Siang itu, rumah kecil di lereng Cipayung, Megamendung, terasa seperti perahu yang terombang-ambing di laut tenang yang tiba-tiba berarus deras. Udara pegunungan yang biasanya menenangkan justru terasa berat. Angin membawa aroma tanah basah dan daun pinus, tetapi di dalam rumah, yang terasa hanyalah kecemasan.
Nenden terbaring lemah. Mamanya tidak ada di rumah—entah ke mana, entah untuk apa. Nabila dan Ahza masih di sekolah, tak tahu bahwa ibunya sedang bergulat dengan tubuh dan keadaan. Di sampingnya, kakak perempuannya yang tuna rungu duduk setia, Isma, hadir tanpa suara, mencintai tanpa kata.
Perut Nenden melilit hebat. Ia paham betul, sebagai orang yang lama hidup dengan gastritis kronis, bahwa stres adalah pemicu paling kejam. Dalam ilmu kedokteran, peningkatan hormon kortisol akibat tekanan psikologis dapat memperparah produksi asam lambung. Tubuh, seperti yang dikatakan George Engel dalam model biopsikososial, tidak pernah sakit sendirian; ia selalu membawa serta jiwa dan lingkungan.
Yang paling membuat Nenden panik bukanlah sakitnya, melainkan waktu. Anak-anak akan segera pulang. Rumah ini harus tetap hidup.

Dengan sisa tenaga, ia mengirim pesan kepada Teh Eneng, karyawan tokonya yang hari itu meminta izin libur karena anaknya sakit.
“Teh, tolong ke sini. Bantu memasak untuk anak-anak. Saya sedang sakit.”
Tak lama, balasan datang. Anak Teh Eneng sudah bisa ditinggal sebentar. Namun ada satu syarat kecil yang terasa besar:
“Beras habis, Bu. Bisa dikirim dua ratus ribu dulu? Gajian kan belum.”
Nenden membuka aplikasi bank. Angka di layar membuat dadanya sesak. Saldo kering. Seakan belum cukup, pesan lain masuk—dari sepupunya—menagih utang empat ratus ribu yang telah jatuh tempo.
Kepalanya pening. Perutnya semakin mulas. Ini mirip dengan kalimat Blaise Pascal: “Hati punya logikanya sendiri, yang tak selalu dipahami oleh akal.” Hari itu, logika runtuh oleh kenyataan.
Tak ada penolong lain kecuali Haekal.
Dengan rasa malu yang bercampur putus asa, Nenden mengirim pesan. Ia tahu Haekal sedang makan bersama istri dan anak-cucunya di tempat nan jauh di sana, Bekasi.
“Mas, tolong adik.”
Balasan datang cepat.
“Ada apa, sayang?”
Nenden menahan tangis.
“Mas, adik perlu bantuan Teh Eneng. Dia butuh dua ratus ribu. Utang adik ke sepupu jatuh tempo empat ratus ribu. Tolong ya, Mas…”
Di Bekasi Utara, Haekal terdiam. Ia menatap layar ponselnya, lalu wajah-wajah keluarganya yang tengah tertawa. Ia tahu betul, ujian moral sering datang justru di saat hati terbelah. Rekeningnya sendiri tak sedang baik-baik saja.
Namun ia teringat prinsip para ulama—sebagaimana ditegaskan Syekh Yusuf al-Qaradawi—bahwa tanggung jawab dalam poligami bukan sekadar akad dan nafkah rutin, melainkan kesiapan hadir dalam keadaan darurat, ketika martabat seorang perempuan sedang diuji.
Haekal menghubungi seorang koleganya. Beberapa menit kemudian, satu juta rupiah masuk ke rekeningnya. Tanpa menunda, ia mentransfer enam ratus ribu ke rekening Nenden.
Di Cipayung, ponsel Nenden bergetar. Ia menatap layar itu lama. Air mata menetes pelan.
“Terima kasih, Mas… terima kasih…”
Tak lama kemudian, Teh Eneng datang dan langsung menuju dapur. Namun kebahagiaan kecil itu tak bertahan lama. Saat membuka rice box, wajah Teh Eneng berubah.
“Bu… beras habis,” katanya pelan.
Nenden seperti disambar petir. Kepalanya pening, perutnya semakin melilit. Teh Eneng berusaha sigap, beralih ke kompor untuk merebus sayur. Namun tak lama kemudian ia kembali.
“Bu… gas habis.”
Nenden tak sanggup bicara. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia merasa kecil, rapuh, dan nyaris tak punya tempat berpijak. Dalam psikologi eksistensial, inilah titik ultimate anxiety—saat manusia menyadari keterbatasannya secara total.
