Senja Temaram di Cipayung – Bagian 3: Mahar

Must Read

Oleh Miftah H Yusufpati

SABTU siang itu, awan menggantung rendah di langit Bekasi, seperti memantulkan gelombang gelisah dalam dada Prabu. Ia duduk di ruang kerjanya, memandang layar ponsel dengan tatapan yang menghubungkan logika dan firasat. Nomor yang Dewi berikan—yang katanya milik tantenya—kembali tidak tersambung. Tiga kali dicoba, tiga kali pula sambungan terputus seolah sinyal pun enggan bekerja sama.

Prabu mengusap wajahnya, menghela napas. “Komunikasi adalah dasar peradaban,” ia menggumam, mengutip Yuval Noah Harari. “Tanpa komunikasi, bahkan cinta pun hanya asumsi.”

Ia lalu menekan nama Ima di ponselnya. Perantara yang mempertemukannya dengan Dewi itu tidak mengangkat panggilan. Pesan WhatsApp pun hanya centang satu. Prabu menatapnya lama, seperti membaca tanda-tanda dari semesta.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia mulai menduga-duga: jangan-jangan Ima tersinggung karena ia tidak memberikan tips atau uang tanda terima kasih setelah pertemuan pertama. Prabu mengerutkan kening. Bukan ia pelit—ia hanya tidak tahu “protokol sosial” di kampung seperti Cikreteg, tempat perjodohan berjalan dengan aturan adat tak tertulis yang hanya dipahami oleh mereka yang lahir di dalam lingkungan itu.

Mencoba memperbaiki keadaan, akhirnya Prabu mengirim pesan lain ke Ima:
“Jika perjodohan ini berhasil, saya siapkan hadiah menarik.”

Pesan centang dua—tetapi Ima telah mematikan tanda read. Prabu tersenyum pahit. Betapa teknologi bisa membuat manusia semakin pintar menyembunyikan hati.

Hari itu ia menyimpulkan: hubungan dengan Dewi tampaknya gagal sebelum sempat tumbuh. “Kalau dia sungguh-sungguh,” kata Prabu pada dirinya sendiri, “dia pasti berusaha menghubungi kembali.”

Logika ilmiahnya yang dingin menyimpulkan satu kemungkinan: non-respons berarti minim ketertarikan. Sebagaimana dalam teori komunikasi Schramm: pesan yang tak kembali bukan bagian dari percakapan.

***

Prabu kemudian menghubungi Caca, perempuan kedua yang ia temui di rumah Ima—seorang janda muda, tubuh terawat, tutur ceplas-ceplos, dan tatapan yang menyiratkan pengalaman pahit. Mereka bertukar nomor ponsel kala itu, dan kini Prabu melihatnya sebagai kemungkinan baru.

Ia menjelaskan duduk masalahnya melalui WhatsApp, bertanya apakah Caca bisa menghubungi Dewi atau Ima. Ternyata Caca pun baru mengenal Dewi pada hari itu. Ia tak punya kontak siapa pun.

“Saya bisa bantu tanya ke Ima,” tulis Caca.

Namun ketika pesan Caca dikirim, hasilnya sama saja: tak berbalas.

Hubungan perjodohan Dewi akhirnya benar-benar dianggap selesai. Prabu tidak marah. Hanya merasa bahwa kehidupan di kampung kadang seperti eksperimen sosial yang tak dapat ia prediksi. Ia sering membaca bahwa dalam masyarakat rural, informasi bergerak bukan melalui logika, tetapi jaringan relasi. Ima kemungkinan ingin “keuntungan awal,” dan Prabu terlambat memahami itu.

Beberapa hari kemudian, Prabu memusatkan perhatian pada Caca. Percakapan mereka mulai teratur. Tidak manis, tidak menggoda—justru jujur dan lugas.

Caca mengaku tidak ingin menikah dalam waktu dekat. Luka rumah tangga sebelumnya masih membekas dalam bentuk ketakutan yang tidak kasat mata. “Aku datang ke Ima bukan cari suami,” tulisnya. “Cuma menghormati ajakannya.”

Prabu tersenyum membaca itu. Kejujuran adalah tanda karakter kuat.

“Caca,” tulis Prabu, “aku tidak memintamu mengubah hidupmu. Kamu tetap kerja di garment, tetap jadi admin, tetap dapat penghasilan sendiri. Satu hal yang berbeda nanti: kamu punya suami. Itu berarti kamu tidak boleh punya hubungan istimewa dengan laki-laki lain.”

Caca lama tidak membalas. Lalu muncul satu pesan: “Bang, perempuan kayak saya ini bukan takut laki-laki. Saya cuma takut mengulang kesalahan.”

Prabu memahami itu. Ia menulis pelan, “Poligami, atau pernikahan apa pun, bukan soal banyak istri atau satu istri. Dalam pandangan ulama seperti Ibn Taimiyyah dan Yusuf al-Qaradawi, poligami adalah amanah, bukan keistimewaan. Dan amanah itu hanya cocok bagi orang yang mampu adil.”

Ia mengetik lagi, “Aku sedang memikirkan masa depan, bukan permainan.”

Caca membaca pesannya lama—tiga titik mengetik muncul hilang, muncul lagi. Sebuah proses batin yang bagi Prabu justru lebih meyakinkan daripada janji manis seorang gadis muda.

Hubungan mereka sedang tumbuh. Perlahan, tetapi nyata.

Tatkala Caca mulai memberi lampu hijau Prabu mengirim pesan: “Caca aku ingin hubungan yang halal dan sehat, bukan hubungan gelap. Aku ingin cepat menikah, dan syaratnya pernikahan ini harus dirahasiakan dari keluarga dan istriku. Jika kamu cocok, kita bisa menikah. Setelah kita menikah, kita bisa bertemu di hotel atau mengontrak rumah.”

Prabu membaca ulang pesannya. Apakah ini terlalu langsung? Tapi Prabu tahu. Dalam hukum fikih, khususnya menurut Imam An-Nawawi, kejelasan niat dalam akad adalah syarat sah komunikasi menuju pernikahan. Ambiguitas hanya membuka jalan fitnah.Ia pun mengirim pesan itu.

Butuh waktu hampir sepuluh menit sebelum Caca membalas. “Bagaimana dengan Dewi?”

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This