Madu Pahit Nenden — Bagian 15: Hidayat

Must Read

Sore di Cipayung itu dibasuh oleh cahaya matahari yang mulai melunak, berwarna jingga keemasan serupa madu yang tumpah di atas hamparan permadani hijau kaki Gunung Gede Pangrango. Di teras rumah, Nenden sedang merapikan daftar pesanan gamisnya ketika deru motor matik berhenti di depan pagar kayu.

Muncullah Lina. Sosok itu tampak kontras dengan suasana pedesaan yang bersahaja. Ia mengenakan jilbab putih bersih yang dipadukan dengan baju putih senada dan celana denim biru yang memberikan kesan dinamis, seolah ia adalah agen perubahan dari hiruk-pikuk kota yang tersesat di ketenangan Cipayung. Lina bukan sekadar kawan lama; ia adalah seorang arsitek sosial dalam dunia perjodohan—mak comblang yang dulu, dengan kepiawaian retorikanya, menjembatani Nenden dengan beberapa laki-laki, salah satunya Sandi.

Lina datang dengan membawa aura matchmaking yang kental. Baginya, status janda Nenden adalah sebuah variabel yang tidak boleh dibiarkan statis. Dalam sosiologi perkotaan, Lina adalah penganut teori Exchange Theory dari George Homans, di mana hubungan manusia dianggap sebagai serangkaian transaksi yang harus memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.

“Nenden, geulis…” sapa Lina, suaranya melengking membelah kesunyian sore. “Kabar burung sampai ke telingaku. Katanya kamu sudah ‘bebas’ lagi? Sayang sekali kalau kecantikan khas Pasundan ini dibiarkan layu hanya untuk mengurus paket kiriman.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Nenden tersenyum simpul, sebuah senyuman yang mengandung filtrasi emosional yang ketat. Ia teringat falsafah Sunda, “Ciri sabumi cara sadesa,” bahwa setiap tempat punya aturan, dan setiap masa punya cara. Namun, Nenden bukan lagi wanita yang sama seperti sepuluh tahun lalu.

Lina duduk di amben, matanya berbinar penuh rencana. “Ada seorang pengusaha properti di Bogor, duda mapan, saleh, dan dia mencari sosok seperti kamu. Kamu masih muda, Nen. Masa depanmu tidak boleh terhenti di sini.”

Nenden menghela napas, sebuah pelepasan beban internal pressure yang telah lama ia simpan. Ia menatap Lina dengan ketenangan seorang pengamat yang telah selesai dengan eksperimennya.

“Lina,” suara Nenden lembut namun memiliki resonansi ketegasan. “Saya sudah 33 tahun. Secara biologis, saya sedang berada di puncak kematangan, namun secara eksistensial, saya sudah melampaui fase mencari validasi melalui lelaki. Saya tidak mau lagi masuk ke dalam labirin perjodohan itu.”

Lina mengerutkan kening, seolah tidak percaya. “Tapi Nen, hidup sendiri itu berat. Ulah cicing sakali, ulah cicing sakalih, jangan diam saja tanpa usaha mencari sandaran.”

“Sandaran saya bukan lagi bahu laki-laki, Lin,” sahut Nenden. Ini mirip ucapan Virginia Woolf: “A woman must have money and a room of her own if she is to write fiction.” Bagi Nenden, ia tidak sedang menulis fiksi, melainkan menulis takdir barunya. “Saya sedang belajar menjadi otonom.” Dalam terminologi agama, Nenden ingin mencapai derajat Nafs al-Mutma’innah:  jiwa yang tenang karena cukup dengan Tuhannya, bukan karena merasa lengkap dengan pasangannya.

Nenden teringat pesan Imam Al-Ghazali bahwa terkadang kesendirian (khalwah) jauh lebih menyelamatkan daripada pergaulan yang justru menjauhkan kita dari hakikat diri. Ia melihat Ahza yang mendekatinya dan Nabila yang sedang membaca buku di dalam. Ahza sudah 5 tahun dan Nabila 14 tahun. Bagi Nenden, keberadaan mereka adalah equilibrium yang sempurna.

“Saya menghargai niatmu, Lina. Tapi biarkan saya menikmati kemerdekaan ini. Status saya mungkin terkatung-katung karena talak Andrinov yang dianggapnya bisa dirujuk hanya dengan uang, tapi secara batin, saya sudah menjatuhkan talak pada ketergantungan saya sendiri terhadap laki-laki,” pungkas Nenden.

Lina terdiam. Ia melihat aura antifragility memancar dari wajah Nenden. Mak comblang itu menyadari bahwa model perjodohan konvensionalnya tidak akan mempan pada wanita yang telah meminum madu pahit hingga ke dasarnya, lalu bangkit dengan kekuatan yang tidak lagi bisa dibeli dengan janji-janji mapan.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This