Madu Pahit Nenden — Bagian 1: Jiwa yang Mandiri

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

CIPAYUNG, Megamendung, Kabupaten Bogor, adalah wilayah yang hidup di antara kabut dan cahaya. Pagi datang dengan bau tanah basah dan pinus, siang memantulkan sinar pada atap-atap vila yang berdiri rapi di lereng bukit. Vila-vila itu milik perusahaan besar dan orang-orang kota. Hadir sebagai lanskap tetap, tak banyak bersentuhan dengan kehidupan penduduk sekitar.

Di salah satu lereng itulah Nenden tinggal.

Rumahnya kecil, dinding batanya mulai kehilangan warna, tetapi bersih dan terjaga. Dari beranda sempit itu, ia bisa melihat vila-vila besar di seberang bukit. Ia tak iri. Hanya memahami, sejak lama, bahwa hidup memiliki kontur seperti tanah yang ia pijak: ada yang dilahirkan di puncak, ada yang bertahan di lereng, dan ada yang jatuh ke lembah tanpa pernah memilih.

Milad 117 H Muhammadiyah

Nenden telah lama akrab dengan pahit. Wajahnya tenang, kecantikannya tidak memanggil perhatian. Kulitnya cerah, bukan karena kemewahan, melainkan karena kehidupan yang dijalani dengan disiplin dan kesederhanaan. Garis wajahnya lembut, seolah enggan bersitegang dengan dunia. Ia lebih sering mengalah, bukan karena lemah, melainkan karena telah belajar bahwa pertarungan tidak selalu melahirkan kemenangan.

Matanya gelap dan jernih. Tatapannya tidak menantang, tidak pula kosong. Ada jarak yang terjaga—jarak perempuan yang telah dua kali percaya, dan dua kali belajar bahwa cinta bisa berubah bentuk. Jika seseorang cukup lama menatapnya, ia akan melihat kehati-hatian yang tak berisik, pengalaman yang tidak minta dikisahkan.

Ia jarang tersenyum penuh. Senyumnya singkat, tertahan, seperti orang yang telah memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu perlu dibuktikan. Rambut hitam panjangnya dibiarkan sederhana. Hidupnya pun demikian: tidak dikejar rupa, tidak ditambahi hiasan yang tak perlu.

Nenden adalah janda. Dua kali menikah, dua kali pula ia hidup dalam bayang-bayang perempuan lain. Dari pernikahan pertamanya lahir Nabila, anak perempuan yang mulai menyadari bahwa dunia orang dewasa tidak selalu lurus. Dari pernikahan keduanya lahir Ahza, bocah yang belum tahu betapa ibunya kerap menelan kekecewaan tanpa suara.

Ia bukan perempuan bodoh. Ia hanya terlalu lama percaya bahwa kesungguhan bisa mengubah keadaan.

Sebagai pedagang kecil, Nenden memahami ketimpangan. Ia tahu, dalam jual beli maupun dalam relasi, selalu ada pihak yang lebih menentukan. Pengalaman itu membuatnya peka—bahwa poligami bukan sekadar persoalan agama atau nafkah, melainkan juga persoalan posisi. Ia pernah membaca nasihat Al-Ghazali bahwa poligami bukan jalan bagi orang yang takut berbuat zalim. Tetapi nasihat sering kali kalah oleh kebutuhan dan rasa aman yang dijanjikan.

Kini ia menunggu pernikahan ketiganya. Lelaki itu bernama Haekal.

Haekal melihat Nenden pertama kali tanpa rencana apa pun. Yang menarik perhatiannya bukan kecantikan, melainkan ketenangan yang tak dibuat-buat. Tatapan Nenden tidak memohon dan tidak menuntut. Ia hadir apa adanya. Haekal, yang telah lama hidup di antara tanggung jawab dan keteraturan, mengenali satu hal: mata itu menyimpan sejarah.

Ia teringat kalimat Tolstoy tentang kejujuran jiwa. Dan pada saat yang sama, ia merasa gentar. Sebab wajah yang ia lihat bukan wajah perempuan yang ingin diselamatkan, melainkan perempuan yang menuntut penghormatan.

Sebagai lelaki yang telah berkeluarga, Haekal paham bahwa poligami bukan sekadar urusan izin dan kemampuan. Ia adalah wilayah keadilan yang rapuh—terutama keadilan batin, seperti yang dikatakan Ibnu Asyur. Ia belum jatuh cinta. Tetapi ia sadar, melangkah berarti ikut memikul beban sejarah hidup seseorang.

