Madu Pahit Nenden — Bagian 15: Hidayat

Must Read

Sesungguhnya Nenden telah mengenal Hidayat jauh sebelum namanya kembali muncul dalam hidupnya. Saat ia belum lama menjadi janda dan masih tinggal di Pondok Gede, seseorang pernah memperkenalkannya pada lelaki bernama Hidayat. Namun waktu—seperti hukum termodinamika dalam fisika—cenderung mengaburkan ingatan yang tak pernah diberi makna. Hidayat lupa. Nenden tidak.

Ketika mereka kembali berjumpa bertahun kemudian, Hidayat merasa perkenalan itu seperti awal yang baru. Ia jatuh hati, pelan tapi dalam, sejak dua tahun silam. Ada sesuatu pada Nenden yang membuatnya yakin: keteguhan yang tenang, kecantikan yang tidak meminta, dan jarak yang justru memancing hasrat untuk menaklukkan.

Namun Nenden tidak pernah membuka celah.

Dalam dua tahun itu, tak sedikit pun hatinya berpindah. Ia bersikap ramah, sopan, dan terbuka—tetapi tidak pernah intim. Itulah yang disebut Ronald sebagai  PHP.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ronald keliru.
Nenden tidak pernah menjanjikan apa pun.

Sebagai pedagang kecil yang tumbuh dari kerasnya hidup, Nenden memegang satu prinsip sederhana namun strategis: pantang memutus hubungan dengan siapa pun. Dalam teori jaringan sosial (social network theory), relasi adalah modal. Orang yang hari ini sekadar teman makan, bisa esok menjadi pembeli, penyambung rezeki, atau penolong di saat sempit.

Begitu pula dengan Hidayat.

Nenden tidak menolak bertemu. Ia menganggap pertemuan sebagai ruang netral—minum kopi, makan di warung, berbincang tentang harga cabai dan kemacetan Puncak. Tidak lebih. Ia tahu, dalam setiap pertemuan selalu ada makan gratis. Kadang Hidayat memberi uang transport, sekadar mengganti ongkos jalan. Bagi Nenden, itu bukan rayuan, melainkan transaksi sosial yang jujur dan tidak mengikat.

Hidayat menafsirkannya lain.

Ia yakin bisa menaklukkan Nenden. Dalam psikologi maskulinitas klasik, keyakinan semacam itu sering lahir dari ilusi kontrol—anggapan bahwa ketekunan pasti berbuah cinta. Padahal, seperti dikatakan Erich Fromm, “Cinta bukan hasil usaha menaklukkan, melainkan perjumpaan dua kebebasan.”

Dua tahun berlalu. Hidayat semakin yakin. Nenden tetap di tempatnya.

Bagi Nenden, kedekatan tanpa komitmen bukanlah pintu menuju cinta, melainkan ruang abu-abu yang harus dijaga. Ia telah belajar, dari pernikahan-pernikahan sebelumnya, bahwa relasi tanpa kejelasan sering kali menjadi ladang ketimpangan—terutama bagi perempuan.

Dalam agama, Nabi berpesan: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat.”

Nenden memilih menjauh dari wilayah syubhat itu. Bukan dengan memutus, melainkan dengan membatasi.

Hidayat tidak pernah benar-benar memahami hal itu. Ronald mungkin lebih paham, tetapi memilih diam. Dan Nenden, seperti biasa, melangkah dengan kesadaran penuh: menjaga hubungan tanpa menjual harapan, menerima bantuan tanpa menjaminkan hati.

Ia tahu, dunia sering menyalahkan perempuan yang ramah, seolah keramahan adalah janji. Padahal, seperti dikatakan Simone de Beauvoir, “Perempuan tidak dilahirkan untuk menjadi simbol harapan orang lain; ia menjadi dirinya sendiri melalui pilihan-pilihannya.”

Dan pilihan Nenden jelas: ia tidak ingin ditaklukkan, tidak ingin diselamatkan, dan tidak ingin dicintai dengan asumsi.

Hubungannya dengan Hidayat pun berhenti di situ—sebuah relasi yang berjalan di tepi, tidak masuk ke pusat. Namun pengalaman itu kelak menjadi cermin penting ketika Nenden berhadapan dengan pilihan yang jauh lebih berat: cinta yang dibingkai agama, poligami yang dibungkus dalil, dan lelaki bernama Haekal yang datang dengan niat menikah, bukan sekadar menunggu harapan tumbuh sendiri.

Karena Nenden telah belajar satu hal mendasar: perempuan yang menjaga batas sering disalahpahami, tetapi merekalah yang paling tahu harga dirinya sendiri. (Bersambung ke Bagian 16)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This