Pukul 09.30, Prabu memutar kunci mobil. Mesin menyala dengan geraman pelan. Ia masuk Tol Jakarta–Cikampek, menembus riuhnya perjalanan pagi hari. Awan putih bergulung seperti kapas raksasa di atas kepala, menyembunyikan keresahan di hatinya.
Di Cawang, Hidayat sudah menunggu dengan tas di pundak. Ia masuk mobil, menepuk bahu lelaki yang separuh tubuhnya sudah letih oleh perjalanan hidup sendiri itu.
“Kamu yakin?” tanya Hidayat.
Prabu tersenyum tipis.

Aristoteles pernah berkata bahwa keberanian adalah pintu awal semua kebajikan karena membuat kebajikan lainnya mungkin. “Niatku menikah untuk menyempurnakan agama, bukan menanggalkan akal,” jawab Prabu.
Mobil melaju ke Tol Jagorawi. Lalu lintas padat. Laju mereka mendaki menuju Puncak, meninggalkan panas kota bersama keraguan yang masih mencoba menempel di pundak.
Tepat pukul 11 mereka sampai.
Sebuah vila luas nan teduh. Halamannya dipagari pohon yang bergoyang diterpa angin pegunungan. Puncak terasa seperti dunia lain. Lebih hijau, lebih sunyi, lebih dekat dengan langit.
Di teras, Caca berdiri bersama Ima dan seorang lelaki kurus berpeci. Ima menyambut dengan senyum secukupnya, tanpa basa-basi yang hangat. Tapi Caca terlihat berbeda hari ini.
Ia mengenakan gamis dan jilbab hitam, sederhana namun memikat. Parasnya bercahaya seolah ruangan itu adalah panggung dan ia pemeran utama dari drama langit. Senyumnya lebih manis dari hari-hari sebelumnya, bukan karena riasan, melainkan karena harapan.
Prabu menatapnya lama. Bukan hanya karena ia cantik, tapi karena ia menjadi impian yang kini nyaris menjadi takdir. Detak jantungnya mempercepat ritme. Ilmu psikologi menyebutnya anticipatory anxiety, percampuran antara takut dan bahagia.
Caca menunduk pelan, suaranya lirih, “Bang…”
Prabu menjawab dengan tatapan yang mencoba tegar. Dalam batinnya, ia mengingat pesan Ibnu Qudamah: poligami boleh jika membawa maslahat dan tidak menimbulkan kezaliman.
Namun di balik semua dalil itu, ada nama yang belum ia sebut pada siapa pun hari ini: Wina. Istri pertama. Sumber cinta dan luka yang bersamaan. Yang bahkan tak tahu bahwa suaminya kini berdiri di Puncak, siap mengucapkan akad yang bisa meruntuhkan kedamaian rumah mereka.
Angin dingin menyapu wajah Prabu. Seolah alam pun bertanya, “Apakah engkau benar-benar siap menjadi adil?”
Prabu menarik napas panjang, lalu menuju ke mobilnya mengambil kemeja putih dan jas hitam. Ia mengenakan baju itu tanpa melepas kaos oblong yang dipakainya. Ia tampak lebih wibawa. Prabu mencoba menjadikan acara ini sakral. Tidak sembarangan. Kendati ia sadar bahwa ia bukan pengantin dengan songket atau beskap, bukan pula lelaki muda yang gagah berpose di pelaminan megah. Namun di matanya, pakaian itu cukup untuk menjadi suami.
Melihat Prabu sudah rapi, lelaki berpeci itu berkata, “Mari kita bersiap untuk akad.” Rupanya lelaki ini yang disewa Ima untuk menikahkan Prabu dan Caca.
Prabu menelan ludah. Hari ini ia bukan hanya menghadapi saksi, wali, atau penghulu, tapi juga hukum Allah dan kemungkinan menjadi zalim.
Ia melangkah pelan. Namun setiap langkahnya menggema seperti ketukan palu takdir.
***
Ruang tamu itu lumayang longgar, sofa usang dan gorden kusam yang seolah lupa pernah dicuci. Lantai belum benar-benar bersih, seperti dikerjakan tergesa.
Prabu duduk. Caca di sebelahnya. Hidayat, Ima, dan lelaki kurus berpeci duduk berhadapan. Satu saksi kurang. Ima dengan cekatan memanggil penjaga vila.
Prabu mengerjap dan membatin. “Tiga juta hanya begitu saja?”
Ia membatin getir.
Bisnis pernikahan siri ternyata sangat praktis—dan sangat menguntungkan. Tanpa dokumentasi formal, tanpa verifikasi identitas, cukup ijab dan qabul maka semua dianggap sah. Praktik yang jika tidak hati-hati bisa menjebak perempuan dalam kerentanan hukum yang panjang.
Ia teringat pendapat Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah: “Tujuan nikah adalah menjaga kehormatan dan memastikan hak-hak perempuan.”
Jika hak itu tak dijaga, apa makna akad yang sebentar lagi ia ucapkan? Namun ia tahu—dalam Hukum Islam—akad tidak membutuhkan izin istri pertama. Walau mayoritas ulama menganjurkan syura (musyawarah) demi menjaga harmoni rumah tangga. Tetapi fakta kerasnya adalah: Wina bahkan belum tahu apa-apa.
Dan diam-diam, hati Prabu terasa diremas.
Setelah saksi lengkap, lelaki kurus berpeci itu berdeham dan memulai akad. Tak ada catatan sipil, tak ada KUA, tak ada kitab tebal. Hanya ucapan yang akan mengguncang alam semesta kecil mereka.
Hidayat yang seharusnya mendokumentasikan, kini harus menjadi saksi kedua. Tak ada kamera yang merekam momen paling menentukan dalam hidup Prabu. Padahal menurut teori cognitive dissonance (Leon Festinger), dokumentasi visual membantu otak manusia meneguhkan keputusan agar tidak disesali di kemudian hari. Menghilangkannya berarti membuka celah penyesalan.
Tapi akad tetap berjalan. Dengan satu tarikan napas panjang… dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas… ijab dan kabul pun terucap. Doa pendek dibacakan seadanya. Tanpa salam hangat, tanpa pelukan keluarga, tanpa tetesan air mata bahagia. Dan tiba-tiba semua orang berdiri. Selesai.


