Madu Pahit Nenden — Bagian 18: Tanggal 23 Desember

Must Read

Desember kian menua, dan udara di Ciawi merangkak turun membawa aroma pinus yang basah serta uap tanah yang mendingin. Bagi Haekal, membangun masa depan dengan Nenden bukan sekadar urusan penyatuan dua raga dalam satu bingkai sakral, melainkan sebuah rekonstruksi spasial. Ia memahami secara mendalam bahwa pernikahan siri yang mereka rencanakan—yang secara hukum negara bersifat klandestin namun secara teologis bersifat syar’i—membutuhkan sebuah “zona aman”. Sebuah safe house yang mampu memisahkan antara hiruk-pikuk publik di ruko Megamendung dengan keintiman privat yang sangat ia jaga.

Beberapa hari sebelum tanggal 23 Desember, Haekal membawa Nenden ke sebuah sudut di Ciawi. Di sana, di balik rimbunnya pohon kamboja dan pagar besi yang mulai berkarat, berdiri sebuah rumah kontrakan yang bersahaja namun kokoh. Sebuah struktur bangunan yang dalam arsitektur vernakular menyediakan sirkulasi udara yang cukup untuk meredam kelembapan khas Bogor yang sering kali mencapai titik jenuh.

Nenden melangkah masuk, menyusuri lantai tegel putih yang dingin. Matanya menyapu setiap sudut dengan ketajaman seorang wanita yang terbiasa mengelola aset: dua kamar tidur yang lapang, sebuah dapur kecil dengan ventilasi yang baik, dan kamar mandi yang bersih. Baginya, rumah ini adalah bentuk nyata dari teori teritorialitas—sebuah ruang di mana ia bisa melepas atribut “Nenden sang pedagang tangguh” dan bertransformasi menjadi “Nenden sang istri”.

“Bagaimana, Dik? Apakah tempat ini cukup tenang untuk kita?” tanya Haekal, suaranya bergema lembut di ruang kosong itu, menciptakan vibrasi yang menenangkan saraf Nenden yang sempat tegang.

Milad 117 H Muhammadiyah

Nenden mengangguk perlahan. Sebuah senyum tipis terukir, menghalau sisa-isanya trauma masa lalunya. “Nenden setuju, Mas. Ini lebih dari cukup. Jauh dari kebisingan jalan utama, tapi tetap mudah diakses.”

Nenden, dengan otak bisnisnya yang selalu aktif—sebuah adaptasi dari survival mechanism setelah bertahun-tahun dihantam badai ekonomi—segera melakukan spatial programming. Ia tidak hanya melihat rumah ini sebagai tempat beristirahat atau sekadar “persembunyian”. Ia merancang ruang tamu yang cukup luas itu untuk menjadi studio live streaming.

“Mas, ruko di Megamendung saat ini sudah sangat sesak. Stok pakaian menumpuk sampai ke langit-langit, pelanggan sulit bergerak. Ruko itu sudah mengalami overcrowding,” ujar Nenden sambil berjalan menuju jendela depan. “Nabila dan Ahza akan tetap tinggal di Cipayung bersama Mama, agar pendidikan dan keseharian mereka tidak terganggu. Nenden akan berada di sini pada hari-hari tertentu bersama Mas.”

Nenden kemudian menunjuk ruang tengah yang kosong. “Di sini, Nenden rencanakan untuk live jualan busana. Cahayanya bagus saat siang hari, dan suasananya jauh lebih tenang untuk berkomunikasi dengan pelanggan  diberbagai kota. Ini akan menjadi kantor pusat baru bagi bisnis Nenden.”

Keputusan Nenden mencerminkan konsep dual-income household yang modern, di mana ruang domestik dan ruang produktif beririsan tanpa harus saling mengintervensi secara negatif. Ia ingin memastikan bahwa meskipun ia memasuki fase pernikahan baru yang penuh tantangan emosional, roda ekonominya tidak boleh berhenti. Justru, pernikahan ini harus menjadi katalisator bagi kemandiriannya.

