Azan zuhur menggema dari musala desa, suaranya memantul di lembah. Ima, penghulu, dan Hidayat pamit terburu-buru, seolah akad adalah sekadar transaksi bisnis yang dapat ditinggalkan setelah uang berpindah tangan. Prabu memandangi punggung mereka menjauh…
Kini tinggal ia dan Caca. Di vila yang acak-acakan. Di tengah sunyi yang terasa janggal. Hari pengantin yang ia bayangkan penuh bunga dan ucapan selamat, berubah menjadi ruang dingin yang terlalu cepat sepi.
Ia menatap Caca.
Perempuan itu tersenyum malu-malu, namun ada gugup yang tak bisa ia sembunyikan.

Dua orang asing, yang baru saja halal, tapi belum tahu bagaimana harus memulai kehidupan.
Prabu menatap kamar vila yang buram, seperti hatinya yang dipenuhi kekusutan. Udara Cisarua yang dingin tak sanggup menyejukkan kegelisahan yang membakar dadanya.
Tubuhnya remuk oleh perjalanan panjang Bekasi–Ngawi–Bekasi–Puncak dalam kurun waktu yang begitu dekat. Punggung terasa seperti digilas roda takdir yang berputar terlalu cepat. Tetapi rasa lelah fisik itu tidak seberapa dibanding hantaman batin yang kini menyerang tanpa ampun.
Ia memejamkan mata. Napas ditarik panjang. Namun di balik kepalan dada itu, suara-suara kecil mulai bergema seperti bisikan iblis yang menikam: “Bagaimana jika Wina menangis?”
Air mata istri pertama—itu yang paling ia takutkan. Bukan murka, bukan caci—tapi luka.
“Bagaimana jika anak-anak menjauh?”
Selama ini ia menjadi panutan. Akankah mereka melihatnya berubah menjadi seorang pengkhianat?
“Bagaimana jika aku tidak sanggup adil?”
Ayat itu terngiang jelas: “Maka janganlah kamu condong seluruhnya kepada yang satu…” (Q.S. An-Nisa: 129)
Allah sendiri menegur: adil itu nyaris mustahil.
Prabu mengusap wajah. Peluh dingin mengalir meski udara menusuk kulit. Menurut teori stres Lazarus & Folkman, stres paling berbahaya bukan berasal dari ancaman nyata, melainkan dari beban moral yang bergulat dalam pikiran tanpa kejelasan penyelesaian.
Dan kini, Prabu berada tepat dalam pusaran itu. Ia bisa membohongi dunia bahwa ia siap. Ia bisa tersenyum di hadapan Caca. Tetapi ia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa ia baru saja membelah hatinya, dan belum tahu cara menyatukannya kembali.
Ada rasa bersalah yang mencengkeram seperti tangan raksasa. Ia teringat wajah Wina—tulus, lelah, setia. Wina yang menemaninya puluhan tahun tanpa pernah meminta lebih dari sekadar kehadirannya. Kini ia memberikan kehadiran itu kepada perempuan lain.
Hatinya memberontak: Apakah ini keberanian… atau dosa yang sama-sama berbalut syariat?
Prabu mencoba duduk tegap. Ia harus tampak sebagai laki-laki yang memimpin. Namun jiwanya membungkuk oleh beban keputusan.
Di luar sana, kabut semakin tebal. Seolah gunung ingin menyembunyikan pengantin baru itu dari mata malaikat yang mungkin sedang mencatat dengan rasa iba. Dan di tengah kesunyian itu, Prabu sadar satu hal penting: Ia tidak sedang merasakan bahagia, ia sedang menanggung konsekuensi. Akad sudah selesai. Halal sudah terucap. Tapi kedamaian belum datang. (bersambung ke Bagian – 6)