Ia menatap ponselnya. Di layar, status WhatsApp Haekal muncul: foto keluarga, senyum, meja makan rapi. Dunia yang berbeda. Kontras yang menyakitkan.
Ia ragu, malu, tetapi kebutuhan mengalahkan gengsi.
“Mas… bisa ditambahi untuk beli gas dan beras?”
Di Bekasi, Haekal kembali terpaku. Dadanya terasa berat. Ia tahu, inilah wilayah yang sering diabaikan dalam diskursus poligami: ketimpangan situasi emosional dan ekonomi yang muncul tiba-tiba, di luar perhitungan rasional.
Tanpa banyak kata, Haekal membuka aplikasi mobile banking. Ia mentransfer empat ratus ribu ke rekening Nenden.
Di rumah kecil Megamendung itu, Nenden menutup mata. Ia bersyukur, tetapi juga gentar. Ibnu Asyur bicara tentang maqashid syariah menatakan bahwa tujuan hukum Islam adalah menjaga jiwa, harta, dan martabat manusia. Hari itu, jiwa Nenden terselamatkan. Hartanya tertolong. Namun martabatnya—itulah yang terasa paling rapuh.
Dua hari menuju gerbang akad, namun Megamendung seolah sedang mengirimkan ujian terakhirnya. Nenden terbaring di kamarnya yang lembap oleh sisa hujan sore tadi. Tubuhnya yang biasanya tegar—yang sanggup memikul gulungan kain di Tanah Abang dan menghadapi ancaman Andrinov—kini lunglai. Penyakit asam lambungnya meradang hebat, sebuah manifestasi fisik dari apa yang disebut dalam psikosomatik sebagai Gastritis Emosional.
Tekanan batin yang menumpuk—mulai dari restu Iis yang menggantung, bayang-bayang utang, hingga kecemasan akan perannya sebagai istri kedua—telah memicu sistem saraf otonomnya bekerja melampaui batas. Ia sadar, madu itu memang ada. Haekal adalah madu itu. Namun, pahitnya datang berlapis-lapis, menguji bukan hanya raga, tetapi juga keyakinan, cinta, dan makna keadilan yang selama ini hanya ia baca dari teks-teks klasik.
Di dapur, api kompor tetap menyala. Teh Eneng sedang merebus air, suaranya denting panci yang beradu menjadi musik latar bagi kesunyian kamar Nenden. Di kamar itu, Nenden menatap langit-langit, merasakan perih yang melilit lambungnya seolah-olah seluruh pahitnya dunia sedang berkumpul di sana.
Tepatlan kiranya apa yang yang dikatakan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: “Cobaan itu datang untuk membersihkan, bukan untuk menghancurkan.” Namun, pada titik ini, Nenden merasa batas antara pembersihan dan penghancuran itu begitu tipis, setipis kulit ari.
Dalam filsafat eksistensial, Nenden sedang menjalani apa yang disebut Jean-Paul Sartre sebagai “kebebasan yang memuakkan”. Beban untuk memilih nasibnya sendiri di tengah ketidakpastian. Akankah pernikahan ini diundur? Pikiran itu melintas laksana kilat. Jika diundur, ia khawatir keberanian yang sudah ia kumpulkan akan menguap. Jika dipaksakan, ia takut raganya akan menyerah sebelum kalimat qabul terucap.
Di antara nyala api di dapur dan perih lambung yang menyiksa, sejarah kecil seorang perempuan sedang ditulis—tanpa sorak-sorai, tanpa saksi, selain Tuhan dan malaikat yang mencatat ketabahan. Ini adalah narasi tentang seorang janda yang mencoba menjemput kesucian di tengah stigma; tentang seorang ibu yang ingin memberikan figur “ayah” bagi Ahza, meski ia harus berbagi separuh hati.
Nenden memejamkan mata. Bayangan Haekal muncul. Lelaki Jawa yang sabar itu telah berjanji: “Mas akan menuntunmu, Dik. Kita cari jalan yang lurus bersama.” Janji itu adalah Anchor (jangkar) yang membuatnya tidak hanyut dalam lautan keputusasaan.
Falsafah Sunda kembali terngiang di benaknya: “Ulah munafik ku diri sorangan, kudu jujur kana hate.” (Jangan munafik pada diri sendiri, harus jujur pada kata hati). Hatinya menginginkan Haekal. Hatinya menginginkan penyelesaian.
Satu hari lagi. Kesehatan Nenden masih di ambang ketidakpastian. Namun, kekuatan mental sering kali mampu melakukan bypass terhadap kelemahan fisik melalui mekanisme Will to Meaning—keinginan untuk menemukan makna hidup, seba-gaimana teori Viktor Frankl. (Bersambung ke Bagian 2)