Begitu kesepakatan sewa tercapai, keduanya mulai berbelanja kebutuhan rumah. Adegan ini laksana sebuah domestic ritual yang sangat mendasar dalam psikologi pasangan. Mereka mengunjungi pusat furnitur, memilih lemari pakaian kayu yang harum jengkol, kasur busa yang empuk untuk menjamin kualitas tidur yang selama ini terganggu, hingga peralatan dapur sederhana namun fungsional.

Setiap barang yang dibeli adalah simbol dari harapan baru. Haekal bersikeras membeli peralatan dapur yang lengkap, mulai dari kompor gas dua tungku hingga perangkat alat makan yang serasi.

“Dapur adalah jantung sebuah rumah, Dik,” kata Haekal. Ia teringat tulisan Imam Al-Ghazali dalam kitab Adab al-Akl: “Makanan yang dimasak dengan rasa cinta, dimulai dengan asma Allah, dan dikonsumsi dalam ketaatan akan menjadi cahaya bagi hati dan kekuatan bagi raga.”

Nenden memperhatikan Haekal yang sibuk memilah kipas angin untuk menghalau pengap saat siang hari. Ada rasa haru yang membuncah di dadanya, sebuah perasaan yang sudah lama asing. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa melakukan segalanya sendirian: berjuang melawan penipuan skema Ponzi Muamar, menghadapi intimidasi psikis Andrinov, hingga memutar otak setiap akhir bulan untuk membayar bunga bank. Kini, ada bahu tempat ia bersandar, ada lelaki yang memperhatikan detail kecil seperti “kipas angin agar ia tidak kegerahan”.

Dalam falsafah Sunda, apa yang mereka lakukan adalah bentuk “Ngadegkeun imah, ngawangun rasa”—mendirikan rumah secara fisik, sekaligus membangun perasaan secara metafisik. Rumah bukan sekadar susunan bata dan semen, melainkan wadah bagi rasa yang harus dipelihara agar tidak menjadi pahit seperti madu di masa lalu yang sempat ia reguk.

Saat matahari terbenam di balik siluet Gunung Salak yang angkuh, rumah di Ciawi itu sudah mulai terisi. Wangi kayu lemari baru bercampur dengan aroma pembersih lantai menciptakan suasana “kehidupan baru”. Namun, di sudut batin Nenden, masih ada getaran kecemasan yang tipis laksana benang sutra. Ia sadar bahwa rumah ini adalah rahasia besar; sebuah oase yang keberadaannya harus disembunyikan dari radar Mama Iis yang sensitif dan Andrinov yang posesif.

Kasus Nenden ini relevan dengan ucapan Viktor Frankl, sang penyintas Holocaust dalam karyanya Man’s Search for Meaning: “Cinta adalah satu-satunya cara untuk memahami manusia lain di dalam inti kepribadiannya yang paling dalam.” Nenden berharap, di rumah ini, Haekal benar-benar memahaminya sebagai manusia yang utuh, bukan sekadar “aset” atau “istri pajangan”.

“Mas,” panggil Nenden saat mereka bersiap mengunci pintu untuk kembali ke Cipayung malam itu. “Semoga rumah ini menjadi saksi, bahwa Nenden ingin memulai semuanya dengan benar, tanpa ada lagi dusta di antara kita.”

Haekal menggenggam tangan Nenden, merasakan detak nadi wanita itu yang kian stabil. “Bismillah, Dik. Tanggal dua puluh tiga nanti, rumah ini bukan lagi sekadar bangunan kontrakan yang kita isi barang. Ia akan menjadi baiti jannati—rumahku, surgaku. Mas akan menjagamu di sini.”

Di luar, kabut Ciawi semakin pekat, seolah ikut membungkus rahasia mereka dari mata dunia yang sering kali menghakimi tanpa tahu perih yang sebenarnya. (Bersambung ke Bagian 19)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This