Pernikahan itu dijadwalkan pertengahan Desember. Namun beberapa hari sebelum tanggal itu, tubuh Nenden mulai memberi tanda—perlahan, nyaris sopan, seperti peringatan yang datang tanpa suara.

Semua bermula dari satu pelanggaran kecil. Es krim durian. Manis, dingin, dan sesaat terasa menghibur di tengah tawa keluarga. Nenden tahu risikonya. Ia mengenal tubuhnya sebagaimana orang mengenal medan yang sering ia lewati. Namun malam itu, kewaspadaan dikalahkan oleh keinginan untuk merasa biasa saja—seperti orang lain.

Beberapa jam kemudian, rasa itu datang.

Awalnya hanya perih samar di ulu hati, seperti bara kecil yang dibiarkan menyala. Ia mencoba mengabaikannya, menarik napas panjang, duduk lebih tegak. Tetapi tubuh punya cara sendiri untuk menuntut perhatian. Rasa perih itu berubah menjadi lilitan, menjalar perlahan ke dada, membuat napasnya pendek dan tidak utuh. Setiap tarikan udara terasa seperti upaya yang gagal sempurna.

Nenden berbaring. Ia menekuk tubuhnya, berharap posisi bisa menipu rasa sakit. Namun nyeri itu tak peduli pada upaya manusia. Ia menetap, mengeras, seolah lambungnya menjadi ruang sempit yang dipenuhi asam dan amarah lama. Ada mual yang naik, tertahan di tenggorokan, tak keluar, tak surut—hanya menggantung, menyiksa.

Diagnosisnya tak mengejutkan: gastritis kronis. Penyakit lama yang kembali menagih. Obat diberikan, penjelasan disampaikan. Asam lambung ditekan, nyeri diredam. Secara teori, semuanya benar.

Namun tubuh Nenden tidak hidup di dalam teori.

Sakit itu tidak pergi. Ia tinggal, berlama-lama, seperti tamu yang tak tahu diri. Setiap kali ia mencoba berdiri, dunia terasa miring. Kepalanya ringan, perutnya berat. Rasa lapar datang bersamaan dengan rasa takut makan. Setiap suapan adalah pertaruhan, setiap tegukan air terasa seperti keputusan besar.

Malam-malamnya menjadi panjang. Ia terjaga ketika seharusnya tidur, menahan nyeri yang datang bergelombang. Dalam gelap, ia mendengar detak jam dan napasnya sendiri—pendek, terputus-putus. Tubuhnya terasa asing, seperti rumah yang tiba-tiba tak ramah bagi penghuninya.

Lebih dari rasa sakit itu sendiri, yang melelahkan adalah ketidakpastian. Kapan reda. Apakah membaik. Apakah ia cukup kuat. Dalam ilmu kedokteran, stres memperparah gastritis. Dan Nenden tahu, di dalam tubuhnya, rasa cemas telah lama berdiam—tentang masa depan, tentang pernikahan, tentang harapan yang kembali ia pertaruhkan.

Ia merasa bersalah pada tubuhnya sendiri. Seolah tubuh itu menegurnya dengan cara yang keras: bahwa ia terlalu sering memaksa, terlalu lama menahan, terlalu jarang mendengarkan.

Di sela-sela nyeri, ia teringat anak-anaknya. Napas mereka yang teratur di kamar sebelah. Ia ingin bangun, ingin memastikan segalanya baik-baik saja. Tetapi tubuhnya menolak. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar harus diam—dipaksa berhenti oleh rasa sakit yang tak bisa dinegosiasikan.

Sakit itu bertahan.

Bukan hanya sebagai gejala fisik, tetapi sebagai pengingat: bahwa menjelang keputusan besar, tubuh sering kali lebih jujur daripada kata-kata.

Dan di antara perih lambung dan tanggal pernikahan yang kian dekat, Nenden terbaring—menimbang bukan hanya kesembuhan, tetapi juga keberanian.

Di Bekasi Utara, Haekal gelisah. Ia memahami hubungan antara kecemasan dan sakit fisik, tetapi pemahaman tak selalu sanggup menenangkan. Nenden mengirim pesan singkat, meminta maaf, menyalahkan diri sendiri.

Malam itu, ia pulang dan berbaring di kamar. Kabut turun lebih tebal. Ia mendengar napas anak-anaknya, dan dalam diam bertanya: apakah pernikahan ini akan kembali menjadi madu yang pahit, atau justru ujian terakhir sebelum ketenangan?

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This