Oleh Miftah H. Yusufpati
PERTEMUAN Nenden dengan Sandi perlahan menjelma rutinitas. Dua kali sepekan, kadang lebih. Polanya rapi, nyaris mekanis, menyerupai jadwal sidang yang selalu tepat waktu dan jarang meleset. Sandi hadir dengan konsistensi yang menenangkan: dermawan tanpa banyak tanya,...
Oleh Miftah H. Yusufpati
KEESOKAN paginya, sinar matahari menembus tirai jendela rumah Nenden, jatuh miring di lantai yang kusam. Debu-debu halus menari di udara, berkilau sekejap lalu lenyap—seperti pikiran-pikiran yang datang silih berganti, namun tak pernah benar-benar menetap di kepalanya.
Rumah...
Oleh Miftah H. Yusufpati
PAGI datang tanpa upacara. Matahari naik perlahan di balik perbukitan Megamendung, menembus kabut yang semalam turun rapat. Cahaya jatuh lembut ke atap-atap seng, ke daun pisang yang masih basah, ke tanah merah yang menyimpan dingin. Dari...
Oleh Miftah H. Yusufpati
BELUM genap sebulan Nenden kembali menetap di Cipayung, Megamendung, ketika sesuatu yang tak pernah benar-benar tidur di wilayah itu mulai bergerak: daya cium para mak comblang. Ia bukan indra yang tercatat dalam buku biologi, tetapi bekerja...
Oleh Miftah H. Yusufpati
PAGI itu Pondok Gede masih basah oleh embun sisa malam. Cahaya matahari menyelinap malu-malu di sela atap rumah petak, memantul pada genangan kecil di jalanan sempit. Nenden berdiri di ambang pintu, menggendong Nabila yang terlelap di...
Oleh Miftah H. Yusufpati
PAGI di Tanah Abang selalu dimulai dengan deru. Asap knalpot bercampur uap kopi murah, teriakan kuli angkut beradu dengan denting sendok di gelas-gelas kafe kecil yang berjejer di gang-gang sempit. Kota belum sepenuhnya terjaga, tetapi pasar...
Oleh Miftah H. Yusufpati
SENJA turun perlahan di Pondok Gede, membawa sisa panas siang yang masih melekat di dinding-dinding rumah petak. Cahaya jingga mengendap di sela kabel listrik yang saling bersilang, sementara asap dapur tetangga berbaur dengan bau tanah lembap...
Oleh Miftah H. Yusufpati
RUMAH itu berdiri di lereng bukit Cipayung, Megamendung—luasnya tak lebih dari seratus meter persegi, sederhana, dan dipaksa menampung banyak takdir. Dindingnya disekat menjadi dua bagian, sebuah kompromi arsitektural yang lahir bukan dari pilihan estetik, melainkan dari...
Oleh Miftah H. Yusufpati
CIPAYUNG, Megamendung, Kabupaten Bogor, adalah wilayah yang hidup di antara kabut dan cahaya. Pagi datang dengan bau tanah basah dan pinus, siang memantulkan sinar pada atap-atap vila yang berdiri rapi di lereng bukit. Vila-vila itu milik...
MULAI besok, Jakartamu.com akan memuat serial cerita bersambung dengan judul Madu Pahit Nenden. Cerita ini merupakan novel kedua Miftah H. Yusufpati setelah novel sebelumnya Senja Temaram di Cipayung.Miftah H. Yusufpati adalah jurnalis senior yang menempuh perjalanan panjang antara keriuhan...
JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...