Tahun 2023 menjadi sebuah penanda penting dalam kronologi kehidupan Nenden. Dua tahun sudah ia menyandang status janda secara de facto maupun de jure setelah talak itu jatuh. Dalam sosiologi, periode dua tahun adalah masa readjustment—sebuah fase di mana seseorang mulai menata kembali struktur identitasnya yang sempat luluh lantak.
Selama rentang waktu itu, Cipayung dan jaringan digital Tanah Abang telah memberikan Nenden sebuah panggung baru. Kolega dan sahabat, yang melihat Nenden sebagai sosok wanita Pasundan dengan kecantikan yang matang—layaknya mutiara yang kian bersinar setelah diasah penderitaan—sering mencoba menjembatani hatinya dengan berbagai lelaki. Namun, Nenden telah melakukan sublimasi; ia mengalihkan seluruh energi libidinal dan emosionalnya ke dalam ekspansi bisnis.
Bagi Nenden, setiap perkenalan dengan lawan jenis diproses melalui filter pragmatis. Ia memperluas jaringan bukan untuk mencari pendamping hidup, melainkan untuk memperlebar supply chain dagangannya. Ini mengingatkan orang akan ucapan Niccolò Machiavelli: “Semua orang melihat apa yang kau tampak, tapi sedikit yang merasakan siapa kau sebenarnya.” Nenden tampak ramah dan terbuka, namun sejatinya ia sedang membangun benteng stoikisme yang sangat tinggi di sekeliling hatinya.
Di antara sekian banyak pria yang datang dan pergi, muncul sosok Hidayat. Seorang jurnalis dengan jam terbang tinggi yang memiliki perawakan khas: badan gempal, perut buncit yang seolah menyimpan segudang berita, dan sorot mata yang selalu penuh selidik. Hidayat bukanlah pria yang mengandalkan estetika visual, melainkan retorika dan kegigihan. Dalam psikologi evolusioner, Hidayat sedang mempraktikkan strategi persistence, sebuah kegigihan yang terkadang melampaui logika “tidak” dari sang target.

Nenden memperlakukan Hidayat dengan sangat baik. Sebagai jurnalis, Hidayat memiliki akses informasi dan jaringan yang luas, yang bagi Nenden sangat berguna untuk memperluas jangkauan pasar pakaian jadinya. Namun, keramahan Nenden—yang berakar pada falsafah Sunda “Someah hade ka semah” (ramah dan baik kepada tamu)—sering kali disalahartikan oleh mereka yang memiliki kepentingan hati.
Hidayat memandang keramahan Nenden sebagai lampu hijau yang berpijar terang. Baginya, setiap balasan pesan WhatsApp yang cepat, setiap senyum saat mereka berdiskusi tentang tren ekonomi, adalah sinyal proksimitas emosional. Ia merasa sedang berada dalam jalur yang benar untuk mendapatkan hati sang primadona Cipayung.
Namun, di lingkaran pertemanan mereka, ada sosok pengamat bernama Ronaldo. Dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, Ronaldo sering memberikan analisis yang berbeda. Dalam ilmu komunikasi, ini disebut sebagai misinterpretasi pesan.
“Hidayat, kau itu hanya sedang berhalusinasi,” ujar Ronaldo suatu kali saat mereka menyeruput kopi di kedai dekat pasar Cisarua. “Sikap baik Nenden itu bukan harapan. Itu hanya etika bisnis. Di dunia kita, itu namanya PHP—Pemberi Harapan Palsu. Dia butuh jaringanmu, bukan hatimu.”
Hidayat hanya terkekeh, meski ada guratan ketidaknyamanan di wajahnya. Ia percaya pada teorinya sendiri bahwa ketulusan akan mampu menembus tembok sedingin apa pun.
Nenden sendiri, di sisi lain, benar-benar tidak menyadari bahwa kebaikannya telah memicu badai di hati Hidayat. Ia lupa akan pesan Imam Shafi’i: “Keinginan untuk menyenangkan semua orang adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai.” Nenden hanya ingin menjadi manusia yang beradab (berakhlakul karimah), namun ia lupa bahwa di mata pria yang sedang jatuh cinta, sebuah sapaan pagi pun bisa dianggap sebagai janji suci.
Situasi ini menempatkan Nenden dalam posisi liminal yang berbahaya. Di satu sisi ada Andrinov yang masih merasa memilikinya dengan sisa-sisa nafkahnya, dan di sisi lain ada Hidayat yang merasa sedang memenangkan hatinya. Madu pahit itu rupanya belum habis; ia hanya berganti kemasan, dari pahitnya pengkhianatan menjadi pahitnya kesalahpahaman yang bisa meledak kapan saja.
***


