Hari Sabtu turun dengan cuaca cerah di Bekasi Utara. Matahari menggantung ramah—tidak terlalu terik—seolah memberi izin bagi keluarga Haekal untuk berkumpul tanpa tergesa. Di sebuah Resto Cibiuk, aroma nasi hangat, sambal terasi, dan lalapan segar menyatu dengan tawa anak-anak serta celoteh cucu-cucu yang berlarian di antara kursi.
Haekal duduk di tengah mereka—istri, anak-anak, dan enam cucu yang menjadi perpanjangan usianya. Secara lahiriah, ia hadir sepenuhnya. Tangannya menyuap nasi, bibirnya tersenyum menanggapi cerita. Namun batinnya melayang jauh.
Pikirannya berada di Megamendung.
Di lereng bukit yang dingin dan berkabut itu, Nenden sedang terbaring menahan perih. Haekal tahu. Ia ingin menjenguk. Ia ingin memastikan perempuan itu tidak sendirian menghadapi sakit dan kecemasan menjelang hari pernikahan. Namun keinginan itu terhalang oleh satu permintaan yang tidak ringan.

Nenden menghendaki pernikahan rahasia. Ia tidak mengizinkan Haekal datang ke rumahnya, sebab kehadiran lelaki itu akan memantik banyak pertanyaan dari mamanya.
Ia tidak ingin mamanya tahu bahwa ia akan menikah lagi—lebih-lebih dengan lelaki yang telah beristri. Bagi Nenden, ini bukan sekadar soal malu, melainkan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh dalam keluarganya.
Haekal memahami itu. Dalam etika Islam, menutup aib adalah kebajikan. Namun ia juga paham, pernikahan bukan sekadar kontrak dua orang, melainkan peristiwa sosial yang menyentuh banyak jiwa. Ia teringat pendapat Imam Malik yang menekankan pentingnya i‘lanun nikah—pengumuman pernikahan—agar tidak menimbulkan mudarat di kemudian hari.
Namun realitas sering kali lebih rumit daripada teori.
Sejak awal, Nenden sebenarnya ingin “pacaran” lebih dulu. Bukan pacaran yang liar, melainkan pertemuan, percakapan, dan kebiasaan saling mengenal tanpa ikatan resmi. Haekal menolak. Bukan karena ia tak menginginkan kedekatan, melainkan karena keyakinannya.
“Aku ingin pacaran setelah menikah,” katanya suatu ketika. “Agar yang kita jalani tidak menyisakan dosa.”
Ia mengutip hadis Nabi tentang kehati-hatian menjaga batas. Bagi Haekal, pernikahan adalah pagar etik, bukan pengekang cinta. Setelah diskusi panjang, Nenden akhirnya mengalah. Ia tidak keberatan—sebab dalam dirinya, ketaatan masih lebih kuat daripada kegelisahan.
Masalah sesungguhnya bukan pada Haekal.
Masalah itu bernama Iis—mamanya Nenden. Sejak awal, Iis menolak keras Nenden menikah lagi. Suaranya tegas, matanya menyimpan pengalaman panjang.
“Asuh saja anak-anak itu,” katanya. “Jangan menikah lagi. Nanti kamu terluka lagi.”
Kalimat itu bukan nasihat kosong. Ia lahir dari sejarah hidup Iis sendiri. Iis juga mengalami kegagalan pernikahan. Suaminya—ayah Nenden—tinggal bersama istri tuanya di Cipanas. Ia ditinggalkan bukan karena kurang setia, melainkan karena struktur poligami yang tak pernah memberinya ruang adil. Sejak itu, Iis membesarkan tiga orang anaknya seorang diri, mengandalkan tenaga dan harga diri.
Konon, semasa muda, Iis adalah perempuan yang amat cantik. Darah Belanda mengalir dalam dirinya—neneknya seorang perempuan bule. Wajah Barat itu menurun pada Nenden: kulit cerah, garis wajah halus, dan sorot mata yang berbeda dari kebanyakan perempuan kampung Megamendung.
Namun kecantikan, seperti kata Schopenhauer, “adalah janji kebahagiaan yang sering tidak ditepati.”
Iis tumbuh menjadi perempuan mandiri, tetapi juga keras. Pengalaman membuatnya skeptis terhadap lelaki dan institusi perkawinan. Ia menjadi cermin yang retak: kuat, namun menyimpan kecurigaan. Tanpa sadar, ia mewariskan ketakutannya kepada Nenden.
Iis menghendaki putrinya seperti dirinya—perempuan yang berdiri sendiri, membesarkan anak tanpa bergantung pada lelaki. Dalam psikologi lintas generasi, ini disebut transmission of trauma: luka yang berpindah dari ibu ke anak bukan lewat kata-kata, melainkan lewat sikap dan larangan.
Nenden berada di tengah pusaran itu.
Di satu sisi, ia memahami ketakutan mamanya. Di sisi lain, ia tidak ingin hidupnya sepenuhnya ditentukan oleh trauma orang lain. Ia percaya setiap manusia berhak mencoba kembali, meski risiko luka selalu ada.
Di Resto Cibiuk, Haekal menatap cucunya yang tertawa lepas. Ia teringat ucapan Viktor Frankl: “Manusia bukan ditentukan oleh apa yang ia alami, melainkan oleh sikapnya terhadap apa yang ia alami.”
Namun ia juga tahu, sikap yang benar menuntut kebijaksanaan yang dalam. Ia menghela napas pelan. Sambal di piringnya terasa pedas, tetapi pikirannya lebih pedih. Ia sadar, menikahi Nenden bukan hanya soal cinta dan hukum agama, melainkan juga tentang menyentuh luka perempuan lain—Iis—yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dan di antara sambal Cibiuk yang menggigit dan doa yang disembunyikan, Haekal menyadari satu hal: pernikahan ini, jika benar terjadi, bukan sekadar akad—melainkan pertemuan sejarah tiga perempuan, dan ujian bagi seorang lelaki untuk berlaku adil bukan hanya secara lahir, tetapi juga secara batin.
***


