Madu Pahit Nenden

Madu Pahit Nenden — Bagian 9: Semalam Saja

Oleh Miftah H. Yusufpati PERTEMUAN Nenden dengan Sandi perlahan menjelma rutinitas. Dua kali sepekan, kadang lebih. Polanya rapi, nyaris mekanis, menyerupai jadwal sidang yang selalu tepat waktu dan jarang meleset. Sandi hadir dengan konsistensi yang menenangkan: dermawan tanpa banyak tanya,...

Madu Pahit Nenden — Bagian: Tali Tak Terlihat

Oleh Miftah H. Yusufpati KEESOKAN paginya, sinar matahari menembus tirai jendela rumah Nenden, jatuh miring di lantai yang kusam. Debu-debu halus menari di udara, berkilau sekejap lalu lenyap—seperti pikiran-pikiran yang datang silih berganti, namun tak pernah benar-benar menetap di kepalanya. Rumah...

Madu Pahit Nenden — Bagian 7: Kabut Batin

Oleh Miftah H. Yusufpati PAGI datang tanpa upacara. Matahari naik perlahan di balik perbukitan Megamendung, menembus kabut yang semalam turun rapat. Cahaya jatuh lembut ke atap-atap seng, ke daun pisang yang masih basah, ke tanah merah yang menyimpan dingin. Dari...

Madu Pahit Nenden — Bagian 6: Rasa yang Asing

Oleh Miftah H. Yusufpati BELUM genap sebulan Nenden kembali menetap di Cipayung, Megamendung, ketika sesuatu yang tak pernah benar-benar tidur di wilayah itu mulai bergerak: daya cium para mak comblang. Ia bukan indra yang tercatat dalam buku biologi, tetapi bekerja...

Madu Pahit Nenden — Bagian 5: Janda-janda Puncak

Oleh Miftah H. Yusufpati PAGI itu Pondok Gede masih basah oleh embun sisa malam. Cahaya matahari menyelinap malu-malu di sela atap rumah petak, memantul pada genangan kecil di jalanan sempit. Nenden berdiri di ambang pintu, menggendong Nabila yang terlelap di...

Madu Pahit Nenden — Bagian 4: Pulang

Oleh Miftah H. Yusufpati PAGI di Tanah Abang selalu dimulai dengan deru. Asap knalpot bercampur uap kopi murah, teriakan kuli angkut beradu dengan denting sendok di gelas-gelas kafe kecil yang berjejer di gang-gang sempit. Kota belum sepenuhnya terjaga, tetapi pasar...

Madu Pahit Nenden — Bagian 3: Demi Nabila

Oleh Miftah H. Yusufpati SENJA turun perlahan di Pondok Gede, membawa sisa panas siang yang masih melekat di dinding-dinding rumah petak. Cahaya jingga mengendap di sela kabel listrik yang saling bersilang, sementara asap dapur tetangga berbaur dengan bau tanah lembap...

Madu Pahit Nenden — Bagian 2: Kebohongan Sah

Oleh Miftah H. Yusufpati RUMAH itu berdiri di lereng bukit Cipayung, Megamendung—luasnya tak lebih dari seratus meter persegi, sederhana, dan dipaksa menampung banyak takdir. Dindingnya disekat menjadi dua bagian, sebuah kompromi arsitektural yang lahir bukan dari pilihan estetik, melainkan dari...

Madu Pahit Nenden — Bagian 1: Jiwa yang Mandiri

Oleh Miftah H. Yusufpati CIPAYUNG, Megamendung, Kabupaten Bogor, adalah wilayah yang hidup di antara kabut dan cahaya. Pagi datang dengan bau tanah basah dan pinus, siang memantulkan sinar pada atap-atap vila yang berdiri rapi di lereng bukit. Vila-vila itu milik...

Dwilogi Novel Karya Miftah H. Yusufpati

MULAI besok, Jakartamu.com akan memuat serial cerita bersambung dengan judul Madu Pahit Nenden. Cerita ini merupakan novel kedua Miftah H. Yusufpati setelah novel sebelumnya Senja Temaram di Cipayung.Miftah H. Yusufpati adalah jurnalis senior yang menempuh perjalanan panjang antara keriuhan...

Latest News

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...