Cerbung Miftah H Yusufpati

Menelisik Relung Takdir dalam “Madu Pahit Nenden”

SASTRA bukanlah sekadar barisan kata yang berkelindan indah di atas kertas. Ia adalah cermin dari realitas sosiologis yang sering kali lebih tajam, lebih jujur, dan lebih menusuk daripada sekadar fakta-fakta berita. Melalui cerita bersambung berjudul "Madu Pahit Nenden", hadir...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 19: Akad

Oleh Miftah.H Yusufpati PERSIAPAN akad nikah berlangsung dalam suasana yang tenang namun sarat makna, seperti udara pagi di Cipayung yang lembap dan mengandung isyarat perubahan. Di tengah kesibukan kecil mencari lokasi, menentukan saksi, dan memikirkan detail administratif, Prabu menyimpan satu...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 18: Menghitung Hari

Oleh Miftah H.Yusufpati DI sebuah sudut Tebet yang selalu ramai menjelang malam—tempat kafe-kafe tumbuh seperti jamur setelah hujan dan lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke kaca-kaca gedung yang renggang—Hidayat duduk dengan wajah murung di meja luar sebuah kedai kopi yang sejak...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 17: Pertemuan

Oleh Miftah H. Yusufpati PRABU menatap jendela rumahnya di Perwira, daerah yang malam harinya sering dibalut campuran aroma laut tipis dari arah Marunda dan bau tanah panas yang baru turun suhu setelah siang yang menyengat. Lampu-lampu jalan menyoroti gang-gang sempit,...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 16: Sebuah Nama

Oleh Miftah H. YusufpatiWINA menghabiskan sarapannya perlahan. Pikirannya bergerak ratusan kali lebih cepat daripada gerak sendoknya. Ada denyut halus di dadanya, semacam gelombang panas dingin yang datang berselang-seling. Ia bukan perempuan yang buta akan tanda-tanda; usia pernikahan 35 tahun...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 15: Pelukan

Oleh Miftah H. Yusufpati MALAM di Tebet telah memadat menjadi hitam kebiruan ketika jarum jam menunjuk angka 22.00. Kantor perlahan sunyi, hanya menyisakan denging pendingin ruangan dan aroma kertas hangat dari printer yang baru saja berhenti bekerja. Prabu, dengan gerak tenang...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 14: Dua Hati

Oleh Miftah H. Yusufpati KABUT mulai turun lebih tebal ketika Indriani menatap layar ponselnya. Nama Prabu berpendar lembut, seolah memanggil keberanian yang sejak tadi ia kumpulkan. Pesan itu singkat: “Dik… boleh bicara sebentar? Suaranya saja. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja.” Tidak...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 13: Peringatan Bertubi-tubi

Oleh Miftah H. Yusufpati KABUT sore merambat turun dari punggung Gunung Salak, menyusup ke celah-celah pohon damar di sekitar Ciheuleut. Hidayat duduk di atas motor bebek kesayangannya, memandang jalan yang basah setelah hujan rintik. Ada sisa tenaga yang masih ingin...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 12: Dik

Oleh Miftah H. Yusufpati HARI- hari Prabu dan Indriani perlahan berubah menjadi rangkaian waktu yang manis, seperti riak air di sungai kecil Megamendung yang memantulkan sinar matahari pagi. Tanpa disadari, tiap jeda hari mereka mulai diisi obrolan WhatsApp, panggilan telepon,...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 11: Kemeja

Oleh Miftah H. Yusufpati SABTU pagi itu, Bekasi Timur diselimuti kabut tipis yang jarang muncul pada bulan-bulan seperti ini. Pohon-pohon di depan rumah Prabu bergoyang perlahan, ditiup angin yang datang entah dari mana. Udara subuh terasa bersih, seolah malam telah...

Latest News

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...