Madu Pahit Nenden — Bagian 1: Jiwa yang Mandiri

Must Read

Malam turun perlahan di Cipayung, Megamendung. Kabut merayap dari lembah, menyelimuti lereng bukit seperti kain kafan tipis yang dingin dan lembap. Lampu-lampu vila milik Pertamina dan Jakarta Lloyd menyala satu per satu. Kuning keemasan, jauh dari jangkauan tangan Nenden, namun selalu dekat dengan pandangan matanya.

Nenden terbaring meringkuk di ranjangnya. Perutnya masih terasa perih, seakan ada tangan tak kasatmata yang meremas dari dalam. Obat dari klinik tak banyak membantu. Dalam dunia medis, kondisi ini bisa dijelaskan: stres psikologis memperburuk gastritis. Ilmu kedokteran menyebutnya sebagai brain–gut axis—hubungan dua arah antara pikiran dan sistem pencernaan. Namun Nenden tidak sedang memikirkan istilah ilmiah. Ia sedang bertanya pada takdir.

Mengapa hubungannya dengan Haekal terasa begitu sarat ujian?

Empat tahun menjanda bukan waktu yang singkat. Ia telah melewati fase paling sunyi dalam hidupnya: membangun kembali harga diri, menghidupi Nabila dan Ahza, serta berdamai dengan statusnya sebagai perempuan yang dua kali dimadu. Dalam masa itu, ia belajar bahwa kesendirian pun bisa menjadi guru.

Milad 117 H Muhammadiyah

Lalu datang Haekal.

Pria enam puluh tahun dengan suara tenang, tutur kata tertata, dan pemahaman agama yang dalam. Di mata Nenden, Haekal adalah perwujudan lelaki ideal, bukan karena kemapanannya semata, melainkan karena cara berpikirnya. Ia sering mengutip Einstein, Ibn Rusyd, atau Viktor Frankl, seolah hidup ini selalu layak direnungkan, bukan sekadar dijalani.

Namun sejak hubungan itu dimulai, sesuatu terasa bergeser.

Toko kecil Nenden yang dulu ramai mendadak sepi. Pasar daring juga jarang menghadirkan transaksi. Barang dagangannya lebih lama menumpuk di rak. Dalam teori ekonomi mikro, ia paham: permintaan bisa turun karena banyak faktor—daya beli, musim, atau persaingan. Tetapi perubahan ini terasa terlalu tiba-tiba.

Akibatnya, cicilan ke bank mulai tersendat. Ia gagal bayar. Lebih ganjil lagi, orang-orang yang berutang kepadanya—tetangga, pelanggan lama—mulai ingkar janji. Janji-janji yang dulu terasa mudah kini seperti kabut Megamendung: tampak, tetapi tak bisa digenggam.

Nenden menarik napas panjang. Apakah ini hanya kebetulan yang beruntun, atau rangkaian sebab-akibat yang belum ia pahami?

Dalam psikologi, ada istilah apophenia—kecenderungan manusia melihat pola dan makna pada kejadian acak. Namun Nenden bukan perempuan yang mudah larut dalam dugaan kosong. Ia terbiasa berpikir jernih. Meski demikian, tubuhnya mulai mengajukan argumen lain.

Selain mag yang kambuh, tubuhnya memberi sinyal baru.

Menstruasinya tak beraturan. Bulan lalu, ia mengalami haid hampir dua minggu. Darah mengalir deras—banjir. Dalam ilmu ginekologi, kondisi ini bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, stres kronis, atau gangguan pada rahim. Semua itu mungkin. Sangat mungkin.

Namun rasa aneh itu tetap tinggal. Perutnya sering bermasalah. Bukan hanya nyeri lambung, tetapi juga rasa penuh, kram, dan kelelahan yang tak biasa. Tubuh perempuan, seperti kata Simone de Beauvoir, “bukanlah objek biologis semata, melainkan medan pengalaman.”

Di balik rasa sakit itu, Nenden mulai bertanya: apakah alam sedang memberi tanda?

Dalam Islam, alam bukan entitas bisu. Ia tunduk pada hukum Allah, sebagaimana manusia. Namun ulama besar seperti Ibn Taimiyah mengingatkan bahwa tidak semua musibah adalah pertanda penolakan Tuhan. Banyak yang justru ujian untuk menaikkan derajat.

Namun Nenden tetap gamang.

Ia teringat dua pernikahannya yang lalu. Keduanya dimulai dengan harapan, dan berakhir dengan luka karena poligami yang tak adil. Ia tahu, poligami bukan dosa dalam Islam. Al-Qur’an membolehkannya, tetapi dengan syarat yang berat: keadilan.

Muhammad Abduh mengatakan bahwa keadilan dalam poligami nyaris mustahil dicapai oleh kebanyakan manusia. Bahkan Al-Qur’an sendiri berkata, “Kamu tidak akan mampu berlaku adil di antara istri-istri, walaupun kamu sangat ingin.”

Lalu mengapa ia kembali berada di ambang yang sama?

Haekal adalah lelaki berilmu. Ia memahami rukhshah poligami sebagaimana dijelaskan para ulama dunia. Namun pengetahuan, sebagaimana kata Hannah Arendt, “tidak selalu menjamin kebijaksanaan.”

Nenden memejamkan mata.

Apakah hubungan ini tidak mendapat restu alam? Ataukah alam hanya memantulkan kegelisahan batinnya sendiri?

Dalam sains modern, tubuh sering disebut sebagai early warning system, alarm dini ketika jiwa menolak sesuatu yang belum sepenuhnya disadari akal. Namun agama mengajarkan kehati-hatian agar manusia tidak terjebak pada prasangka.

Di antara nyeri lambung, darah yang tak teratur, bisnis yang merosot, dan pernikahan yang kian dekat, Nenden berada di persimpangan sunyi.

Ia teringat ucapan Jalaluddin Rumi: “Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.”

Mungkin sakit ini bukan penolakan, melainkan panggilan untuk memahami lebih dalam—tentang cinta, tentang diri, dan tentang batas manusia dalam menafsirkan takdir.

Kabut makin tebal di luar jendela. Dan Nenden tahu, sebelum Senin, 15 Desember, tiba, ia harus menjawab satu pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah ia sedang melawan arus kehidupan, atau justru sedang diuji agar lebih dewasa menerimanya?

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This