, kita sebaiknya menikah secepatnya. Tidak perlu berlama-lama. Hidup ini terlalu singkat untuk menunda yang baik.”
Ia menatap kalimat itu beberapa detik. Nada pesannya lugas, tetapi bukan terburu-buru; ada ketegasan moral di dalamnya. Prabu mengingat ucapan seorang ulama Sudan yang pernah ia baca: “Menunda hal yang halal dengan alasan yang kabur hanya memberi ruang pada kekeliruan untuk berkembang.” Ia memercayai itu, bukan semata karena dalil, tapi karena pengalaman hidup mengajarkan bahwa keputusan yang benar hanya butuh satu hal: keberanian untuk mengambilnya.

Pesan itu terkirim. Hanya satu centang, lalu dua. Beberapa menit kemudian, tanda “mengetik…” muncul.
Jawaban Indriani datang cukup cepat. Namun panjang. “Saya setuju, Mas. Saya juga tidak ingin hidup saya menggantung. Tapi saya punya beberapa syarat, dan ada hal-hal tentang keluarga saya yang harus Mas tahu sebelum semuanya benar-benar dijalankan.”
Prabu merasakan dadanya mengeras. Ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini Indriani simpan di balik senyumnya—kemungkinan luka, beban ekonomi, atau cerita-cerita yang tidak mudah diucapkan perempuan mana pun.
“Syarat apa, Dik? Ceritakan saja. Kita tidak perlu sembunyikan apa pun.”
Dan saat itulah tirai yang selama ini menutupi hidup Indriani perlahan terbuka. “Saya hidup dengan mama yang… tidak ingin saya menikah lagi,” tulisnya pelan. “Beliau masih belum menerima dua pernikahan saya yang gagal. Dalam pikirannya, saya lebih baik di rumah saja, dekat dengannya. Dia takut saya disakiti lagi.”
Prabu membaca kalimat itu dua kali. Ia membayangkan seorang ibu yang terluka oleh menantu yang buruk, lalu menutup anaknya dari dunia demi mencegah luka kedua. Sikap itu tidak salah sepenuhnya—itu cinta dalam wujud yang berlebihan.
Pesan Indriani berlanjut: “Kakak saya tuna rungu, dan saya yang selama ini banyak mengurusnya. Mama juga bergantung pada saya, bukan hanya secara tenaga, tapi juga secara emosional. Lalu ayah saya… tinggal Bersama saudara tiri saya di Cipanas. Beliau sakit-sakitan, kadang drop kalau cuaca dingin. Semua butuh perhatian.”
Jari Prabu terhenti di atas layar. Ia merasakan sesuatu yang berat, tetapi bukan berat yang ingin ia hindari. Ini seperti membuka pintu gudang lama untuk menemukan barang-barang yang terlupakan—bau debu, namun juga kejelasan.
Indriani menambahkan kalimat terakhir, yang lebih rapuh dari semua sebelumnya: “Saya takut, Mas. Takut saya masuk ke hidup Mas tapi membawa beban yang terlalu besar. Takut Mas menyesal nanti.”
Prabu menutup mata sejenak. Baginya, ini bukan beban; ini manusia. Dan manusia selalu datang dengan latar, sejarah, tanggungan, dan kepedihan. Tidak ada satu pun orang di dunia yang bisa benar-benar “kosong”. Indriani justru jujur. Dan itu menguatkan keyakinannya.
Ia membalas panjang, dengan nada yang lembut tetapi berisi: “Indri, hidup bukan soal siapa datang membawa beban lebih ringan. Justru beban-beban itulah yang membuat kita jadi manusia. Aku tidak takut keluargamu. Tidak takut tanggung jawab. Yang aku takutkan hanya satu: jika kamu menyembunyikan sesuatu atau berpura-pura kuat padahal kamu tersiksa. Dan kamu tidak melakukan itu. Kamu jujur. Itu syarat paling penting dalam rumah tangga.”
Indriani membaca pesan itu sambil memegang napas. Ia merasa aneh, seolah seluruh isi rumahnya—dengan tembok yang penuh bayangan masa lalu—tiba-tiba mendapat cahaya baru. Ia menulis pelan: “Kalau begitu… saya siap menikah. Tapi saya ingin Mama diberi waktu. Jangan sampai beliau berpikir saya direbut dari rumah. Dan saya ingin Mas sesekali ikut melihat Ayah. Sebagai menantu, bukan hanya sebagai suami saya.”
Prabu tersenyum kecil. Syarat-syarat itu bukan syarat perempuan yang menuntut, tetapi syarat perempuan yang ingin hidupnya tetap bermakna dan tidak meninggalkan orang-orang yang selama ini ada dalam orbitnya.
Ia menjawab singkat namun menggenggam banyak ketegasan: “Baik, Dik. Semua itu bisa kita jalani. Kita sepakati tanggalnya. Kita jalani prosesnya. Kita buat keluargamu bagian dari jalan ini, bukan korban dari keputusan kita.”
Indriani menutup ponsel, menatap langit kamar yang remang. Untuk pertama kali setelah sekian lama, ia merasakan rasa aman yang tidak penuh keraguan. Rasa aman yang tumbuh dari kesanggupan Prabu memahami luka keluarga yang tidak indah, tidak rapi, dan tidak mudah.
Di Bekasi, Prabu menatap layar ponsel yang mulai redup. Ia tahu hidupnya akan menjadi lebih sibuk, lebih kompleks, mungkin lebih melelahkan. Tetapi ia tersenyum, karena ia percaya apa yang ia tempuh bukan sekadar pernikahan, melainkan keberanian untuk masuk ke hidup perempuan apa adanya—bukan hidup yang sudah dipoles.
Di antara pesan-pesan malam itu, keduanya sama-sama mengerti: kejujuran adalah pintu pertama menuju rumah yang mereka bangun bersama.
***


